Opini

Menyoal Masalah Ibu dan Anak

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Dwi Ummu Farhan (Muslimah Peduli Generasi)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Kondisi yang melanda generasi muda dan kaum ibu saat ini semakin memprihatinkan, bukan hanya masalah moral, tetapi kaum ibu dan generasi muda kehilangan arah hidup dan identitas hakiki sebagai seorang muslim.

Di era digitalisasi saat ini, fenomena pengguna gadget di kalangan generasi muda semakin meluas . 98,7% penduduk Indonesia adalah pengguna ponsel aktif. Perempuan di usia 16-24 tahun tercatat sebagai pengguna ponsel paling aktif, dengan durasi selama 4 jam 44 menit (CNBC Indonesia, 29/11/2025).

Masyarakat Indonesia semakin ketergantungan dengan internet, memberikan efek sangat serius pola pikir dan gaya hidup. Media sosial yang menampilkan kehidupan yang gelamor para selebritis, selebgram dll, memberikan pengaruh yang serius pada masyarakat. Seperti dua mata pisau yang bisa merugikan atau memberikan manfaat. Dampak nyata seperti hedonisme semakin melekat, seolah menjadi standar baru bagi mereka. Tren ini mendorong para generasi muda fokus pada kesenangan pribadi dan hidup mewah. Kesenangan pribadi bukanlah suatu kesalahan jika dilakukan dengan sewajarnya. Tetapi jika kesenangan hidup menjadi prioritas maka akan memberikan dampak buruk bagi generasi muda. Sebab sikap hedonis tak lepas dari budaya konsumtif, bahkan individualis (Kompasiana,18/3/2025).

Hal ini tidak lepas dari penerapan sistem Kapitalisme. Sistem yang melahirkan sekularisme, yang merambah hampir pada seluruh aspek kehidupan. Memberikan dampak serius bagi generasi muda dan menjauhkan jati dirinya baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dampak sekularisme menjadikan masyarakat bebas berperilaku tanpa berpikir baik dan buruk. Terpenting adalah untuk mendapatkan kesenangan, terlebih untuk mendapatkan cuan. Begitu juga yang terjadi kepada para ibu, yang bebas mengekspresikan diri semaunya. Hal ini menunjukkan bahwasanya peran ibu sebagai ummun wa rabbatul bayt, pendidik generasi telah kehilangan fungsinya, tergerus oleh kebijakan yang melemahkan nilai Islami.

Di tengah krisis ekonomi dan kondisi di mana masyarakat terpecah menjadi dua kubu yaitu kalangan atas dan bawah yang menciptakan jurang pemisah dalam bidang sosial ditambah teknologi modern yang dikuasai sistem hari ini menyebarkan ideologi batil semakin membuat kaum ibu dan generasi muda kehilangan nilai, visi hidup, dan perannya sebagai agen perubahan. Negara sekuler memandang generasi muda saat ini adalah produk pasar yang menjadi perilaku konsumtif dan hedonistik, tidak paham akan hakikat hidup, dari mana kita hidup, mau apa dan hendak kemana. Akibatny semakin menjerumuskan generasi muda pada kerusakan, dan juga menghambat gerakan pemuda sehingga menjauhkan dari kebangkitan Islam dan anti pada ideologi Islam. Generasi muda memandang syariat sebagai sesuatu yang kuno, terlalu fanatik dan tidak toleran. Di sisi lain, berbagai kebijakan pada sistem hari ini mendorong kaum ibu keluar dari perannya, membawanya kepada produktivitas ekonomi seolah menilai seorang ibu hanya diukur dari keberhasilan materi semata.

Di dalam Islam seorang ibu adalah pemimpin dalam rumahnya dan bertanggung jawab atas arah pemikiran dan karakter anak-anaknya.
Bagaimana sabda Rasulullah SAW “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dari setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya” (HR Bukhori dan Muslim).

Begitu pula dengan generasi muda Rasulullah SAW memuji mereka yang kuat iman dan visinya ”Pemuda yang tumbuh pada ketaatan kepada Allah SWT” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengasuhan dan pendidikan yang senantiasa terhubung dengan Allah akan sangat berpengaruh terhadap anak-anaknya, harus ada kesadaran bahwa seorang ibu adalah pendidik utama anak-anaknya sebagaimana tertanamnya Islam pada diri mereka, sehingga terbentuk generasi yang terbiasa dalam ketaatan menjalankan syariat dan siap melakukan perubahan dengan menegakkan peradaban Islam dan memimpin umat. Sejarah mencatat kebangkitan umat selalu berawal dari rahim seorang ibu yang sadar akan misi hidup dalam sistem Islam dan berjuang mencetak generasi yang rida Allah SWT sebagai tujuan tertinggi.

Karena itu di tengah sistem sekularisme dan kapitalisme jamaah dakwah islam ideologis bukan pilihan melainkan kebutuhan umat yang membina kaum ibu dan generasi muda agar bangkit sebagai pelopor perubahan, dan ia mengarahkan umat untuk memperjuangkan Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh. Upaya menyelamatkan ibu dan generasi muda yaitu dengan mengajak mengkaji Islam kaffah secara intensif memahami hukum-hukumnya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Pada saat yang sama para ibu yang sudah dipahamkan akan mengajak ibu-ibu yang lain yang belum terpahamkan menjadi paham, yang kemudian berupaya merangkul putra-putrinya untuk berpikir benar mendalam serta peka dan peduli terhadap problematika umat

Dengan demikian akan lahir generasi yang berideologi yang membangkitkan sebuah peradaban dan di sanalah Islam kembali memimpin dunia dengan keadilan. Inilah bukti bahwa Islam membawa rahmat bagi seluruh alam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 17

Comment here