Wacana-edukasi.com, SURATPEMBACA–Nirempati. Diksi ini paling tepat untuk menggambarkan perilaku tone deaf para penguasa hari ini. Di saat rakyat Kalimantan sesak napas karena asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang tersorot justru aktivitas pribadi pejabat dan keluarganya yang dinilai salah waktu.
Video istri Gubernur Kalimantan Tengah tampil dalam fashion show Kriyanusa 2026 yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Jakarta Convention Center menuai badai kritik publik. Acara tersebut dianggap tidak peka karena beredar saat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla yang disebut warganet menembus 100 ribu jiwa (TribunTrends.com, 11/10/2026).
Beberapa bulan sebelumnya, suguhan yang tak kalah menyesakkan juga viral. Akun resmi organisasi perangkat daerah (OPD) yang seharusnya menjadi corong informasi dan pelaksana urusan pemerintahan, termasuk penanganan karhutla, justru ramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun kepada istri Gubernur Kalimantan Tengah di berbagai linimasa (Kompas.com, 01/09/2026).
Tak kalah miris, publik kembali menyoroti potret Gubernur Kalimantan Timur yang terciduk bersama sang istri di Singapura, tepatnya di kawasan Marina Bay Sands, saat daerah kekuasaannya diselimuti asap. Meski Pemprov Kaltim menjelaskan perjalanan tersebut untuk medical check-up di RS Mount Elizabeth dengan biaya pribadi dan telah mengantongi izin Menteri Dalam Negeri, momen yang bertepatan dengan ajang balap Formula 1 di Singapura itu terlanjur melukai perasaan masyarakat (KompasNews.id, 13/10/2026).
Bagai enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing. Peribahasa ini cukup menggambarkan tabiat pemimpin dan keluarganya hari ini. Mereka hanya memikirkan kepentingan dan kenyamanan diri sendiri, tanpa peduli kesusahan rakyat dan lingkungan sekitar.
Di sisi lain, saat kelas menengah harus downgrade dari mantab (makan tabungan) menjadi maut (makan utang) demi bertahan hidup, kini mereka juga harus menelan pil pahit melihat tingkah laku pemimpinnya yang nirempati.
Dalam kepemimpinan demokrasi kapitalisme, jabatan tidak dipandang sebagai amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, melainkan sebagai keistimewaan untuk menikmati kemewahan dan pencitraan. Standar bahagia mereka adalah materi, gengsi, hedonisme, dan jumlah like di media sosial.
Wajar jika empati menjadi barang langka, karena tolok ukurnya bukan rida Allah, melainkan sorotan kamera dan tepuk tangan. Rakyat dibiarkan menghirup asap beracun, sementara elite sibuk mempertontonkan kesenangan dan gaya hidup di media sosial.
Islam memiliki potret pemimpin yang sangat berbeda. Pemimpin Islam merasakan derita rakyat sebagai deritanya sendiri. Lihatlah Khalifah Umar bin Khattab yang rela memikul sendiri karung gandum di tengah malam untuk rakyatnya yang kelaparan. Tindakan Amirul Mukminin bukan untuk pencitraan, melainkan sebagai bentuk kewajibannya terhadap umat. Beliau bahkan takut jika ada keledai terperosok di jalan Irak, karena paham kelak akan ditanya Rabb-Nya tentang amanah yang dipikul.
Islam mengharamkan gaya hidup mewah bagi penguasa. Khalifah hidup zuhud dan sederhana serta sangat berhati-hati dalam penggunaan harta. Harta negara bukan untuk kebutuhan pribadi dan keluarga, apalagi untuk pamer dan pesta, melainkan untuk mengurus umat. Tidak ada cerita para mu’awin (pembantu) Khalifah yang sibuk mengurusi urusan pribadi keluarga pemimpin, karena semua perangkat negara dikerahkan untuk mengatur dan mengawasi urusan umat.
Khalifah hadir totalitas di tengah umat, termasuk saat terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bencana seperti ini dicegah dengan sistem pengelolaan hutan berbasis syariat. Dalam Islam, hutan bukan semata komoditas ekonomi, melainkan amanah yang harus dijaga demi kemaslahatan manusia dan makhluk hidup. Merusak lingkungan adalah haram. Korporasi pembakar hutan diberi sanksi tegas. Seluruh kekuatan negara, seperti tentara, dokter, tenaga kesehatan, dan relawan dikerahkan untuk penanganan bencana. Dana Baitul Mal dikeluarkan untuk kebutuhan rakyat tanpa harus menunggu viral terlebih dahulu.
Inilah perbedaan yang sangat kontras. Dalam sistem sekuler, jabatan melahirkan jarak antara penguasa dan rakyat. Dalam Islam, jabatan justru melahirkan rasa takut yang luar biasa akan hisab Allah. Jika satu rakyat saja sesak karena asap, pemimpin Islam merasa asap itu menyesakkan dadanya sendiri. Karena itulah, dalam Islam tak ada ruang bagi pemimpin untuk nirempati.
Jelas, tone deaf bukan sekadar salah waktu atau kurang etika individu, melainkan buah busuk dari sistem sekuler yang melahirkan pemimpin yang buta dan tuli terhadap rintihan rakyat.
Asap karhutla dan rintihan kelas menengah hari ini adalah alarm keras. Kesejahteraan dan pemimpin yang peka hanya akan lahir ketika sistem Islam kafah diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyah.
Nurmilati
Aktivis Muslimah Bogor
Views: 2


Comment here