Penulis: Nidya Lassari Nusantara
Wacana-edukasi.com, OPINI — Setiap tanggal 17 Agustus tahun 2026 Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan selama 81 tahun. Angka 81 tahun merdeka tercatat menurut hitungan kelender tapi belum tentu tertulis di nasib rakyatnya. Merayakan kemerdekaan, sementara masih banyak rakyat yang lapar, negara masih berhutang dan masih banyak lagi permasalahan di negeri ini yang tak teratasi.
Ijazah dari universitas hanya sekadar formalitas, nyatanya banyak rakyat Indonesia sulit memiliki pekerjaan yang berkualitas. Gelar sarjana tidak bisa menjamin seseorang bebas dari ancaman pengangguran. Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional, per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menyebutkan, total penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3 (sarjana) (Kompas.com/ 7 Agustus 2026).
Fase sekarat di segala sisi. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik pada Agustus 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 22,93 juta orang atau setara dengan 8,07 persen dari total populasi.
Berdasarkan data Numbeo Crime Index 2026, Indonesia berada di peringkat ke-13 untuk tingkat kriminalitas tertinggi di tingkat regional Asia (dengan skor indeks kejahatan sekitar 46,2 hingga 46,4). Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia berada di urutan ke-4 sebagai negara dengan persepsi kriminalitas tertinggi setelah Myanmar, Kamboja, dan Malaysia. Berdasarkan pemberitaan Kompas.com pada 10 Februari 2026, dinyatakan bahwa Negara dengan tingkat korupsi tertinggi di Asia Tenggara atau ASEAN, Indonesia menempati posisi keenam dengan skor 34. Bahkan Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tercatat sebesar 444,4 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan sekitar Rp8.043 triliun per Mei 2026.
Sistem hari ini tidak bisa mengelak dari fakta bahwa gagal mengurus rakyat. Suara rakyat dibutuhkan hanya pada saat kampanye. Pendidikan diurusi setengah hati, masalah kemiskinan tidak pernah tuntas, kejahatan sulit diberantas. Rakyat dianggap bijak bila taat pajak sementara pemerintahannya rusak. Penguasa hanya memanfaat rakyat saat rakyat menjadi komoditas dagang suara disetiap musim pemilihan suara. Urusan publik dikuasai pasar bebas. Beginilah pemerintah yang menganut sistem sekuler, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Yang menjadikan materi adalah puncak kebahagiaan dan asas perbuatannya manfaat.
Secara fisik, Indonesia sudah bebas dari penjajahan. Tapi secara pemikiran Penjajah belum beranjak pergi. Penjajah justru dipelihara penguasa bahkan diundang kembali atas nama “investasi” untuk mengeruk hasil bumi dan membodohi rakyat lagi. Merdeka benderanya tapi belum merdeka sistemnya. Jadi, merdeka yang seperti apa yang kita rayakan?
Kemerdekaan yang sejati bukan sekedar bebas dari penjajah. Dalam Islam, kemerdekaan hakiki berarti bebasnya jiwa dan raga untuk tunduk hanya kepada sang maha Pencipta dunia dan seisinya, Allah SWT. “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Rasulullah mengizinkan Abu Bakar untuk membebaskan budak bernama Bilal bin Rabah dari siksaan Umayah bin Khalaf karena lisannya menyebut “Ahad… Ahad…” Pada saat hijrah ke Madinah, Bilal dipilih Rasulullah untuk Adzan sebagai pertanda proklamir kemerdekaan Madinah dari aturan manusia dan berjalan menjadi aturan Islam kaffah. Dengan Islam, seorang budak diangkat menjadi mulia derajatnya menjadi Panglima. Rasulullah juga membebaskan Arab dari masa jahiliah menjadi kehidupan bercahaya. Saat Islam menjadi aturan hidup baik secara pribadi sampai negara, tidak ada lagi penyembahan berhala, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga tidak ada lagi hukum rimba. Yang ada hanya syariat Allah SWT.
Pada perang Qadisiyah, Mughirah bin Syu’bah dan Rab’i bin Amir diutus ke hadapan Jenderal Rustum. Kedua utusan ini membawa satu pesan bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan manusia kepada penyembahan kepada Allah semata. Jenderal Rustum bertanya kepada Rab’i bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rab’i bin Amir menjawab sebagaimana diungkapkan: “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari pemghambaan diri kepada sesama manusia agar mereka menggambarkan diri hanya kepada Tuhan manusia. Dia mengeluarkan mereka dari dunia yang sempit menuju akhirat yang luas, mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam.
Apalah arti merdeka bila Sumber Daya Alam bukan untuk mensejahterakan manusia di tanah kelahirannya. Apalah makna teriakan merdeka bila saat rakyat meminta haknya di teriaki antek-antek asing? Sudah saatnya rakyat Indonesia tidak tenggelam dalam pesta kemerdekaan hanya dalam satu hari satu malam, tetapi menderita berkepanjangan. Selama sistem kufur masih berkuasa, sejatinya manusia masih terjajah. Merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari rasa takut. Merdeka dari sistem yang menjual rakyatnya sendiri.
“Alif Laam Raa. (Ini adalah) Kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada Anda (Nabi Muhammad) agar anda mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang benderang) dengan izin Tuhan mereka (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji” ( QS Ibrahim[14]: 1).
Views: 2


Comment here