Surat Pembaca

Kedelai Naik, Rakyat Menjerit

blank
Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com — Belum juga selesai polemik harga minyak goreng dan langkanya pasokan, kini malah ada masalah baru yaitu kenaikan harga kedelai yang mempengaruhi produksi tahu tempe dipasaran. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada harga komoditas.

Menurut Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi disela-sela gelaran World Expo 2020 Dubai, mengungkapkan harga kedelai impor tak hanya dipengaruhi oleh masalah cuaca buruk El Nina di kawasan Amerika Selatan. Harga kedelai per gantang yang semula US$. 12 dollar menjadi US$ 18 per gantang. Ini juga dipicu oleh Babi di Cina yang diberi pakan kedelai (bisnis.com, 20/2/2022).

Akibat dari masalah tersebut, harga kedelai di Indonesia ikut naik. Hal tersebut membuat para perajin tahu tempe pun mogok produksi dan menggelar aksi unjuk rasa. Tak hanya perajin tahu tempe yang merugi, penikmatnya pun gigit jari.

Kelangkaan bahan pangan ini bukan kali pertama terjadi, akan tetapi selalu berulang. Padahal kita tahu sendiri bahwa negeri Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah ruah sehingga mampu menghasilkan swasembada pangan yang besar. Namun dengan rendahnya kepedulian pemerintah dalam mengelola sumber daya alam maka rakyat tidak bisa sejahtera hidupnya.

Dalam sistem kapitalisme, rakyat pun tidak merasakan ketersediaan bahan pokok dengan cara mudah dan murah. Rakyat harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pemerintah pun tidak melakukan peningkatan pasokan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya bahkan untuk menurunkan harga pun tak tampak. Ditambah lagi tidak ada kemampuan dalam menjaga kestabilan harga bahan pangan sehingga pemerintah mengatasinya selalu dengan kebijakan impor yang jelas menguntungkan pengusaha dan pemerintah.

Sungguh rakyat menjerit dengan situasi ini. Kebutuhan pokoknya terancam tanpa ada yang peduli akibat keserakahan penguasa dan penguasa. Jelas hal tersebut berbeda dengan kepengurusan Islam. Sebagai agama sempurna, Islam mengatur seluruh problematika kehidupan manusia dari bangun tidur sampai membangun negara. Termasuk masalah kenaikan bahan pangan, salah satunya kedelai. Ada dua faktor yang mempengaruhi kenaikan harga pangan. Yang pertama faktor secara ‘alami’. Hal tersebut sebagai akibat dari gagal panen, serangan hama, dan lain sebagainya. Hal tersebut yang memacu pada kelangkaan barang. Maka Islam mewajibkan negara untuk mengatasi kelangkaan tersebut dengan cara suplay dari daerah lain.
Adapun kebijakan impor tetap harus memperhatikan produk dalam negeri.

Yang kedua karena penyimpangan hukum-hukum syariah Islam. Seperti terjadinya penimbunan (ihtikar), permainan harga (ghabn Al fakhisy), hingga liberalisasi ekonomi. Maka untuk mengatasinya pemerintah harus menuntaskan sampai ke akar permasalahannya. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw. sampai turun sendiri ke pasar melakukan inspeksi agar tidak terjadi penipuan harga (ghabn). Beliau juga melarang penipuan barang (tadlis). Seperti hadis dari Ma’mar ia berkata,

“Rasulullah SAW. bersabda: Barangsiapa yang menimbun barang maka ia bersalah (berdosa)”. (HR. Muslim)

Di samping itu, pemerintah harus memaksimalkan upaya dan mengantisipasi dengan kerja yang jelas sehingga negara punya pasokan yang memadai untuk rakyatnya, agar terpenuhi kesejahteraannya dengan memberikan sarana dan prasarana yang menunjang dalam pendistribusian perekonomian kebutuhan rakyat hingga terpenuhi secara menyeluruh.

Allah berfirman (yang artinya), “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(TQS. Al-A’raf:96).

Pemerintah dalam Islam juga akan bertindak tegas dengan memberikan sanksi pada pihak-pihak yang melakukan kecurangan dan tindakan gharar dalam perekonomian dan perdagangan tanpa pandang bulu.

Demikianlah Islam menyelesaikan masalah bahan pangan dan kebijakan ini bisa tercipta dalam penerapan aturan sistem islam secara sempurna karena Islam sudah membuktikan bagaimana mengurusi rakyatnya selama 1400 tahun lalu, hanya aturan Islam sajalah yang mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh umat manusia.

Siti Rahma (bu Rumah Tangga)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here