Oleh: Asrianti, S.Si.
Wacana-edukasi.com, OPINI–Suara gempuran masih saja terdengar oleh telinga masyarakat Palestina. Entah itu dari suara rudal, bom atau berbagai tembakan dari senjata-senjata para tentara Zionis Israel. Belum lagi dengan suara sirine dan suara jeritan para korban yang bersahutan. Semuanya seolah menegaskan betapa kondisi di Palestina masih begitu mencekam.
Pihak Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa, 1 Juli 2025 telah merilis bahwa jumlah korban jiwa telah mencapai 56.647 dan korban terluka mencapai 134.105 semenjak Oktober 2023 lalu. Itupun tentu masih banyak lagi korban yang belum berhasil ditemukan oleh tim penyelamat dan keluarganya. Terbaru, Zionis Israel melancarkan serangannya kembali dan menyebabkan warga Palestina menjadi korban. Korban jiwa sebanyak 81 orang dan yang mengalami luka-luka sebanyak 422 orang. (CNBCIndonesia.com, 29-06-2025)
Dengan hancurnya sistem kesehatan di sana membuat para korban tidak dapat dievakuasi dengan baik, apalagi untuk mendapatkan fasilitas medis sangatlah sulit. Zionis Israel sengaja tidak memberikan kesempatan pada warga untuk bisa berobat dengan layak. Begitu nampak keinginan mereka untuk merebut wilayah Palestina secara keseluruhan.
Bungkamnya Penguasa Muslim
Di tengah memanasnya konflik yang tak berkesudahan ini, para penguasa negeri muslim masih seolah bungkam dengan mengambil sikap yang tidak mencerminkan seorang muslim yang sejati. Segala bentuk bantuan yang dikerahkan selama ini masih belum tepat sebagaimana yang dibutuhkan. Ditambah kecaman mereka terhadap Israel yang seakan-akan hanya retorika semata.
Buktinya, berbagai langkah telah diambil oleh sejumlah negara demi menormalisasi hubungan mereka dengan Israel. Termasuk menambah luas cakupan dari kesepakatan Abraham Accords yang menjadikan negara Arab akan semakin melancarkan hubungan mereka dengan entitas Zionis melalui jalinan hubungan diplomatik. Mereka diarahkan untuk mewujudkan solusi dua negara antara Palestina dan Israel.
Begitupun yang terjadi di Indonesia, pihak pemerintah kita juga mengambil sikap yang sama. Terlihat dari penyampaian Presiden Prabowo sebelumnya yang dengan jelas mengatakan bahwa posisi negara Indonesia dalam permasalahan ini cukup terbuka. Dimana Indonesia siap menjalankan hubungan diplomatik dengan Israel jika pihak Israel mengakui kemerdekaan atas Palestina. Itu artinya Indonesia menyetujui solusi dua negara atas genosida yang terjadi di Palestina.
Hal ini jelas melukai hati banyak kaum muslim, dimana kondisi di Palestina masih dalam keadaan kacau dikarenakan serangan Zionis Israel. Namun, pemerintah justru mengambil sikap membolehkan Israel menduduki wilayah Palestina yang pada dasarnya bermakna menerima penjajahan atas Palestina. Jelas solusi ini lebih berpihak kepada Israel dan sekutunya.
Negara Iran yang sebelumnya juga dengan resmi memproklamirkan perang secara terbuka dengan Israel. Hal itu akhirnya menyita perhatian warga global. Dunia kembali mengakui akan kehebatan dari ketahanan dan kemandirian teknologinya. Israel yang dahulu melakukan serangan udara ke Iran akhirnya dibalas oleh Iran dengan meluncurkan ratusan rudal ke Tel Aviv, Haifa, dan fasilitas militer Israel.
Iran bahkan berhasil mendapatkan dukungan moril yang besar karena keberaniannya menentang Israel. Meskipun pada akhirnya narasi anti-Israel terlihat kembali menjadi sebuah simbolik semata dan tidak berujung pada perjuangan kaum muslim yang sesungguhnya. Iran hanya mempertahankan negaranya sendiri. Bukan murni ingin menghapus Zionisme di muka bumi ini.
Perjuangan di Palestina telah banyak merubah tatanan dunia. Dalam hal ini banyak warga dunia yang telah menyadari bahwa apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina adalah murni bentuk penjajahan yang dilakukan oleh entitas Zionis Israel dan sekutunya.
Selain itu, telah terbukti pula bahwa penjajahan ini mendapatkan dukungan dari Amerika selaku negara adidaya yang senantiasa memiliki peranan besar di balik genosida tersebut. Dukungan itu dari segala sisi, baik politik, ekonomi, dan persenjataan mereka.
Berbagai macam resolusi yang diberikan untuk Palestina selalu dibatalkan oleh Amerika dalam rapat PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Amerika dan sekutunya seakan tidak pernah lengah untuk mencari jalan dalam melancarkan rencana para kaum Zionis.
Mata dunia akhirnya kembali tertuju pada Palestina. Terlihat dari besarnya gelombang aksi yang dilakukan oleh warga lintas dunia. Aksi Global March to Gaza yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2025 itu dengan berjalan menuju perbatasan Rafah, Gaza. Ini merupakan gerakan solidaritas yang lahir karena keprihatinan orang-orang atas kondisi di Palestina. Sekalipun aksi ini tentu masih berdasarkan kemanusiaan semata dan ternyata terbukti tidak mampu menghentikan para Zionis dalam melancarkan serangannya.
Menghadirkan Kepemimpinan Islam
Berbagai bentuk dukungan dan bantuan yang selama ini diberikan oleh dunia internasional, termasuk dari negara muslim juga. Namun, tidak mampu menghentikan penjajahan ini. Umat Islam harus menyadari akar masalahnya dengan menggunakan perspektif Islam, bukan dengan tendensi kemanusiaan, melainkan atas akidah kaum muslim itu sendiri. Dimana dalam Islam memang melarang adanya penjajahan. Bahkan dengan jelas Rasulullah saw. menyampaikan,
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu, umat harus diingatkan bahwa penyebab dari berbagai kezaliman atas umat saat ini karena lemahnya kaum muslim, akibat tidak adanya persatuan umat. Padahal Islam melarang adanya perpecahan. Sementara yang kita lihat saat ini kaum muslim di seluruh dunia telah begitu lama mengalami perpecahan. Bagaikan anak ayam yang terpisah dari induknya. Kaum muslim tersekat oleh negara-negara melalui paham nasionalisme yang menjadi senjata Barat untuk melemahkan Islam.
Sudah saatnya kita bersatu dan berdaulat atas negara kita sendiri dengan menghadirkan kepemimpinan Islam. Sebagaimana dalam sejarah Rasulullah saw. yang mewariskan kepemimpinan Islam kepada para sahabat dan seterusnya. Melalui pemimpin ini akan menyatukan semua kekuatan kaum muslim seluruh dunia dan menjadi komando dalam tiap perjuangan umat. Termasuk mengambil alih tanggung jawab dalam mengerahkan umat untuk membebaskan penjajahan atas kaum muslim di Palestina.
Saatnya umat sadar bahwa yang bisa membawa perubahan adalah kita sendiri sebagai kaum muslim. Umat harus optimis bahwa kemenangan atas kaum muslim adalah keniscayaan. Dengan persatuan dan kesadaran akidah Islam, umat akan mudah menghentikan semua tindakan penjajahan melalui perjuangan jihad.
Kita tidak bisa lagi berharap dari para pemimpin negara muslim yang ada saat ini. Sudah tujuh puluh tahun lebih dari masa ke masa, para pemimpin itu hanya bisa mengutuk tindakan kaum Zionis. Namun, tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti. Padahal dengan jumlah kaum muslim dunia yang begitu banyak dan dengan dukungan teknologi militer saat ini menjadi modal besar bagi kaum muslim.
Saat ini, tugas kita dengan bersatu dan bersepakat untuk memberikan dukungan dan terlibat aktif dalam menghadirkan kepemimpinan Islam dalam tataran global. Karena itu, satu-satunya solusi terbaik untuk menghentikan penjajahan di Palestina, termasuk di berbagai negara muslim yang mengalami penjajahan saat ini adalah dengan mengusir para penjajah melalui Jihad di bawah komando pemimpin kaum muslim. [WE/IK].
Views: 30


Comment here