Opini

Membangun Generasi Islam yang Tangguh

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Yessi Dhamayanthie

Wacana-edukasi.com, OPINI–Akhir-akhir ini baik media massa maupun media sosial gencar memberitakan kasus kekerasan dan perundungan di kalangan anak muda. Peristiwa ini membuat kita prihatin. Bagaimana mana tidak, generasi muda yang digadang-gadang pemerintah menjadi generasi emas 2045, nyatanya jauh dari harapan. Lantas, apakah bisa Indonesia mencapai generasi emas di tahun 2045 atau justru malah melahirkan generasi cemas dengan segala problematiknya?

Melansir dari laman kompas.com (29/07/2025), seorang siswa SMPN 3 Doko, di Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar berinisial WV (12) menjadi kasus perundungan yang dilakukan sekitar 20 siswa senior saat MPLS. Ia diolok-olok disertai pemukulan dengan tangan kosong secara bergantian oleh para pelaku sehingga mengakibatkan WV mengalami luka-luka di sejumlah bagian tubuhnya bahkan mengalami trauma psikis.

Hal senada, terjadi di daerah Musi Rawas Utara (Muratara) di Desa Pauh, Rawas Ilir Sumatera Selatan (Sumsel). Pelajar MTs berinisial RI tewas ditusuk oleh siswa SD berinisial GN (10) dengan menggunakan gunting ke tubuh korban hingga tewas (Detik Sumsel, 8/8/2025).

Kapitalisme Penyebab Rusaknya Generasi

Patut kita ketahui, di tahun 2045 Indonesia memasuki usia ke 100 tahun. Di mana pada tahun tersebut Indonesia memiliki bonus demografi, yakni fenomena pada kurun waktu tersebut kondisi masyarakat Indonesia akan didominasi oleh usia produktif (usia 15-64 tahun) dibandingkan usia non produktif.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Mantan Presiden Joko Widodo bahwa pada tahun tersebut merancang sebuah visi besar tentang ‘Indonesia Emas 2045’. Dalam agenda tersebut pula, Mantan Presiden Jokowi menyusun salah satu pilar pembangunan, yaitu pilar pembangunan manusia guna mewujudkan Indonesia Emas 2045 sehingga dapat tercapai peran Indonesia yang berkualitas dan berdedikasi sesuai dengan program BAPPENAS. Akan tetapi, nampaknya Indonesia Emas 2045 hanya sebatas impian belaka.

Maraknya kekerasan dan perundungan merupakan persoalan serius dan bukti gagalnya penerapan sistem pendidikan yang ada hari ini. Ditambah oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya. di antaranya, kurangnya pendidikan moral dan adab, pengaruh lingkungan sosial, adanya keterbatasan akses pendidikan serta pengaruh media sosial dan konten negatif bahkan dapat memunculkan dampak buruk terhadap generasi muda. Seperti buruknya kesehatan mental sehingga ia cenderung cemas, stres, mudah marah dan depresi bahkan dapat mengalami penurunan kualitas pendidikan, peningkatan tindak kriminal, serta rusaknya hubungan sosial. Semua ini disebabkan dari diterapkannya paham sekulerisme (memisahkan agamandari kehidupan) dalam bermasyarakat dan bernegara. Menjadikan masyarakat hidup tanpa aturan Sang Khaliq.

Salah satunya dapat dilihat dari sistem pendidikan. Saat ini, pendidikan hanya sekadar mendidik generasi untuk menjadi pintar saja, tetapi tidak dididik untuk menjadi generasi yang hebat. Karena, negara hanya berharap para generasi tersebut dapat bekerja di tempat bonafide dengan mendapatkan gaji yang tinggi dan bisa hidup bahagia bersama keluarga.di kemudian hari. Alhasil, generasi muda dibiarkan tumbuh pintar dan dijauhkan dari pemahaman agama tanpa disertai tujuan hidup yang pasti.

Inilah bukti gagalnya penegakan sistem pendidikan di Indonesia. Identitas keislaman yang seharusnya melekat pada generasi muda, akhirnya hilang tak berbekas.

Di sisi lain, sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini pun turut menyumbang tumbuh kembang serta output generasi muda yang bermental individualis sehingga anak-anak lebih mementingkan nasib dirinya sendiri dan keluarganya saja. Hidup mereka hanya dilatih untuk mengumpulkan uang (materi) sebanyak-banyaknya sesuai budaya dan tujuan yang diajarkan oleh sistem sekular kapitalistik. Tak peduli halal haram asalkan tujuannya tercapai, yakni menjadi orang yang sukses dan banyak uang tercapai. Begitu juga, sistem liberalisme (paham kebebasan) turut menghantui generasi muda hari ini. Ditambah masyarakat yang cuek terhadap lingkungan sekitar mengakibatkan banyak generasi muda yang terjerumus pada pergaulan bebas yang berujung pada perzinahan, mabuk-mabukan serta mengkonsumsi narkoba.
Dengan melihat fenomena ini, maka sangat diperlukan solusi hakiki yang fundamental dan kerjasama antar berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Khilafah Mencetak Generasi Cemerlang

Islam adalah agama yang sempurna. Islam bukan hanya sekadar agama, tetapi juga sebagai pandangan hidup yang memiliki aturan yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Termasuk mengatasi kerusakan generasi hari ini. Islam memiliki mekanisme tertentu sehingga seluruh persoalan dapat diselesaikan hingga ke akarnya.

Adapun solusi yang pertama ialah dimulai dari peran keluarga. Karena keluarga merupakan garda terdepan dalam proses pendidikan generasi muda sehingga di dalam keluarga tersebut dapat menciptakan generasi unggulan yang taat dan beradab serta berilmu. Keluarga yang pertama kali akan meletakan pondasi akidah pertama dan membentuk karakter anak-anaknya sesuai dengan karakter Islam.

Kedua yaitu adanya peran masyarakat. Masyarakat di dalam sistem Islam harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman. Masyarakat juga menjadi salah satu faktor pendidikan generasi muda ketika anak-anak berada di luar rumah. Kekerasan hanyalah bagian dari kegagalan kontrol masyarakat sehingga peningkatan keterlibatan masyarakat harus diaktifkan dan dimasifkan serta dimotivasi agar selalu menegakan amar maruf nahi munkar di tengah-tengah lingkungan sehingga tidak ada lagi masyarakat yang cuek terhadap permasalahan yang muncul di lingkunganya. Maka, semua pihak harus saling mengawasi dan menjaga.

Adapun solusi yang ketiga, yaitu peran negara. Negara Islam (Khilafah) yang menerapakan aturan Islam secara menyeluruh akan menjadi harapan bahwa negara adalah sebagai penjaga serta pelindung bagi seluruh rakyatnya. Maka, negara di dalam Islam akan menciptakan pendidikan yang kurikulumnya berbasis akidah islamiyah yang akan melahirkan generasi yang bersyaksiyah islamiyah (berkepribadian Islam).
Negara juga harus melakukan regulasi media dan konten sehingga melindungi anak muda dari pengaruh buruk media sosial hari ini. Begitu juga, anak-anak yang melakukan kriminal Islam akan melakukan penindakan dengan cara penegakan sanksi tegas. Generasi muda yang melakukan kekerasan dan perundungan dikenai uqubat dan ta’dzir sesuai dengan tingkat kesalahan untuk membuat efek jera serta mendidik dan juga sebagai penebus dosa.

Inilah langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan kerusakan pada generasi. Apabila semua pihak bersinergi dan syariat Islam diterapkan dalam lini kehidupan, maka insya Allah kasus kekerasan, perundungan serta kerusakan generasi muda tidak akan terulang lagi dan kita semua dapat menyelamatkan generasi muda. Sistem Islam (Khilafah) inilah merupakan satu-satunya jalan untuk mendidik generasi beriman, mulia serta akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang adil lagi cemerlang, tidakkah kita merindukannya?

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 60

Comment here