Oleh: Murni Sari, S.AB.,M.M. (Dosen Politeknik Baubau)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Menjadi Gen Z hari ini bukan perkara mudah. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama harus berhadapan dengan biaya hidup yang terus menjadi kekhawatiran, ketidakpastian pekerjaan, tuntutan untuk mandiri, dan masa depan finansial yang terasa semakin sulit diprediksi.
Kecemasan itu bukan sekadar kesan. Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 terhadap lebih dari 23 ribu Gen Z dan milenial di 44 negara menunjukkan bahwa 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 30 persen. Lebih dari separuh Gen Z juga mengaku hidup dari satu gaji menuju gaji berikutnya. Sekitar 52 persen Gen Z berada dalam kondisi paycheck to paycheck dan 37 persen menyatakan kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan hidup setiap bula (Sumber: BeritaEnergi.id).
Di tengah tekanan itu, muncul fenomena yang sekilas terasa bertolak belakang. Generasi muda tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk self-reward, healing, nongkrong, menikmati makanan favorit, membeli barang yang disukai, atau sekadar memberi hadiah kecil kepada diri sendiri setelah bekerja keras (Kompas.com, 12/8/2026).
Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting: persoalan Gen Z tidak cukup disederhanakan menjadi “anak muda sekarang boros”. Di balik pola konsumsi mereka, ada tekanan ekonomi yang benar-benar dirasakan. Namun, pada saat yang sama, ada lingkungan sosial dan budaya yang terus mendorong mereka untuk mencari kebahagiaan melalui konsumsi.
Mudah sekali meminta Gen Z untuk lebih hemat. Kurangi kopi, jangan terlalu sering nongkrong, tahan keinginan membeli barang baru, atau kurangi healing. Semua nasihat itu tentu ada benarnya. Kemampuan mengatur keuangan tetap penting dan perilaku konsumtif yang tidak terkendali tetap dapat menimbulkan masalah. Namun, ketika hampir separuh Gen Z merasa tidak aman secara finansial dan lebih dari separuh hidup dari gaji ke gaji, kita perlu melihat persoalannya lebih jauh. Masalahnya tidak semata terletak pada individu.
Dalam sistem kapitalisme, pemenuhan kebutuhan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan ekonomi masing-masing. Rumah, pendidikan, transportasi, kesehatan, hingga berbagai kebutuhan dasar semakin berkaitan erat dengan daya beli. Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak selalu bertumbuh seimbang, generasi muda akhirnya harus menanggung tekanan yang semakin besar.
Mereka dituntut mencari pekerjaan, membangun karier, menyiapkan dana darurat, memikirkan tempat tinggal, membantu keluarga, mempersiapkan pernikahan, serta merencanakan masa depan dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu memberikan kepastian. Akhirnya, muncul sebuah perasaan yang sangat manusiawi: kalau masa depan terasa begitu jauh dan tidak pasti, setidaknya nikmatilah apa yang bisa dinikmati hari ini. Di sinilah self-reward dan healing menemukan tempatnya.
Budaya semacam ini semakin kuat karena media sosial membuat manusia terus-menerus melihat kehidupan orang lain. Setiap hari ada tempat wisata baru, tren pakaian baru, gawai baru, tempat nongkrong baru, makanan viral baru, hingga standar baru tentang seperti apa kehidupan yang dianggap menyenangkan. Seseorang yang sebelumnya merasa cukup bisa mendadak merasa kurang hanya karena melihat unggahan orang lain.
FOMO (fear of missing out) akhirnya menjadi salah satu pendorong konsumsi. Orang membeli bukan lagi karena membutuhkan, melainkan karena takut tertinggal. Di sinilah budaya hedonis bekerja secara halus. Kebahagiaan perlahan diukur dari seberapa banyak kenikmatan yang bisa diperoleh. Hidup dianggap berhasil jika mampu membeli, bepergian, mengikuti tren, dan menikmati berbagai kesenangan.
Ketika manusia tidak memahami untuk apa ia hidup, materi sangat mudah mengambil posisi sebagai ukuran kebahagiaan. Padahal Islam telah memberikan jawaban yang sangat jelas. Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan fondasi yang sama sekali berbeda. Hidup bukan untuk mengejar kenikmatan sebanyak-banyaknya. Harta bukan tujuan. Karier bukan tujuan. Popularitas bukan tujuan. Semua itu hanyalah sarana yang harus digunakan dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ketika tujuan hidup seseorang adalah meraih rida Allah, ia tetap boleh menikmati dunia, tetapi tidak menjadi budaknya.
Dalam Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki. Justru Islam mengajarkan keseimbangan. Menikmati boleh, tetapi jangan berlebihan. Memiliki boleh, tetapi jangan menjadikan kepemilikan sebagai ukuran nilai diri. Beristirahat boleh, tetapi jangan menjadikan healing sebagai pelarian dari seluruh persoalan kehidupan.
Islam memandang manusia sebagai individu yang harus bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi pada saat yang sama hidup dalam masyarakat dan berada di bawah tanggung jawab negara. Karena itu, penyelesaiannya juga harus menyentuh ketiga ranah tersebut.
Pertama, negara harus hadir untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi. Dalam Islam, negara bukan sekadar regulator yang menyerahkan seluruh urusan rakyat kepada mekanisme pasar. Penguasa memiliki tanggung jawab mengurus rakyat, memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, serta membuka kesempatan bagi laki-laki yang memiliki kewajiban nafkah untuk bekerja.
Islam juga memiliki konsep kepemilikan yang berbeda dari kapitalisme. Tidak seluruh kekayaan boleh dikuasai individu atau korporasi. Ada sumber daya yang termasuk kepemilikan umum dan harus dikelola untuk kepentingan masyarakat. Prinsip agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu sejalan dengan firman Allah SWT:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa distribusi kekayaan tidak boleh menghasilkan kondisi ketika sumber daya besar hanya dinikmati kelompok tertentu, sementara masyarakat luas terus berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Dalam konstruksi sistem pemerintahan Islam atau Khilafah, sumber daya yang termasuk kepemilikan umum dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Hasilnya dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk pelayanan dan pemenuhan kemaslahatan. Dengan demikian, rakyat tidak ditinggalkan sendirian menghadapi biaya kehidupan yang semakin berat.
Kedua, Islam membangun gaya hidup yang berbeda dari budaya hedonis. Islam tidak mematikan kesenangan, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar. Seorang Muslim tidak hidup untuk konsumsi. Ia mengonsumsi sesuatu agar dapat menjalani kehidupan dan ketaatannya dengan baik. Karena itu, pendidikan Islam harus membentuk generasi yang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara menikmati rezeki dan berlebih-lebihan, antara penghargaan terhadap diri dan memanjakan hawa nafsu.
Ketiga, media harus berperan membangun, bukan justru menciptakan kegelisahan baru. Generasi muda hari ini berhadapan dengan arus konten yang sangat besar. Karena itu, media tidak semestinya dibiarkan hanya mengikuti logika keuntungan, jumlah klik, dan engagement. Media juga harus memiliki tanggung jawab mendidik masyarakat.
Dalam kehidupan Islam, media diarahkan untuk memperkuat ilmu, membangun ketakwaan, menghadirkan keteladanan, serta meningkatkan kesadaran generasi terhadap persoalan umat. Konten yang terus-menerus menanamkan materialisme, gaya hidup berlebihan, dan standar kebahagiaan berbasis konsumsi tidak seharusnya menjadi arus utama yang membentuk pola pikir masyarakat.
Dengan pola tersebut tumbuhlah generasi yang mampu menikmati dunia tanpa diperbudak dunia. Generasi yang bekerja tanpa menjadikan materi sebagai tujuan. Generasi yang menggunakan ilmu, teknologi, tenaga, dan masa mudanya untuk memberikan manfaat bagi umat.
Views: 1


Comment here