Oleh: BundiTyas (Penggerak Literasi)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Setiap 22 Oktober, halaman pesantren di banyak daerah mendadak ramai. Ada upacara, kirab, lomba hadroh, sampai pertandingan sepak bola antarpondok. Tahun ini Kementerian Agama mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, seperti diberitakan RRI. Jumlah santri yang dirayakan juga tidak sedikit. Menurut data Kementerian Agama per Oktober 2026, santri yang tercatat satu per satu lengkap dengan nama dan alamatnya mencapai 4.634.406 orang, tersebar di puluhan ribu pondok pesantren.
Sebagai ibu yang sudah melepas dua anak ke pondok, dan sampai hari ini masih punya dua anak lagi di pondok, saya ingat betul apa yang selalu saya panjatkan dalam doa. Saya menitipkan anak-anak ke pesantren bukan hanya agar menjadi penghafal Al-Qur’an. Saya berharap mereka menjadi barisan terdepan pembela agama Allah, penjaga risalah Rasulullah, membawa ilmu yang menerangi sekitarnya, dan berani berdiri di atas kebenaran. Doa serupa tentu juga dipanjatkan para wali santri lain. Karena itu wajar jika kita bertanya, masih adakah ruh itu dalam peringatan Hari Santri saat ini?
Tanggal 22 Oktober tidak dipilih asal. Pemerintah menetapkannya melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 untuk mengenang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Waktu itu para ulama berfatwa bahwa melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa adalah kewajiban. Santri dan rakyat bergerak karena fatwa itu. Dari peristiwa ini kita bisa melihat di mana sebenarnya posisi santri. Mereka tidak sedang meramaikan acara. Mereka ikut menentukan arah, sebab yang mereka pegang adalah hukum syara’ yang disampaikan para ulama.
Delapan puluh satu tahun berselang, gambaran santri yang diharapkan mulai bergeser. Menjelang Hari Santri, daftar harapan yang beredar di media cukup panjang. Santri diminta melek teknologi, punya usaha sendiri, kreatif, gampang menyesuaikan diri, dan tetap memegang agama sambil menjaga semangat kebangsaan. Kemampuan semacam itu tentu bukan masalah. Banyak ulama terdahulu yang juga dikenal sebagai dokter, ahli falak, dan pedagang. Yang perlu dicermati adalah siapa yang menentukan ke mana semua kemampuan itu diarahkan. Begitu santri diposisikan sebagai sumber daya manusia untuk menyukseskan pembangunan, ukuran keberhasilannya ikut berubah pelan-pelan. Santri dianggap berhasil kalau produktif dan berdaya saing. Sementara itu, santri yang memahami fikih lalu menimbang kebijakan publik dengan kacamata syariat jarang dijadikan teladan. Santri diajak menguatkan negeri, tetapi jarang diajak bertanya apakah arah negeri ini sejalan dengan tuntunan Allah.
Padahal tugas para penuntut ilmu agama sudah Allah tetapkan. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” (QS At-Taubah: 122)
Ayat ini menunjukkan bahwa memperdalam agama selalu berpasangan dengan memberi peringatan kepada kaum. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Beliau juga bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Warisan para nabi itu mencakup ilmu sekaligus keberanian menjaga umat dan meluruskan penguasa.
Sisi inilah yang sering tidak muncul dalam daftar harapan resmi. Santri dirayakan, tetapi suara ulama dalam urusan publik kerap baru dicari ketika dibutuhkan untuk memberi legitimasi. Kalau kesadaran ini tidak dibangun, Hari Santri mudah berhenti sebagai agenda tahunan. Lomba dan kirab memang menyenangkan. Hanya saja, keramaian tidak otomatis menumbuhkan pemahaman tentang untuk apa seorang santri menuntut ilmu.
Saya juga tergelitik oleh kata “kebangsaan” yang selalu menempel dalam harapan itu. Rasa sayang dan cinta pada tanah air memang fitrah, dan Islam tidak memadamkannya. Namun Islam juga mengikat kaum muslimin dengan ikatan yang lebih luas dari garis batas negara. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hari-hari ini, seperti dilaporkan Al Jazeera, petani zaitun di Tepi Barat Palestina terus diserang justru di musim panen. Santri semestinya merasakan luka itu sebagai luka sendiri. Sejarah Islam mencatat persatuan umat lintas bangsa pernah nyata di bawah satu kepemimpinan, sejak Rasulullah memimpin Madinah hingga masa para khalifah sesudahnya. Wawasan ini penting dikenalkan kepada santri, supaya cinta mereka pada negeri tumbuh di dalam cinta kepada umat.
Lantas dari mana kita bisa mulai? Pesantren perlu terus menjaga tujuan asalnya, yaitu tafaqquh fiddin, memahami agama secara mendalam untuk diamalkan dan didakwahkan, bukan sekadar dihafal untuk ujian. Pendidikan santri perlu membentuk kepribadian Islam secara utuh, yakni cara berpikir dan cara bersikap yang sama-sama bersandar pada akidah. Bekal semacam itu yang membuat seorang santri tetap tahu untuk siapa ia bekerja, secanggih apa pun alat yang ia pegang. Kita sebagai orang tua dan masyarakat juga punya pekerjaan rumah. Jangan buru-buru menilai lulusan pondok dari gaji pertamanya. Perlu juga kita lihat seberapa ia peduli pada urusan umat, dan seberapa berani ia menyampaikan kebenaran.
Empat setengah juta santri adalah titipan Allah bagi negeri ini. Bayangkan jika anak muda sebanyak itu menuntaskan pendidikannya di pondok lalu pulang ke masyarakat sebagai penerus ulama, bukan sekadar pencari kerja. Mereka akan menjadi pembela agama Allah dan penjaga risalah Rasulullah di setiap kampung, dan dari sanalah kemuliaan umat bisa kembali. Semoga Hari Santri tahun ini mengingatkan kita bahwa yang sedang dirayakan adalah sebuah tugas. Tugas itu dulu pernah mengubah sejarah, dan dengan izin Allah akan kembali melahirkan peradaban yang cemerlang di bawah naungan Islam.
Views: 0


Comment here