Oleh: Lely Nv (Aktivis Dakwah Generasi Peradaban Islam)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Denting gencatan senjata belum lagi reda, bau mesiu sudah kembali memenuhi udara Gaza. Hanya berselang hitungan hari setelah pengumuman gencatan, kelompok bersenjata yang diduga terafiliasi Zionis Israel sudah menghujani peluru warga sipil dan pengungsi yang berusaha pulang. Salah satu korbannya adalah Saleh Aljafarawi (28), seorang jurnalis pemberani yang fisiknya tak pernah lelah menyiarkan realita pilu Gaza ke seluruh penjuru mata dunia. Ia menjadi martir ditembus peluru kelompok yang diduga terafiliasi Zionis saat meliput bentrokan di Sabra, Kota Gaza. Kabar yang menyayat hati, dikutip dari DetikNews.
Reuters pun melaporkan, meski gencatan senjata resmi dimulai Jumat (10/10/2025) dini hari, “perdamaian” itu seolah hanyalah ilusi. Gaza masih menjadi ladang pembantaian. Media sosial menjadi saksi bisu, penembakan keji terhadap warga sipil dan jurnalis terus berlanjut bagai ritual harian yang tak pernah diadili.
Di tengah ketidakberdayaan umat memenangkan perang fisik, satu-satunya senjata pamungkas yang harus direbut umat Islam saat ini adalah perang pemikiran. Inilah benteng terakhir untuk melawan narasi propaganda deradikalisasi dan terorisme yang seringkali dilekatkan pada umat Islam.
Namun, harapan itu seperti disiram air dingin. Patah di ujung tanduk oleh pernyataan Presiden Indonesia di Sidang Umum PBB, New York (23/9/2025). Dengan tegas beliau menyatakan, “kita juga harus memiliki Palestina yang merdeka tapi juga harus mengakui dan menjamin keselamatan dan keamanan Israel.”
Pernyataan ini seolah teka-teki di tengah genosida. Mengapa entitas Zionis Israel, si algojo yang menghancurkan Gaza dan melakukan pemusnahan sistematis, justru dilindungi keamanannya? Sementara darah warga Gaza terus mengalir, justru sang penjajah yang dapat jaminan. Alih-alih menghentikan genosida, sikap lunak semacam ini bisa menjadi pupuk bagi arogansi Zionis. Adapun promosi “Solusi Dua Negara” dalam bingkai seperti ini bukanlah kemenangan diplomasi, melainkan kekalahan narasi dan bukti ketundukan penguasa pada tekanan politik global yang busuk.
Semakin membuktikan buah penerapan sistem internasional dari sistem kapitalisme-sekuler yang berpondaskan kepentingan dan keuntungan hanya ada kompromi kejahatan. Empati dan akal sehat menjadi fitur yang rusak. Jika empati dan akal sehat tak mampu membebaskan Gaza sepenuhnya, maka hanya soal waktu sebelum wilayah Muslim lain diperlakukan sama.
Solusi Dua Negara: Legalisasi Untuk Perampokan?
Solusi ini adalah tragedi yang dibungkus ironi. Mengakui kemerdekaan Palestina di atas puing-puing 70-80% wilayah historisnya yang telah dicaplok, sama halnya dengan merestui perampokan dan memberi cap “legal” pada kejahatan.
Alasannya semakin nyata. Kompas.com memberitakan, PBB mengungkap ada 158 perusahaan dari berbagai negara terlibat dalam pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat dan Yerusalem. Mereka bergerak di bidang konstruksi, real estate, hingga pertambangan.
Dengan adanya kepentingan ekonomi yang sedemikian masif ini, wajar jika kemudian beberapa negara vokal mendukung Solusi Dua Negara. Namun, pertanyaan mendasarnya, untuk siapakah solusi ini sebenarnya? Untuk kemerdekaan Palestina ataukah untuk mengamankan investasi dan kepentingan ekonomi mereka?
Pengakuan terhadap Palestina pun seakan terasa hampa. BBC News mencatat, hingga September 2025, 156 dari 193 anggota PBB telah mengakui kedaulatan Palestina. Namun, apa arti pengakuan jika hanya berhenti di kertas? Palestina tetap merana. Koalisi darurat dan dukungan keuangan terbukti tak lebih dari plester di atas luka menganga, tak menyentuh akar penjajahan.
Lantas, masih pantaskah kita berharap pada sistem kapitalisme-sekuler yang nyata-nyata jahat dan gagal? Sejak 1948, Palestina dirampas. Kecaman internasional berdatangan, gelombang protes warga global membahana. Namun, selama negeri-negeri Muslim masih berkubang dalam sistem yang sama, mengekor pada mekanisme politik AS, apakah hasilnya akan berbeda? Ataukah hanya seperti memutar roda di tempat?
Sistem Islam sebagai Solusi Fundamental
Sistem internasional yang diadopsi hampir di seluruh negeri muslim realitanya menjadi mesin pemelihara penjajahan. Untuk meraih kemenangan secara menyeluruh, umat harus yakin, hanya Sistem Islam lah yang memandang Palestina sebagai tanah wakaf umat Islam dan haram diserahkan sejengkal tanahnya.
Islam sebagai aqidah siyasiyah (akidah yang mencakup politik) memiliki solusi fundamental dan menyeluruh. Allah SWT berfirman: “Kutiba ‘alaikumul-qital” (Diwajibkan atas kamu berperang). – QS. Al-Baqarah: 216. Ayat ini menegaskan kewajiban berjihad fi sabilillah sebagai bentuk pembelaan tertinggi dan haibah (kemuliaan) bagi umat Islam.
Seruan jihad alias berperang yang dimaksud dalam Al Qur’an bukan aksi barbar. Ia memiliki koridor etika yang jelas, yakni wanita, anak-anak, bahkan tumbuhan dilindungi. Bandingkan dengan kekejaman Zionis yang membidik rumah sakit, sekolah, masjid, dan gereja. Blokade yang mencekik Gaza dan tekanan politik AS kepada Mesir untuk memperketat Rafah adalah bukti nyata bagaimana sistem sekuler membelenggu solidaritas umat.
Solusi Kongkret Sistem Islam:
Pengerahan Pasukan Muslim yakni Jihad Fi Sabilillah untuk membebaskan Palestina menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam. Adanya negeri-negeri muslim dengan kekuatan militernya seperti: Turki, Pakistan, negeri Jazirah Arab dan Indonesia wajib mengerahkan pasukannya. Ini menjadi kekuatan nyata dari kewajiban kolektif yang bisa dilakukan. Bukan sesuatu yang mustahil jika bersatunya kekuatan militer, ekonomi dan sumber daya manusia negeri-negeri Muslim, niscaya akan jauh melampaui zionis Israel.
Persatuan di bawah naungan Khilafah, sejarah pernah mencatat perang pembebasan Al-Quds dapat dimenangkan dalam waktu singkat ketika umat bersatu. Oleh karena itu, menegakkan Khilafah Islamiyah, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah bukanlah utopia, melainkan keniscayaan. Khilafah adalah institusi pelindung yang akan mempersatukan umat di bawah satu kepemimpinan untuk melawan penjajahan.
Solusi Dua Negara hanyalah jalan buntu yang disulam oleh pengkhianatan. Sistem sekuler-kapitalis telah membuktikan kegagalan totalnya. Hanya dengan kembali kepada Sistem Islam, di bawah naungan Khilafah, pembebasan menyeluruh Palestina bukan sekadar mimpi, tetapi takdir yang harus diperjuangkan.
Views: 9


Comment here