Cerbung

I’m A Journalist (Part 3)

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Haneem

A Case

“Oh, ya, setelah makan, Kakek akan terbang ke Singapura. Nikmatilah honeymoon kalian di sini, ya?” ucap sang kakek untuk cucu perempuannya dan Alex.

“Apa? Kakek mau ke Singapura?” tanya Sherly.

“Iya. Ada urusan penting yang harus Kakek selesaikan di sana. Kakek pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik. Alex, kakek titip Sherly! Kamu sekarang sudah sah menjadi suaminya. Tolong jaga cucu kesayangan Kakek yang super bawel itu baik-baik! Hahaha. Pasti satu hari ini kamu sudah terpesona dengan kebawelannya.”

Mendapati dirinya dijadikan sebagai bahan ejekan oleh sang kakek, Sherly hanya cengar-cengir saja, sedangkan Alex ikut tertawa kecil.

“Baiklah, Kakek pergi sekarang.”
“Alex akan antar Kakek sampai depan.” Alex mengantarkan Kakek Hermawan menuju mobilnya. “Kakek, hati-hati! Jaga kesehatan kakek, ya! Semoga Allah selalu menjaga Kakek.”

“Terima kasih Nak, atas do’anya. Sampai jumpa.“ Kakek melambaikan tangan melalui kaca jendela mobil. Alex pun ikut melambaikan tangan hingga badan mobil sudah tidak tampak lagi di depannya. Setelah itu, dia kembali ke restoran.

“Ke mana dia? Apa dia sudah kembali ke kamar?” Alex mengarahkan pandangannya ke sekeliling barangkali orang yang dicarinya ketemu. “Oh, wait. Kertas apa itu?”
Sherly meninggalkan pesan singkat, “Aku pergi dulu.”

“Apa maksudnya? Apa dia? Astaghfirullah… Kenapa malam-malam begini dia nekat pergi? Aku harus segera mencarinya.”

Sementara itu, Sherly menguntit seseorang di belakang pohon dekat kolam renang hotel.

“Oh, bukankah laki-laki tambun dan berkepala botak itu seharusnya kini berada di dalam penjara? Dia telah ditetapkan sebagai tersangka, lalu kenapa dia bisa jalan-jalan sampai kemari? Aku tidak mungkin salah lihat. Itu si koruptor kelas kakap yang tengah menjadi trending topic saat ini. Baik, aku ambil saja fotonya. Eh, kameraku? Hmmm … Kenapa bisa tertinggal di kamar? Okelah, pakai hp saja.”

“Cekrik … cekrik … cekrik ….” Sherly mengambil gambar lelaki yang sedang berdiri di tepi kolam renang. Lelaki tambun itu tengah melakukan negosiasi serius dengan seseorang.

“Yes, dapat. Bidikan kamera hp ini boleh juga. Nggak sia-sia beli hp mahal karena dilengkapi dengan kamera yang cukup canggih.“

“You’re here. What are you doing?” Sebuah suara mengagetkannya.

“You?” Sherly menarik lengan suaminya dengan refleks. Ia takut si kepala botak itu mengetahui keberadaannya. Namun, akibat perbuatannya kini malah membuat wajahnya dengan Alex berdekatan. Keduanya beradu pandang. Sherly segera membalikkan badannya sebelum sesuatu terjadi padanya.

“Oh, no. Ke mana laki-laki itu pergi? Aku kehilangan jejaknya.”

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Aku cemas mencarimu. Ini sudah malam. Ayo kembali ke kamar.”

“Aku tidak mau. Aku harus segera mencari laki-laki itu.” Sherly hendak beranjak pergi, namun tubuhnya tak bisa berkutik. Alex memeluknya erat dan meletakkan dagunya di atas pundaknya sebelah kiri, “Nona, tak baik meninggalkan suami di malam pertama. Oke? So, let’s go back to our room. Kamu ikut atau aku gendong?”

“Apa? Lepaskan aku! Apa kamu tidak takut aku akan berteriak dan memanggil orang-orang untuk memukulimu?”

“Oke, lakukan saja. Lihat saja ke sekeliling. Sepi bukan? Satu … dua … tiga ….“ Alex menggendong Sherly di depan dada.
“Oke… Oke.. Aku ikut. Turunkan!” Sherly berteriak.

Alex tersenyum puas karena berhasil menaklukkan sang istri meski harus sedikit memaksa. Ayo, silahkan kamu jalan duluan! Aku di belakangmu saja. Takut kamu kabur lagi. Dengan nada kesal, Sherly menuruti perintah suaminya.

Saat di lift Sherly masih saja mengomel karena kehadiran Alex yang tiba-tiba telah membuatnya kehilangan jejak pelaku yang telah menggondol uang negara dalam jumlah trilyunan rupiah.

“Gara-Gara kamu pria botak itu lepas.”

“Kamu masih saja menggerutu. Pantas saja Kakek menyerahkan kamu padaku. Bisa jadi Kakek sudah tak sanggup menghadapi sikap keras kepalamu itu. Setiap kata yang dikeluarkan Alex berasa menghunjam keras di dada Sherly. Apa yang dikatakan suaminya itu benar. Sebenarnya kakeknya tak setuju dengan profesi yang sedang dia geluti karena profesi tersebut sangatlah berbahaya bagi keselamatan dirinya.

“Huffft … kata-katanya begitu tajam. Dari mana kKakek bisa mengenal laki-laki Indo-Jerman itu? Ruang gerakku jadi terasa sulit. Benar saja. Baru di hari pertama pernikahan saja sudah dilarang-larang. Apalagi nanti. Ini tidak boleh dibiarkan. Perempuan juga berhak untuk mengembangkan potensinya. Tidak boleh dikekang. Sudah tidak zamannya lagi perempuan hanya sekadar mengurusi sumur, dapur, dan … kasur. Pokoknya aku harus cari cara supaya dia tidak melarang-larang aku. Titik.”

“Masih ngomel sendiri?” Alex bertanya pada istrinya sambil membuka pintu kamar.

“Ayo masuk. Di luar … berbahaya.” Alex melihat sekilas bayangan orang yang mengikuti mereka.

“Who’s over there? Kelihatannya dia mengikuti aku dan Sherly. Ah, kenapa aku baru menyadarinya?”

“Sherly, masuk!”
Tentu saja Sherly tidak suka mendengar nada Alex yang agak tinggi.

“Tidak perlu nada tinggi. Aku tidak suka.”

“Diamlah! Apa kamu tidak menyadari ada seseorang yang membuntuti kita sampai sini?”

“Apa? Benarkah itu?”

“Pekerjaanmu itu sangat berbahaya. Para koruptor dan orang-orang keji tentu saja tidak ingin dibui. Mereka akan menghalalkan berbagai macam cara supaya lepas dari jeratan hukum. Mereka punya uang yang bisa digunakan untuk menyumpal mulut orang-orang yang doyan uang. Kamu pasti tahu itu, kan? Jadi kalau ada hal-hal yang dapat menghalangi rencana dan keinginan mereka, pasti mereka akan segera mengambil tindakan.”

Sherly hanya diam karena semua yang disampaikan oleh Alex itu tepat. “Takku sangka Alex memiliki wawasan yang cukup banyak tentang dunia seperti ini,” batin Sherly.

“Apa kamu sudah salat Isya?” tanya Alex.

Sherly menggelengkan kepalanya.

“Oke, shalatlah dulu! Aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Okay.”

Alex fokus dengan laptopnya. Seperti biasa sebelum tidur dia terbiasa untuk mengecek laporan bisnis yang dilakukan oleh sekretarisnya, orang kepercayaan yang dia tugasi untuk menghandle bisnisnya untuk sementara waktu sampai dirinya selesai honeymoon.

Di kamar mandi Sherly masih diam terpaku di depan kaca kamar mandi. Pikirannya didera kecemasan yang luar biasa. “Aduh … gimana ini? Jangan sampai dech ….”

“Sher, are you okay?” Alex berdiri di depan pintu kamar mandi.

Hening. Tak ada jawaban.

“Sher, what’s wrong?” tanya Alex lagi.

“Well, one … two … three …. “ Alex membuka pintu kamar mandi. Tentu saja Sherly syok.

“Kenapa kamu masuk?”

“Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa kamu sakit?” Alex melangkah maju mendekati istrinya. Khawatir kalau-kalau sang istri jatuh sakit. Namun, yang didekati malah menjauh.

“Don’t touch me, please. I’m very well.”

“Lalu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?”

“A … a … aku …. “ Sherly tergagap mendapat pertanyaan dari suaminya.

“Why? Explain, please!” Alex meminta penjelasan mengenai sikap istrinya.

“Aku tidak mau kamu menyentuhku. Maafkan aku. Aku belum siap malam ini.” Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya. Ada perasaan plong setelah mengucapkannya.

“Oke,” jawab Alex singkat. Aku masih menyelesaikan pekerjaanku. Kamu tidurlah dulu. I promise to you i will not touch you this night.” Alex kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.

Sherly merebahkan diri di atas ranjang tempat tidurnya membelakangi Alex yang masih sibuk dengan urusan bisnisnya.

“Kenapa kamu masih mengenakan kerudung? Bukankah kita sudah menikah? Kita sudah menjadi pasangan yang halal.”

Sherly bangun dari tempat tidurnya, lalu duduk dan menjawab Alex, “Aku tidak mau. Aku takut kamu akan mencuri-curi kesempatan saat aku sedang tidur.”

“Astaghfirullah, kamu ini lucu sekali. Bisa-bisanya kamu berpikiran sesempit itu kepada suamimu,” ucap Alex.

“Bisa saja, kan?“

“It’s up to you.”

At last, Sherly telah tidur terlelap di atas tempat tidur yang empuk, fasilitas hotel berbintang lima. Hotel itu benar-benar menyediakan kenyamanan bagi para customer-nya.

Jam 2 pagi. Sherly terbangun dari tidurnya.

“Kenapa ada tangan mengenakan jam tangan melingkar di pinggang? Oh, Alex. Tuch, kan, dia mencuri-curi kesempatan saat aku sedang tertidur. Bukankah dia sudah berjanji padaku?” Sherly mencoba mengangkat tangan Alex yang melingkar di pinggangnya. Namun, dirinya tak kuasa melakukannya. Dengan perasaan sebal dia membalikkan badan. Namun, yang terjadi wajahnya bertemu dengan wajah Alex yang tampak cool saat tidur.

“Kenapa perasaanku jadi gusar seperti ini? Jantungku rasanya bergetar hebat.” Tanpa sadar dirinya mendorong tubuh Alex.

“i … innalillaahi wa innailaihi rooji’un. Pinggangku sakit sekali. Barusan seperti ada yang mendorongku.”

“Ma … maafkan aku. Aku kaget karena kamu ….”

“Apa yang kulakukan?” tanya Alex sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.

“Kamu mencuri-curi kesempatan di saat aku sedang tidur.”

“What did you say? I did not do it.” Alex melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri dan mencoba berdiri.

“Oh, sudah jam 3 pagi saatnya qiyamul lail. Jazakillah khoir sudah membangunkan aku, my love. Meski dengan caramu yang unik,” kata Alex tanpa merasa bersalah sedikit pun. Saat masih mengerjakan laporan perusahaan, Alex merasakan kantuk yang teramat sangat datang menerpanya. Walhasil, dia letakkan laptop di meja dekat tempat tidur. Kemudian tidur

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here