Oleh: Nuri Ma’rifatur Rohmah
Wacana-edukasi.com, OPINI–Sampai detik ini penderitaan rakyat Gaza semakin hari bertambah sulit, bahkan setiap detik dunia sosial disuguhkan dengan potret-potret memilukan dari saudara muslim disana. Tumpahan darah, jeritan dan tangisan dari anak-anak Gaza yang tak kunjung reda. Dentuman bom dan roket seolah-olah tak pernah henti, mengakibatkan banyaknya bangunan berubah menjadi puing-puing, serta menyebabkan luka yang sangat mendalam pada tubuh dan jiwa mereka. Dibalik itu semua tidak menyurutkan keteguhan hati, iman dan semangat juang bagi penduduk Gaza.
Beberapa waktu lalu pasukan Militer Israel meminta warga Palestina untuk mengungsi ke selatan, memberi peringatan bahwa operasi ini akan berlangsung di seluruh kota, setelah Perdana menteri Benjamin Netanyahu memerintahkannya. Belum lama ini juga Israel menyatakan telah menguasai hampir seluruh Gaza yaitu 75 persen wilayah. Banyak rakyat Gaza yang mengungsi kemudian akhirnya kembali lagi. Pasukan zionis telah meluncurkan serangan-serangan di pinggiran kota bagian utara selama berminggu-minggu. Kali ini pasukan zionis sudah berada di beberapa kilometer dari pusat kota Gaza. (REPUBLIKA.co.id, 6/9/25)
Umat manusia tentunya tidak akan ambil diam dengan kezaliman zionis yang semakin merajalela.
Di sisi lain, sebuah armada sipil internasional telah melakukan pelayaran di laut Mediterania, dengan membawa misi kemanusiaan serta pesan politik. Ini adalah panggilan hati sesama manusia untuk menghadirkan bantuan langsung, meskipun resikonya begitu besar. Kapal ini berlayar untuk menembus blokade Israel ke jalur Gaza. Lebih dari 50 kapal dan ratusan relawan terdiri dari aktivis, jurnalis, tenaga medis hingga figur publik. Mereka menilai penguasa di dunia terlalu lambat dalam menyelamatkan warga Gaza dari penindasan zionis. (rri.co.id, 2/9/25)
Kejahatan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina semakin parah. Penyerangan yang dilakukan secara brutal, blokade yang mencekik serta perampasan tanah yang tiada henti. Parahnya lagi, Perintah Netanyahu untuk merebut wilayah Gaza dan pengusiran paksa merupakan strategi besar untuk menguasai seluruhnya. Kondisi ini bukan hanya disebabkan kekuatan militer Israel saja, tetapi juga karena adanya penghianatan besar dari penguasa Arab dan diamnya dunia internasional.
Banyak penguasa Arab yang sejatinya mempunyai kekuatan besar, baik di bidang militer, ekonomi, bahkan secara geografis, justru mereka memilih melindungi kekuasaan dan ekonomi mereka dengan berkompromi dengan Israel. Alih-alih akan membela kemerdekaan Palestina, mereka malah menjalin hubungan perdagangan, diplomatik hingga pertahanan dengan para zionis. Keadaan ini membuka ruang kebebasan bagi para zionis tanpa ada tekanan dari negara lain. Kenyataan ini juga merupakan bentuk penghianatan yang nyata bagi kaum muslimin dan Palestina, serta tamparan keras untuk umat muslim yang mengharapkan solidaritas.
Hal ini merupakan bentuk ketidakadilan secara global, sehingga memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Tak hanya itu, seluruh manusia saat ini sudah tidak bisa lagi menoleransi kebiadaban zionis. Mereka melakukan segala cara untuk membantu rakyat Palestina dengan mengumpulkan uang dan bantuan-bantuan dari banyak negara untuk misi Gaza sumud flotilla.
Adanya gerakan Sumud flotilla ini mengungkap Dunia yang mengaku peduli terhadap HAM, tetapi diam saat zionis Israel melakukan blokade terhadap masyarakat Gaza. Aksi ini pula untuk menyadarkan kepada pemimpin-pemimpin dunia yang bungkam. Selain itu, peringatan moral bagi negeri Arab yang memilih menormalisasi kekejaman zionis. Zionis bisa saja menutup perbatasan Gaza, tetapi tidak bisa menutup semangat solidaritas kemanusiaan. Lagipula, penting untuk membangkitkan kesadaran dunia, terutama generasi muda ketika melihat penindasan.
Pada dasarnya solusi kemanusian saja belum cukup untuk membebaskan palestina dari cengkraman zionis. Bantuan yang sifatnya jangka pendek seperti bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, tetapi hanya mengurangi penderitaan rakyat Gaza sementara waktu, tidak mampu menghentikan blokade atau mencegah pengusiran paksa.
Islam memandang persoalan Palestina sekarang ini bukan hanya soal kemanusiaan semata, tetapi telah menyangkut aqidah dan penjajahan terhadap tanah umat Islam di dunia. Palestina merupakan tanah kaum muslimin karena Al-Aqsho pernah menjadi kiblat pertama umat muslim. Dan Rasulullah SAW memerintahkan untuk membebaskan Al-Aqsho dari musuh. Selama zionis masih mengambil alih wilayah Gaza, kaum muslim berkewajiban berjihad, khususnya penguasa negeri-negeri muslim.
Dalam Islam pemimpin negara adalah perisai.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya imam (khalifah/pemimpin) itu adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” (HR. Muslim)
Hadis ini jelas menyebut bahwa pemimpin adalah junnah (perisai/tameng) yang melindungi umat dari ancaman luar maupun dalam, menjaga agama, darah, kehormatan, dan harta. Begitu juga dengan pembebasan Gaza tidak hanya mengandalkan relawan dan bantuan kemanusiaan saja, tetapi yang dibutuhkan adalah kekuatan politik dan militer sebuah negara. Selama umat Islam di dunia tercerai-berai akibat batas nasionalisme yang digaungkan oleh sistem Kapitalisme Demokrasi, Palestina masih akan tetap berjuang sendiri untuk melawan zionis. Hanya dengan Islam, maka akan menghapus sekat ini dan mempersatukan umat muslim di dunia dibawah satu kepemimpinan yaitu Khilafah.
Selain itu, adanya persatuan umat Islam dalam kekuatan ekonomi, politik serta militer akan menjadi kekuatan global yang digunakan untuk menghancurkan penjajahan zionis Israel, dan membangun kembali kesejahteraan Gaza sesuai dengan syariat Allah.
Wallahu a’lam bishowab
Views: 10


Comment here