Oleh : Ayu Hamzah
wacana-edukasi.com, OPINI–New gaza menjadi salah satu topik hangat yang banyak dibicarakan kalangan masyarakat akibat konsep modelnya yang dinilai merefleksikan kepentingan kekuatan elit global bukan benar-benar mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dalam kacamata Islam, para pemikir harus jeli melihat fakta yang ada lalu mengaitkannya dengan pengalaman serupa Amerika dalam menangani konflik di sebuah wilayah.
Dikuti pada bbc news bahwa Amerika serikat telah mengungumkan rencana mereka untuk membangun ‘Gaza Baru’. Gaza baru atau New Gaza merupakan sebuah proyek pembangungan dari nol wilayah Palestina yang telah hancur. Presentasi proyek ini telah disampaikan pada seremoni penandatangan Dewan Perdamaian yang digagas oleh orang nomor satu Amerika Serikat sendiri Donald Trump (bbc.com 23-01-2026).
Dalam rancangannya Amerika Serikat yang diwakili oleh menantu Donald Trump Jared Kushner. Dalam presentasinya dia menjabarkan beberapa planning khusus untuk membangun beberapa gedung pencakar langit dan fasilitas publik lainnya, misal pembangunan bandara baru, pelabuhan, jalur angkutan barang dan koridor logistik penyebarangan tiga negara baru di Rafah serta jalan-jalan baru yang dapat saling terhubung di tengah pusat kota (middleeasteye.net 22-01-2026).
Selain itu pembentukan Dewan Perdamaian yang memprakarsai proyek New Gaza juga mendapat perhatian khusus karena bergabungnya beberapa negara salah satunya Indonesia. Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak lagi membatasi cakupan kerja untuk mengawasi gencatan senjata Palestina-Israel, tetapi sudah meluas dan menjadi mediasi di negara-negara konflik lainnya.
Hakikatnya pembangunan wilayah Palestina dari nol oleh Trump dengan dibangunnya Dewan Perdamaian atau Board Of Peace adalah rencana lain penjajah untuk mengendalikan Palestina dengan memastikan kekuasaan kapitalisme tetap bertengker disana. Ambisi Amerika Serikat untuk menguasai dan memegang kendali Palestina sepatutnya wajib dicurigai condong pada keberpihakan mereka kepada pihak musuh. Hal ini, diperkuat ketika perdana Menteri Israel menyatakan bahwa negara mereka siap bergabung dengan Dewan Perdamaian lewat surat yang dikirim Donald Trump.
Oleh karenanya dibalik rencana politik Trump dan negara-negara muslim lain yang tergabung di dalamnya tersirat usaha untuk menguasai sekaligus menghapus jejak genosida yang disinyalir PBB telah menghancurkan sebesar 80% bangunan di Gaza.
Perancangan New Gaza yang menyimpan siasat jahat diukir dengan dalih rekonstruksi wajah Palestina yang baru dan modern. Terlebih dengan diprakarsainya Dewan Perdamaian sebagai usaha demonstrasi pada kinerja PBB, cukup tabu dipercayai mengingat Amerika Serikat juga merupakan bagian dari PBB yang membiarkan Palestina terus menderita. Justru yang terlihat jelas saat ini, pelaku kejahatan diajak bekerja sama dengan ‘pahlawan’ untuk menyembukan luka korban tanpa melibatkan korban itu sendiri.
Fokus permasalahan rakyat Palestina bukan lagi soal pembangunan infrastruktur atau perbaikan fasilitas semata. Jauh dari pada itu umat harusnya paham yang dialami rakyat Palestina adalah bentuk genosida yang akan terus dialami hingga zionis yahudi benar-benar hengkang dari tanah Palestina. Sayangnya, sebatas mengirimkan doa, bantuan logistik dan obat-obatan tidak cukup untuk menyelamatkan tanah warisan umat muslim yang diamanahkan pada kita itu.
Saat ini wilayah Palestina atau Gaza dengan usulan rancangan terbaru negara-negara dibawah Presiden Trump tidak boleh dipercaya sebagai usaha murni untuk memulihkan Gaza dan sekitar, mengingat bagaimana cara Amerika memperlakukan wilayah-wilayah di negara konflik lain dengan cara demikian sama yaitu ikut campur dan menabur bibit-bibit sistem kapitalisme yang selama ini menjadi biang kerok.
Wilayah gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas sepihak. Efeknya bukan hanya pada bangunan dan fasilitas negara yang hancur total dalam sekejap, melainkan hilangnya beribu nyawa dan wilayah penduduk rakyat Palestina. Alhasil yang dihadapi rakyat Palestina saat ini, bukan ditangani dengan perbaikan infrastruktur saja bahkan lebih dari itu.
Umat muslim harus mempertanyakan sejauh mana upaya untuk membantu saudara kita di Palestina, kita tidak bisa membiarkan negara kafir bahkan pelaku utama atas genosida menangani masalah yang mereka buat sendiri. Allah SWT melarang umat islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir, dengan bergabung artinya kita sudah berdosa karena turut andil dalam menyusun strategi dzolim negara kafir untuk menghapus Islam dan rakyat Palestina dari wilayahnya.
Sungguh, merupakan sebuah kewajiban umat Islam untuk bantu membebaskan Palestina dari jeratan penjajah. Namun pembebasan ini sulit diupayakan karena umat sedang tidak bersatu dalam naungan yang sama. Kekosongan pemimpin Islam yang dapat memimpin pasukan dan mengusir penjajah adalah PR besar umat Islam untuk mengembalikannya. Kepemimpinan yang dinamakan Khilafah menjadi satu-satunya harapan pembebasan Al-Aqsa dan sekitar kembali pada umat Islam terkhusus Palestina. Tanpa Khilafah yang menurunkan jihad maka solusi palsu akan terus berdatangan dan menghinakan kita. Maka sudah sepatutnya, kita sebagai muslim berupaya agar jalan keluar bisa diraih salah satunya dengan memahamkan umat akan pentingnya memahami Islam Kaffah agar Allah SWT menurunkan nashroh nya pada kita dan berkesempatan menjadi umat terbaik yang di firmankannya.
Views: 17


Comment here