Bahasa dan SastraCerbung

Amazing Life

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anita S

Wacana-edukasi.com — Tiga tahun lalu ibuku meninggal karena kangker payudara yang telah lama bersarang di tubuhnya. Saat itu aku tak begitu bersedih. Bahkan, barangkali aku lega setelah Yang Mahakuasa mengambilnya.

Sebagian orang menilaiku jahat. Biarlah, mereka berkata apa. Mereka hanya tak tahu saja bagaimana sakit yang diderita bundaku. Sakitnya di dada sebelah kiri yang paling parah di bilik hatinya.

Saat Ibu sakit, tidak ada belas kasihan dari saudara-saudaranya. Jangankan ikut merawat Ibu, datang saja mereka super kilat. Padahal Ibu adalah saudara tertua mereka. Tak terhitung keringat dan rupiah untuk mengantar mereka menjadi “orang”.

Memasuki stadium empat, luka di payudara kiri ibu semakin membesar. Nanah dan darah yang keluar dari luka tersebut menimbulkan bau yang tak sedap. Bau itu seakan-akan memisahkan mereka yang tulus dan abal-abal dalam mencintai Ibu. Hanya Bapak, beberapa tetangga, teman ibu, dan saudara jauh saja yang masih mendatanginya untuk sekadar menanyakan kabar atau menghibur.

Adik-adik Ibu? Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Sampai kadang aku berpikir mungkin Ibu salah mengasuh mereka. Ibu mendidik mereka untuk menjadi orang yang sukses di dunia saja, lupa untuk menjadikan mereka adik-adik yang saleh, berakhlak mulia, dan menyayanginya.

Namun, aku juga tak bisa menyalahkan mereka, Ibu hanya seorang wanita lulusan SMEA. Beliau tak pernah belajar ilmu parenting ala nabi atau parenting ibu-ibu hebat lainnya. Beliau hanya tahu bagaimana menghasilkan uang untuk menyekolahkan adik-adiknya.

Kadang aku ingin marah. Dulu, ibuku mengorbankan masa mudanya untuk mereka, tapi apa balasannya kepada ibuku. Tak ada yang peduli padanya apalagi padaku dan adikku setelah Ibu meninggal.

Bukannya aku meminta balasan atas kebaikan ibuku, bukan pula aku tak ikhlas. Akan tetapi, aku sedang berbicara sebuah adab dalam keluarga, karena ikhlas atau tidak itu urusan ibuku dengan Yang Mahakuasa.

Beruntungnya aku punya Bapak yang sangat baik, setia pula. Beliau tidak menikah sepeninggal ibuku.

Sebenarnya banyak yang mendaftar untuk menjadi ibu sambungku, ada yang perawan ada pula janda. Namun, Bapak bergeming. Ia lebih memilih menjadi single parent, bapak sekaligus ibu bagi kedua putrinya.

Tiga tahun Bapak bersabar merawat kami, memasak makanan untuk kami, menemani kami belajar, dan mengantar-jemput kami ke sekolah. Walaupun adik-adik ibuku hanya menjadi penonton pada kehidupan kami, aku tak peduli. Sebab aku dan adikku baik-baik saja.

Rabu pilu.

Malam itu aku harus mengejar ketinggalan beberapa mata pelajaran karena tiga hari yang lalu aku harus membersamai Bapak tugas ke luar kota. Di rumah tak ada orang, tak ada saudara, tak ada pula pembantu. Karenanya, jika Bapak ke luar kota kami pun menyertainya.

Pukul tujuh malam, Sita, adikku, mengirim pesan. Ia menyampaikan bahwa Bapak muntah-muntah. Seluruh tubuhnya berkeringat. Kusampaikan pada adikku, kemungkinan Bapak masuk angin. Kuminta dia melumuri tubuh Bapak dengan minyak kayu putih.

Lima belas menit kemudian masuk lagi pesan dari Sita, ia mengatakan bahwa kaki dan tangan Bapak terasa dingin. Sementara itu, Bapak masih saja muntah-muntah. Pada pesan balasanku, kuminta Sita menyelimuti Bapak dengan bed cover yang ada di lemari tengah.

Lima belas menit berlalu tak ada lagi pesan masuk dari Sita. Aku pun melanjutkan belajarku.

Pukul delapan pas, masuk pesan Sita yang ketiga. Ia menyampaikan jika Bapak susah bernapas. Pada kondisi ketiga ini kuminta Sita membuka semua jendela dan pintu rumah agar udara segar bisa masuk. Aku berpesan padanya untuk menemani Bapak dan membantunya jika beliau butuh sesuatu sampai aku datang.

Suara riang Sita menyanggupi apa saja yang kuperintahkan cukup melegakan hati. Aku berjanji saat pulang nanti akan membelikan ice cream untuknya.

Pukul setengah sembilan, pelajaran tambahanku sudah selesai. Aku menghubungi Sita untuk menanyakan keadaan Bapak sekaligus memastikan beliau bisa menjemputku apa tidak.

Sita mengabarkan jika Bapak tidur. Berkali-kali ia membangunkannya, tak ada jawaban. Akhirnya, kuputuskan untuk memanggil abang ojek. Tak lupa sebelum sampai rumah, aku membelikan ice cream cokelat untuk Sita.

“Kakak ….” Suara riang Sita terdengar ketika pintu pagar terbuka. Ia melompat kegirangan merebut tas plastik di tanganku.

“Kakak, Sita sudah merawat Ayah sampai Ayah tertidur,” ujarnya polos.

“Terima kasih adikku yang pintar,” pujiku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Bapak ….”

Tubuhku membeku melihat tubuh Bapak tergeletak di depan pintu kamar mandi. Ada sebuah bantal berwarna abu-abu di kepalanya. Sementara itu, selimut merah bercorak bunga-bunga menutupi sebagian badannya.

Lututku seperti tak bertenaga melihatnya tak bernapas. Susah payah aku merangkak kepadanya agar aku bisa memegang tubuhnya dan merasakan hangat embusan napasnya untuk menghilangkan perasangka buruk yang sempat melintas di kepalaku.

“Bapak ….”

Tubuhku tak bertenaga, saat menyadari Bapak benar-benar tak lagi bernapas. Aku sedih dan aku sangat takut. Dengan siapa aku hidup nanti? Siapa yang akan membelikan kami makanan? Siapa yang akan membayar uang sekolah kami? Siapa yang akan mengurus adikku?

Kepalaku sakit, sakit sekali. Sekelilingku seperti berputar. Aku mulai mual. Tubuhku roboh di sisi Bapak. Kupeluk Bapak dengan sisa tenaga.

“Bapak, aku mau ikut. Mila ingin ikut Bapak. Mila tak punya siapa-siapa kecuali Sita. Mila mau ikut mati saja,” bisikku pada tubuh yang tak bernyawa itu.

Kepalaku semakin terasa berat dan napasku mulai sesak. Perlahan kelopak mataku pun menutup. Apakah aku akan mengikuti Bapak?

Sebuah sosok bercahaya muncul di hadapanku. Sosok itu tersenyum padaku. Bola mataku melebar saat tahu siapa dia. Bapak, ya, benar. Laki-laki itu adalah Bapak. Bapak terlihat lebih muda, tampan, dan sangat bugar. Tak seperti akhir-akhir ini saat sering sakit. Bajunya terbuat dari sutra berwarna hijau berkilau.

Di belakang Bapak berjalan seorang wanita mendekatinya. Sepertinya aku sangat mengenal wajah itu. Ibu, wanita cantik berbaju putih dengan kerudung bercahaya itu adalah ibuku. Ia dikelilingi anak-anak muda yang jelita. Mereka sepertinya para pelayan.

Ibu melambaikan tangan kepadaku. Ia mengamit tangan Bapak, lalu mengajaknya naik kereta kencana yang terbuat dari permata.

“Ibu, Mila ikut.” Aku hendak berlari mengejarnya. Namun, tak bisa. Kakiku tertahan ranting pohon.

“Lanjutkan belajarmu dulu. Nak. Selesaikan hafalanmu juga. Ajari adikmu salat, ajaklah ia mengaji bersamamu, dan bimbing dia belajar. Kami akan menunggumu di sini.”

“Bapak, Mila ikut.”

“Mila, nanti kamu akan bertemu dengan orang-orang yang baik. Mereka akan menjagamu, membantumu, dan melindungimu sampai bertemu lagi dengan kami. Mila harus kuat, agar bisa menjaga adik sampai kita bisa berkumpul lagi.”

“Ibu, Bapak, Mila ikut saja. Mila takut sendirian.”

Bapak dan Ibu menghilang bersamaan dengan terbitnya cahaya berwarna putih yang sangat menyilaukan. Kubuka mataku perlahan, di hadapanku tubuh Bapak terbujur kaku. Wajahnya pucat membiru.

“Bapak ….” Aku berteriak tanpa suara.

“Aku takut hidup sendiri tanpa Bapak.” Cairan bening terasa hangat mengalir di pipiku. Sesak dadaku manakala cairan itu bisa keluar dari pelupuk mata. Aku takut, aku benar-benar takut hidup sendiri.

“Pyar ….” Suara gelas pecah dari arah dapur. Ada apa? Aku ingin sekali melihat apa yang terjadi di dapur, namun kepalaku amat sakit.

“Sita?” Kucoba bersuara.

“Sita ….” Aku senang, akhirnya suaraku keluar.

Bocah kecil berumur enam tahun keluar dari pintu dapur. Ia membawa segelas air putih untukku. Ya Allah, apakah Sita mengambil gelas di lemari perabotan yang ada di atas kompor?

Tanpa rasa bersalah, Sita memberikan gelas yang berisi air dengan tinggi setengahnya. Kutatap wajahnya dengan aneka rasa.

“Kakak sudah bangun? Kakak minum dulu!” ujarnya polos. Kuambil gelas yang ada di tangan Sita. Walau sakit aku tetap berusaha untuk menegakkan kepala.

“Kakak, mengapa Bapak belum bangun?”

Bibirku terbuka, isi kepalaku kosong. Apa yang harus kusampaikan? Bisakah Sita mengerti jika Bapak sudah meninggal?

(Bersambung)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 17

Comment here