Opini

Kasus Covid-19 (masih) Tinggi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Tri Purwasih. P (C.L.F)

wacana-edukasi.com, Senin (24/8/2020), Dinkes Batam menjemput 23 orang yang terlibat dalam penjemputan paksa jenazah untuk menjalani pemeriksaan di RS Khusus Infeksi Covid-19 Pulau Galang.

Dari 23 orang itu, Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam menyatakan 12 di antaranya positif terpapar virus corona. Dalam rilis Gugus Tugas Covid-19, 12 warga tersebut tercatat sebagai kasus 455 hingga 467. Kemudian Dinkes menjemput seorang perempuan baruh baya berinisial YGH yang mengaku membalurkan air liur jenazah ke mukanya. Selain itu, dia juga sempat mengancam akan menjilat air liur jenazah pasien positif Covid-19. Namun semua itu baru sebatas pengakuan. Perempuan itu juga masih menunggu hasil tes swab. (detik.com)

“Baru proses pagi ini, kemarin diambil (swab-nya) sore, mungkin siang atau sore keluar hasilnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi saat dihubungi detikcom, Selasa (25/8/2020).

Tindakan konyol ini menambah panjang daftar pasien positif Covid-19 di Batam. Padahal para tenaga medis sudah kewalahan menangani dan merawat pasien. Banyak juga yang pada akhirnya tertular Covid-19.

Pada Kamis, 27 Agustus 2020 tercatat delapan orang Nakes yang positif Covid-19. Terdiri dari dua dokter gigi, lima perawat, seorang asisten apoteker, dua orang supir ambulans dan sejumlah tenaga administrasi Puskesmas serta dua orang bidan di RS Graha Hermine. Didi menyebutkan, mayoritas staf kesehatan di Puskesmas Tiban. Namun ada juga staf Puskesmas lain yang terpapar, yakni Puskesmas Sambau, Nongsa dan Puskesmas Seipanas. (https://m.merdeka.com/peristiwa/sejumlah-nakes-terpapar-covid-19-empat-puskesmas-di-batam-ditutup.html)

Keesokan harinya, mulai Jum’at, 28 Agustus 2020 Poliklinik dan IGD RSUD Embung Fatimah ditutup untuk 14 hari ke depan. Tak hanya RSUD, empat Puskesmas di Kota Batam juga berhenti melayani masyarakat. Penutupan Poliklinik dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) ini diumumkan langsung oleh Direktur RSUD EF drg. Ani Dewiyana. Kebijakan itu dilakukan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Corona. (https://amp.kompas.com/regional/read/2020/08/28/14395441/4-karyawan-terpapar-corona-rsud-embung-fatimah-tutup-sementara)

Saat ini angka penularan Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat, bahkan sempat menyentuh angka 3.000 dalam sehari. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan bahkan ada yang tidak percaya Covid-19. Sebagian masyarakat menganggap Covid-19 adalah konspirasi bahkan hanya akal-akalan dokter. Padahal Covid-19 benar adanya, terlepas dari adanya berita yang beredar ditengah masyarakat bahwa ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi.

Kedua, kurangnya penangangan yang serius dari pemerintah untuk mengatasi pandemi. Inilah yang menjadi penyebab kurangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah dalam hal penanganan Covid-19. Bahkan kinerja pemerintah Indonesia menangani pandemi Covid-19 mendapat sorotan negatif dari media asing. Indonesia disebut sebagai negara yang sistem penanganan Covid-19 paling buruk di Asia Tenggara. Dalam laman daring prestisius The Guardian edisi Minggu (12/07/2020), kalung anticorona keluaran Kementerian Pertanian turut menjadi sorotan dan dianggap salah satu faktor yang memperburuk keadaan. Bahkan saat ini, penanganan Covid-19 Indonesia berada pada urutan keempat terburuk di dunia.

Ketiga, pemerintah lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi. Indonesia perlu belajar dari Finlandia, Singapura, Malaysia dan Thailand yang lebih mengutamakan keamanan dan kesehatan masyarakat dibandingkan perekonomian. Meskipun negara-negara tersebut telah masuk ke jurang resesi tahun ini. Tapi para turis mancanegara percaya terhadap penanganan Covid-19 di negara tersebut sehingga masih menghasilkan devisa.

Semua permasalahan ini sebenarnya bisa segera diatasi jika dari awal pemerintah mau memberlakukan lockdown skala nasional. Lockdown adalah satu-satunya solusi dan terbukti efektif memutus mata rantai penyebaran virus seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab juga pernah terjadi wabah penyakit.

“Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori)

Wallahu’alam-bishowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here