Oleh: Risna Ummu Zoya (Aktivis Muslimah Kalsel)
Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Di tengah sorotan publik terhadap arah pendidikan nasional, Ketua PCNU Kota Banjarmasin menyatakan, “NU mendukung upaya Kementerian Agama untuk menciptakan pendidikan yang lebih manusiawi dengan menanamkan nilai kasih sayang, toleransi dan kepedulian antar sesama.” Ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru menjadi kunci agar kurikulum cinta mampu membangun budaya dialog, sikap inklusif, dan penghormatan terhadap keberagaman (Antaranews.com, 4/9/2025). Dukungan tersebut disampaikan dalam konteks dorongan agar Madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai karakter. PCNU Banjarmasin bahkan menekankan bahwa guru berperan penting sebagai agen perubahan yang bisa menginternalisasikan kurikulum cinta secara nyata di ruang kelas.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, PCNU Banjarmasin pada hari yang sama menggelar pelatihan guru Aswaja dan ke-NU-an dengan tema “Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah.” Dalam kesempatan itu, Ketua PCNU Kota Banjarmasin menyampaikan bahwa “Implementasi panca cinta – cinta kepada Allah, Nabi, ilmu, orang tua dan tanah air – harus diwujudkan melalui penguatan kompetensi guru sebagai agen perubahan” (Amnesia.id, 4/9/2025).
Fenomena ini menunjukkan bahwa wacana kurikulum berbasis cinta memang kembali mencuat, terutama dalam forum-forum pelatihan guru yang diadakan oleh berbagai organisasi, termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Ide tersebut lahir dari keresahan bahwa dunia semakin jauh dari ruh kasih sayang, kepedulian, dan nilai kemanusiaan. Kekerasan antarsiswa, lemahnya akhlak generasi, hingga menurunnya kepedulian sosial kerap dijadikan bukti bahwa pendidikan modern kehilangan orientasi mendasar. Dalam situasi demikian, jargon cinta dianggap mampu mengembalikan kehangatan relasi guru-murid dan membangkitkan semangat belajar. Tidak heran jika gagasan ini mudah diterima oleh sebagian kalangan, karena secara sepintas tampak menawarkan solusi sederhana atas persoalan kompleks.
Namun persoalan mendasar yang sering luput dibahas adalah kerangka besar dari sistem pendidikan itu sendiri. Selama pendidikan masih berlandaskan paradigma sekuler, guru akan diperlakukan sebatas pelaksana teknis yang menjalankan instruksi kurikulum negara tanpa ruang untuk menanamkan ruh keimanan. Padahal, guru sejatinya adalah sosok pembimbing peradaban, bukan sekadar pengajar materi pelajaran. Ketika peran guru direduksi menjadi aparatur administratif, maka nilai kasih sayang, kepedulian, dan cinta yang diusung dalam wacana kurikulum tidak akan lebih dari sekadar retorika. Akhirnya, pendidikan berjalan tanpa arah ideologis yang jelas, sehingga guru maupun siswa tidak menemukan pijakan kokoh dalam membangun kepribadian yang utuh.
Inilah kelemahan serius dari gagasan kurikulum cinta yang diusung oleh berbagai organisasi. Cinta yang dimaksud seringkali dipahami sebatas pendekatan emosional, misalnya guru dituntut bersikap ramah, lembut, dan penuh empati kepada murid. Tidak salah memang, tetapi tanpa landasan ideologis yang kokoh, cinta itu mudah tereduksi menjadi slogan indah tanpa daya ubah. Guru bisa saja tampil hangat dalam keseharian, namun tetap terikat oleh kurikulum sekuler yang menekankan capaian kognitif dan standar materialistis. Akibatnya, dunia pendidikan tidak beranjak dari masalah lama: melahirkan generasi yang cerdas secara akademis, tatapi rapuh dalam kepribadian dan miskin orientasi hidup.
Islam menawarkan pandangan berbeda yang jauh lebih mendalam. Dalam kerangka Khilafah, guru ditempatkan pada kedudukan yang sangat mulia, bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi juga pembentuk syaksiyah Islamiyah bagi generasi. Orientasi pendidikan tidak semata mengejar keterampilan teknis, melainkan membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berilmu. Kurikulumnya dibangun di atas akidah Islam, sehingga setiap mata pelajaran diarahkan untuk menguatkan hubungan manusia dengan Allah SWT. Selain itu, guru dijamin kesejahteraannya oleh negara agar dapat fokus mendidik dengan penuh rahmah, sementara relasi guru-murid berlandaskan cinta sejati, yakni cinta kepada Allah, Rasul-Nya, ilmu, dan generasi penerus umat.
Dengan demikian, jelas bahwa kurikulum berbasis cinta tidak akan pernah menghadirkan solusi hakiki jika masih diletakkan dalam kerangka sekuler. Guru akan terus dibebani administrasi dan tekanan ekonomi, sementara ruh pendidikan tetap mati suri. Sebaliknya, ketika pendidikan dikembalikan kepada sistem Islam di bawah naungan Khilafah, cinta bukan lagi sekadar jargon, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh proses belajar-mengajar. Cinta kepada Allah, cinta kepada ilmu yang benar, dan cinta kepada generasi menjadikan pendidikan sebagai jalan lahirnya peradaban mulia. Maka solusi sejati bagi krisis pendidikan hari ini bukan sekadar pelatihan guru dengan slogan manis, melainkan perubahan sistematik menuju pendidikan Islam yang kaffah.
Views: 28


Comment here