Surat Pembaca

Harga Sembako Melangit, Rakyat Tercekik

blank
Bagikan di media sosialmu

wacana-edukasi.com— Pusing, itulah kata yang keluar dari mulut seorang ibu ketika berbelanja karena banyak sekali harga sembako yang naik, mulai dari beras, telur, cabai, bahkan harga deterjen pun ikut naik. Mengapa hal ini terus berulang tanpa ada penyelesain?

Nataru sudah berlalu tapi harga-harga belum juga stabil, padahal menurut pemerintah, melalui Menteri Koordinator bidang Perekonomian Air Langga Hartanto, harga akan turun setelah tahun baru, pernyataannya pun diperkuat oleh Mentri Perdagangan Oke Nurwan bahwa harga minyak goreng dan sembako lainnya akan turun atau stabil setelah tahun baru. Tetapi semua itu hanyalah angan sampai hari ini minyak goreng masih mahal begitupun telur belum kembali ke harga normal.

Faktor perubahan iklim dan permintaan yang melonjak, kenaikan harga dunia dan adanya oknum-oknum yang menimbun adalah faktor yang membuat harga naik. Ketika cuaca buruk harga cabai melonjak karena banyak yang busuk sehingga pasokan berkurang, atau ketika menghadapi euphoria Ramadhan, lebaran dan Nataru masyarakat banyak membutuhkan komoditi-komoditi tersebut yang mengakibatkan harga pun melonjak.

Untuk mengatasi kelangkaan dan melonjaknya harga maka pemerintahpun melakukan operasi pasar, perencanaan strategi untuk menjamin ketersediaan pangan pun sudah dicanangkan, berbagai lembaga pun didirikan seperti bulog, badan ketahanan pangan dan lainnya. Tetapi permasalahan tak kunjung selesai.

Pemerintah pun saling tuding siapa yang bertanggung jawab, inilah salah bukti setengah hati nya para penguasa dalam melayani rakyatnya. Indonesia negeri subur makmur loh jinawi, Indonesia pun pernah digelari sebagai negeri Agraria. Tapi mengapa rakyatnya tidak sejahtera? Ini semua karena terjadi karena salah kelola, negara yang tidak bertanggung jawab penuh atas rakyatnya, mereka hanya mementingkan diri sendiri dan golongannya.

Saat ini banyak lahan disalah fungsikan, tadi nya lahan pertanian sekarang menjadi gedung-gedung pencakar langit, pintu- pintu impor dibuka seluas-luasnya sehingga petani kalah bersaing dengan barang impor. Ya karena penguasa saat ini menjalankan sistem ekonomi kapitalistik, yang punya uang dialah yang berkuasa. Islam sebagai agama yang sempurna memiliki seperangkat aturan dengan aturan-aturan itu rakyat mampu disejahterakan.

Di dalam Islam negara akan berusaha supaya memiliki kedaulatan dan kemandirian pangan, salah satunya adalah dengan menggenjot produksi supaya pasokan tetap stabil, dimana negara akan mendorong perkembangan perkebunan dan pertanian.

Dari Jabir, Rasul Saw memasuki halaman Ummu Mabad, kemudian beliau berkata, “Wahai Ummu Ma’bad siapa yang menanam kurma ini, Muslim atau kafir?” Lalu Ummu Ma’bad menjawab,”Muslim” lalu Rasul bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman lalu memakannya baik manusia atau keledai atau burung kecuali itu akan menjadi sedekah baginya hingga kiamat (HR. Muslim).

Tidak mengalihkan fungsi lahan, lahan-lahan yang diperuntukkan pertanian akan dioptimalkan penggunaannya. Mandiri dalam berbagai macam industri. Menerapkan sanksi tegas kepada pelaku penyeleweng sehingga tidak ada celah bagi para penimbun untuk melakukan kecurangan.

Hanya di dalam Islam negara akan melayani rakyat dengan sepenuh hati karena mereka mengharap ridha illahi, karena setiap kepemimpinan akan dimintai pertangung jawaban di hadapan Allah.

Khadijah

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 10

Comment here