By’SN (Pencari Rahmat-Nya)
Wacana-edukasi.com, PUISI–
Wahai jiwa yang lelah menengadah,
Mengapa kau kira langit itu tuli?
Setiap doamu tak pernah jatuh sia-sia,
Ia terbang, ia singgah, ia menetap di sisi Arsy Ilahi.
Allah Maha Mendengar, sebelum kau sempat berkata,
Allah Maha Melihat, sebelum airmata sempat jatuh.
Lalu mengapa kau ragu Dia akan mengabulkan?
Bukankah Dia sendiri yang berjanji: Berdoalah, Aku pasti menjawabmu.
Oh, bukan Dia tak ingin mengabulkan,
Hanya saja Ia terlalu sayang untuk tergesa-gesa.
Jika kau minta bunga, Ia ingin beri taman.
Jika kau minta setetes, Ia ingin beri samudera.
Ada doa yang Ia kabulkan di detik itu juga,
Seperti embun yang jatuh di pagi buta.
Ada doa yang Ia simpan di langit ketujuh,
Menjadi payung yang menaungimu dari musibah yang tak kau tahu.
Ada doa yang Ia tunda hingga kau lebih dewasa,
Sebab jika Ia beri sekarang, kau akan binasa.
Ada doa yang Ia ganti dengan keindahan lain,
Sebab yang kau pinta adalah luka, sedang yang Ia siapkan adalah obat.
Wahai perindu yang tak tahu kapan…
Jangan ukur kasih-Nya dengan jam dindingmu,
Jangan paksa waktu-Nya mengikuti maumu.
Waktu kita adalah detik yang terburu,
Sedang waktu-Nya adalah keabadian yang penuh kasih dan jitu.
Tugasmu bukan mengatur kapan dikabulkan,
Tugasmu hanyalah terus mengetuk pintu dengan keikhlasan.
Teruslah berbisik, meski suara parau,
Teruslah menangis, meski dunia tak tahu.
Karena di suatu fajar yang tak kau duga,
Di suatu sujud yang paling rapuh,
Doa yang dulu kau kira telah dilupakan langit,
Akan pulang kepadamu dengan cara yang paling indah dan utuh.
Dan saat itu kau akan tertegun, lalu berbisik lirih:
Ternyata Allah tidak pernah telat, hanya aku yang terlalu cepat ingin melihat.
Views: 3


Comment here