Oleh : Dite Umma Gaza (Pegiat Dakwah)
wacana-edukasi.com, OPINI--Diberitakan antara.com (16-07-2025), Blokade total Israel terhadap masuknya kargo, termasuk bantuan kemanusiaan, telah memperburuk krisis kelaparan dan penderitaan di Jalur Gaza. Menurut laporan OCHA, kini 71% wilayah Gaza tidak lagi dapat diakses oleh warga sipil akibat perintah pengungsian terbaru yang mencakup tambahan 7% wilayah. Daerah yang terdampak menjadi tidak layak huni, termasuk 30 lokasi pengungsian, sekolah sementara, dan infrastruktur penting seperti sumur serta fasilitas kesehatan.
Ribuan warga terpaksa mengungsi dari kawasan seperti Gaza Utara, Deir al Balah, dan Khan Younis. Namun, banyak yang kembali karena tidak ada tempat yang aman untuk dituju. Serangan terus berlanjut, bahkan terhadap sekolah PBB yang dijadikan tempat penampungan. WHO juga terpaksa mengevakuasi ratusan pasien dari Rumah Sakit Eropa di Khan Younis dalam situasi yang sangat sulit, di tengah serangan militer Israel.
Meski PBB memiliki lebih dari 9.000 truk bantuan siap masuk ke Gaza lebih dari separuhnya berisi makanan, blokade membuat distribusi tidak dapat dilakukan. Israel menuduh Hamas menyalahgunakan bantuan, namun PBB membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mereka memiliki rencana distribusi bantuan yang adil dan efektif. Waktu dianggap sangat penting untuk mencegah lebih banyak kematian akibat kelaparan dan kurangnya layanan dasar.
Di wilayah Tepi Barat, situasi juga memburuk. Di kamp pengungsi Tulkarm dan Nur Shams, lebih dari 100 bangunan dihancurkan, menyebabkan gelombang pengungsian baru. Di Jenin, sebagian warga diizinkan kembali, namun 40.000 orang lainnya masih mengungsi dan bergantung pada bantuan dari pemerintah lokal serta PBB. Krisis kemanusiaan di Palestina semakin dalam di tengah pembatasan dan kekerasan yang terus meningkat.
Kebiadaban Zionis Yahudi terhadap rakyat Gaza semakin menjadi-jadi. Deretan kejahatan yang mereka lakukan telah melampaui batas kemanusiaan, bahkan tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Tindakan mereka menggambarkan kekejaman yang sulit dipercaya dilakukan oleh makhluk bernama manusia. Kini, kelaparan pun dijadikan senjata baru dalam rangkaian panjang genosida terhadap bangsa Palestina.
Gaza, wilayah sempit yang dihuni oleh lebih dari dua juta jiwa, terus dikepung dan diblokade dari segala arah. Bantuan makanan yang masuk hanya dalam jumlah simbolik, tidak memadai untuk menopang kehidupan penduduk yang bergantung pada suplai luar. Di tengah krisis, anak-anak tumbuh dalam kelaparan, para ibu mencari makanan di antara puing-puing bangunan, dan rumah sakit kewalahan tanpa pasokan makanan bagi pasien.
Taktik menjadikan kelaparan sebagai alat genosida adalah kejahatan luar biasa yang harus dikecam oleh seluruh umat manusia. Namun sayangnya, dunia internasional lebih banyak diam atau hanya mengeluarkan kecaman basa-basi tanpa tindakan berarti. Inilah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi tidak cukup hanya dengan donasi. Dibutuhkan kesadaran politik dan perjuangan nyata untuk mencabut akar kezaliman ini yakni penjajahan Zionis yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.
Perlindungan Sistemik Negara Adidaya
Semakin nyata bahwa kekejaman Zionis tidak akan pernah berhenti hanya dengan retorika atau bantuan kemanusiaan yang bersifat tambal sulam. Mereka terus melancarkan kejahatan dengan penuh kepercayaan diri karena tahu bahwa ada kekuatan besar yang selalu membela mereka yakni Amerika Serikat.
Veto demi veto terus dikeluarkan oleh AS di Dewan Keamanan PBB setiap kali ada resolusi yang berpihak pada Palestina. Ini menunjukkan bahwa kejahatan Zionis mendapat perlindungan sistemik dari negara adidaya yang menjadikan kepentingan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, PBB yang seharusnya menjadi lembaga netral dan pelindung perdamaian dunia, justru tampil mandul dan tak berdaya.
Lebih menyakitkan lagi, ketika melihat para pemimpin negara-negara muslim justru tak menunjukkan keberpihakan yang jelas dan tegas terhadap saudara-saudaranya di Gaza. Banyak di antara mereka telah mati rasa, lebih peduli pada stabilitas kurs dan relasi diplomatik ketimbang menjalankan amanah sebagai pemimpin umat.
Seruan Allah dan Rasul-Nya untuk membela kaum tertindas, membebaskan tanah yang dijajah, dan bersatu dalam ukhuwah, seolah tak lagi menggugah hati mereka. Padahal, hanya dengan persatuan politik dan kekuatan umat yang terorganisir, penjajahan Zionis bisa benar-benar dilawan dan diakhiri secara sistemik.
Jihad dan Khilafah Solusi Hakiki
Gempuran propaganda Barat telah membentuk pola pikir umat Islam yang menjauh dari jati dirinya sendiri. Narasi bahwa umat ini lemah, tak mampu melawan, dan harus bergantung pada Barat adalah ilusi yang ditanamkan secara sistemik oleh para penguasa yang berkhianat.
Akibatnya, potensi umat dibungkam, ulama terdiam, tentara lumpuh, dan rakyat dilumpuhkan mentalnya sebelum sempat melawan. Padahal semua itu bukan karena umat tidak mampu, melainkan karena keyakinan mereka diruntuhkan secara psikologis dan ideologis.
Padahal, jika umat kembali menyadari sumber kekuatan sejatinya yakni akidah Islam yang kokoh, maka tak ada kekuatan manapun yang mampu menundukkannya.
Sejarah telah mencatat bagaimana umat Islam, dengan akidah yang lurus dan kepemimpinan yang teguh, mampu membangun peradaban besar dan menjadikan Khilafah sebagai negara adidaya dunia.
Kejayaan itu bukan dongeng, tetapi fakta sejarah yang lahir dari kesatuan umat, keberanian para pemimpin, dan ketaatan penuh kepada syariat. Kini, saatnya umat bangkit kembali dengan kekuatan yang sama, untuk membebaskan diri dari ilusi kelemahan dan kembali dengan kekuatan penentu peradaban.
Situasi tragis yang menimpa Palestina hari ini tidak boleh hanya ditangisi atau disikapi dengan emosi sesaat. Justru inilah momentum penting untuk membangkitkan kesadaran umat akan urgensi solusi hakiki yang telah ditawarkan Islam yakni jihad fi sabilillah dan tegaknya Khilafah sebagai institusi pelindung umat. Selama solusi ini tidak diperjuangkan secara serius, penderitaan rakyat Palestina akan terus berulang, hanya berganti bentuk dan cara. Kejahatan Zionis yang makin terbuka dan kejam seharusnya menjadi pemantik kesadaran, bukan sekadar bahan kemarahan.
Karena itu, penyadaran harus dilakukan secara masif, konsisten, dan terstruktur. Para dai, ulama, aktivis dakwah, serta kaum intelektual muslim memiliki tanggung jawab besar untuk menggugah umat agar kembali pada jalan perjuangan Islam yang benar. Edukasi politik Islam, kajian sejarah peradaban, serta pembongkaran konspirasi Barat dan pengkhianatan rezim harus terus digalakkan.
Hanya dengan kesadaran ideologis yang kuat, umat ini akan bergerak menuju perubahan hakiki dan tidak lagi tertipu oleh solusi palsu yang ditawarkan dunia sekuler.
Jamaah dakwah ideologis memiliki peran penting dalam memimpin umat menuju kebangkitan hakiki. Merekalah motor utama yang harus terus mengarahkan umat agar kembali pada jalan Islam secara kaffah, dan membangkitkan kesadaran akan kemuliaan yang hanya dapat diraih dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Kebangkitan pemikiran umat harus dihidupkan dengan dakwah yang berlandaskan akidah Islam, sehingga umat tidak lagi terombang-ambing oleh narasi Barat, tetapi memiliki panduan jelas untuk berjuang sesuai dengan thariqah dakwah Rasulullah saw.
Para pengemban dakwah harus terus meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi dengan umat, tidak hanya melalui argumentasi rasional, tetapi juga dengan menggugah perasaan, menumbuhkan keyakinan, dan membangun keterikatan yang kuat pada jalan dakwah. Istikamah dalam membawa risalah Islam menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan, sembari terus memperkuat hubungan ruhiyah dengan Allah. Hanya dengan ketulusan, kesungguhan, dan pengorbanan yang terus-menerus, para pengemban dakwah akan menjadi sosok yang layak mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana dijanjikan-Nya bagi para pejuang di jalan kebenaran. [WE/ik].
Views: 40


Comment here