Surat Pembaca

Minimnya Jaminan Keamanan dalam Kapitalisme

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Wa Ode Vivin (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Bak tikus mati di lumbung padi. Begitulah nasib rakyat Indonesia. Hidup miskin di tengah kekayaan negeri yang melimpah ruah. Jaminan keamanan yang hilang karena pemerintah sibuk mengurusi antek-antek asing dibandingkan dengan rakyatnya sendiri.

Seperti yang dilansir dalam republika.com. Presiden Joko Widodo menyampaikan kepada seluruh anggota G20 bahwa ada tiga kunci untuk menentukan arah pembangunan dunia, yakni stabilitas, solidaritas dan kesetaraan. Tujuannya ialah sebagai respon terhadap kondisi permasalahan global di sesi kedua Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 New Delhi, India.

Presiden Joko Widodo menyatakan saat ini dunia membutuhkan rumah yang aman. Faktanya Ada banyak problem dunia yang membuat rakyat tidak aman, bahkan justru sengsara. Bukan hanya peperangan, namun juga kemiskinan, yang merupakan konsekuensi penerapan sistem kapitalis.

Ironisnya, telah terjadi aktivitas melanggar HAM bertahun-tahun, dan warga yang telah teracuni sistem demokrasi kapitalisme, mereka menerima secara sukarela kebijakan yang dikeluarkan oleh negara. Inilah wajah asli demokrasi, kebijakan yang dikeluarkan terlahir dari pikiran yang dangkal dan nyatanya gagal mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan keamanan bagi rakyat.

Indonesia yang memiliki SDA terbanyak dari beberapa negara mulai dari migas, emas, dan tembaga. Namun sangat disayangkan tidak bisa dinikmati hasilnya oleh masyarakat sekitar. Melainkan hasilnya dinikmati oleh kapital yang meliberalisasi SDA tersebut. Begitupun dalam jaminan lowongan kerja, asing lah yang lebih diutamakan, sedang rakyat sendiri menjadi pengangguran.

Inilah wajah asli kapitalisme sekuler, menjunjung tinggi nilai kebebasan, memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme). Tidak akan selesai masalah umat jika masih menjadikan demokrasi sebagai solusi.

Demokrasi secara nyata sangat bertentangan dengan Islam, karena menjadikan kedaulatan berada di tangan rakyat, berdasarkan suara terbanyak, tidak perlu melanggar fitrah, agama dan akal sekalipun. Padahal dalam Islam yang berhak membuat aturan atau menetapkan hukum hanyalah Allah Swt.

Sedangkan untuk menunjang kehidupan ummat secara menyeluruh dan merata. Islam mengatur pengelolaan SDA. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Tiga hal yang tidak boleh dimonopoli: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain disebutkan, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Abyad bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasulullah saw. untuk mengelola sebuah tambang garam. Rasulullah saw. lalu membolehkannya. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR At-Tirmidzi)

Dari riwayat ini kita mengetahui bahwa segala bentuk tambang yang jumlahnya banyak dan menyangkut kebutuhan rakyat tidak boleh diambil alih individu ataupun swasta. Barang tambang ini meliputi garam, batu bara, emas, perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas, dan sebagainya.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Al-Mughni, yang dikutip Al-Assal & Karim (1999: 72—73), mengatakan, “Barang-barang tambang yang oleh manusia didambakan dan dimanfaatkan tanpa biaya seperti garam, air, belerang, gas, mumia (semacam obat), minyak bumi, intan dan lain-lain, tidak boleh dipertahankan (hak kepemilikan individualnya) selain oleh seluruh kaum muslim sebab hal itu akan merugikan mereka.”

Dengan demikian, dalam sistem Islam SDA yang termasuk kepemilikan umum hendaknya dikelola oleh negara. Hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat. Jika hal ini dilakukan niscaya negara akan memiliki dana yang lebih dari cukup untuk mengurusi segala kebutuhan rakyatnya. Kemiskinan ekstrem pun tidak akan pernah terjadi pada negara yang menjalankan sistem Islam secara kaffah. Yang ada hanyalah kebahagiaan, ketenangan dan kesejahteraan sepanjang hidupnya.

Wallahua’lam bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here