Oleh: Mahrita Julia Hapsari (Aktivis Muslimah Banua)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Gaza masih bersimbah darah. Tragedi kemanusiaan paling brutal abad ini terpampang nyata di Gaza sejak dimulainya Thufan Al-Aqsha, Oktober 2023 hingga pertengahan tahun 2025 ini. Namun, jauh sebelum Thufan Al-Aqsha pun rakyat Palestina sudah menjadi korban invasi zionis Israel.
Sepanjang Thufan Al-Aqsha, zionis Israel telah membunuh lebih dari 57.000 warga Palestina. Mayoritas korban genosida adalah perempuan dan anak-anak. Bayangkan, hanya dalam waktu satu hari, pada 3 Juli 2025 dilaporkan 94 nyawa melayang. Lebih mengenaskan lagi, diantara korban jiwa adalah mereka yang sedang mencari bantuan kemanusiaan (The Guardian, 3 Juli 2025).
Mirip Squid Game, bertaruh nyawa saat mencari jalan keluar dari kesulitan. Demikian pula dengan rakyat Gaza, mereka diblokade hingga mengalami krisis kelaparan hebat. Di tengah blokade, bantuan datang dari Amerika dan PBB, namun mereka dijadikan sasaran tembak oleh zionis Israel. Biadab memang.
Sungguh, kejahatan perang yang dibiarkan. Jangankan menghentikan genosida, dunia hanya diam menonton. Bahkan para pemimpin negeri-negeri muslim di sekitar Palestina justru sibuk dengan agenda politiknya masing-masing, sibuk mengamankan kedudukannya, padahal se-akidah.
Semburat harapan akan persatuan umat Islam mulai muncul saat Iran menyerang Israel. Ternyata zionis Israel tak menurunkan intensitas genosida di Gaza selama serangan Iran berlangsung. Perihnya, para pemimpin dunia, khususnya pemimpin negeri Arab masih tak bergeming. Kenyataan ini memperjelas bahwa tidak satu pun penguasa negeri muslim yang serius membela Gaza. Mereka hanya mengutuk, mengecam dan mengirimkan bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas. Bahkan mendukung terhadap solusi-solusi semu yang justru mengkhianati perjuangan Palestina.
Salah satu solusi menyesatkan yang terus didengungkan oleh para pemimpin dunia, termasuk pemimpin negeri muslim, yaitu two state solution atau solusi dua negara. Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar ini pun ikut serta mendukungnya. Solusi ini memaksa Palestina dan Israel hidup berdampingan dalam dua negara terpisah di tanah Palestina.
Wacana dua negara ini sebenarnya telah lama digulirkan dan diupayakan untuk terwujud. Namun apa dampaknya bagi rakyat Palestina? Tak sedikitpun rakyat Palestina merasakan kebaikan dari solusi ini. Wilayah yang bisa mereka huni semakin sempit karena meningkatnya jumlah permukiman ilegal Israel. Satu hal yang terus terjadi yaitu pembantaian rakyat Palestina oleh zionis Israel laknatullah.
Sejak awal kedatangannya di tanah Palestina, dengan dalil deklarasi Balfour, zionis Israel ingin mendirikan rumah nasional bagi bangsa Yahudi. Didukung secara penuh oleh Amerika Serikat, zionis Israel hendak menihilkan kaum muslimin di wilayah Palestina dan mengkhususkan untuk bangsa Yahudi.
Sementara itu, umat Islam tidak mungkin menerima solusi dua negara, terutama rakyat Palestina yang istiqamah dan lurus akidahnya. Bagi umat muslim, Palestina adalah tanah kharajiyah, dan akan tetap statusnya hingga yaumil qiyamah. Tanah ini adalah amanah perjuangan. Tanah ini adalah bagian dari negeri kaum muslimin yang tidak boleh diserahkan kepada penjajah. Mereka masih memegang teguh Perjanjian Umariyah yang menyatakan bahwa al-Quds adalah milik umat Islam. Mereka pun sadar, bahwa tanah ini dibasahi darah para syuhada dari generasi ke generasi. Memberikan sejengkal tanah kepada zionis berarti mengkhianati amanah sejarah dan pengorbanan para mujahid.
Pada akhirnya kita bisa melihat bahwa seluruh upaya yang dilakukan para pemimpin dan badan dunia hanyalah semu, tidak ada solusi hakiki, pembantaian akan terus terjadi. Perlawanan pun akan terus berlanjut. Namun perlawanan bersenjata tanpa dukungan kekuatan politik yang besar akan selalu terbatasi. Karena itulah, umat Islam harus kembali kepada satu-satunya solusi tuntas dan hakiki: tegaknya Khilafah Islamiyah.
Khilafah adalah institusi politik Islam yang akan menyatukan kekuatan kaum muslimin di seluruh dunia dan mengomandoi jihad untuk membebaskan tanah-tanah kaum muslimin yang terjajah. Jihad bukan aksi individu, bukan pula sekadar semangat, tetapi kebijakan resmi dari negara Islam. Di bawah naungan Khilafah, seluruh potensi umat, baik militer, ekonomi, maupun politik akan dikerahkan untuk menolong saudara-saudara se-akidah dan membebaskan negeri-negeri yang terjajah.
Sebagian pihak mencoba memutarbalikkan narasi perjuangan dengan mengatakan, “Menyeru Khilafah berarti membiarkan Gaza dibantai.” Ini adalah logika sesat yang tidak berpijak pada realitas. Faktanya, narasi solusi dua negara sudah disuarakan sejak puluhan tahun lalu, namun justru pembantaian tak kunjung berhenti. Sebaliknya, ketika Khilafah masih tegak, Palestina dan Masjid Al-Aqsa dijaga dengan penuh kehormatan oleh kaum muslimin, tidak ada ruang bagi penjajah untuk mendudukinya.
Oleh karena itu, umat Islam harus berhenti berharap pada solusi barat dan penguasa boneka yang tunduk pada sistem internasional sekuler. Solusi Gaza bukan pada diplomasi di meja PBB, bukan pada bantuan logistik sesaat, tetapi pada perubahan sistemik global. Pembantaian ini semestinya menjadi momen kebangkitan kesadaran politik umat bahwa sistem sekuler kapitalisme-liberal telah gagal menyelamatkan umat, bahkan justru menjadi penyebab keterpurukan.
Kini saatnya umat Islam menyadari bahwa seruan Khilafah adalah solusi nyata. Bukan utopia, bukan mimpi kosong. Ini adalah kewajiban syar’i sekaligus jalan satu-satunya untuk benar-benar membebaskan Palestina dan menyelamatkan seluruh umat dari cengkeraman penjajahan modern.
Maka, jika kita benar-benar mencintai Palestina, bukti cinta itu bukan sekadar doa atau donasi, tetapi bergabung dalam perjuangan ideologis untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Sebab hanya dengan kekuatan institusional yang sah dan syar’i itulah, umat Islam akan kembali jaya, dan Palestina benar-benar akan merdeka. [WE/IK]
Views: 28


Comment here