Opini

Benarkah Sekolah Rakyat Mampu Mengentaskan Kemiskinan?

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Hanisa Aryana, S.Pd. (Pemerhati Pendidikan dan Remaja)

Wacana-edukasi.com, OPINI--Saat ini, kemiskinan terus terjadi dikalangan masyarakat. Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam mengentaskan kemiskinan. Salah satunya ialah dengan program Sekolah Rakyat. Program tersebut memiliki beberapa dampak positif, tetapi apakah benar-benar seutuhnya dalam memberikan dampak positif tersebut ?

Dilansir dari website Pikiran Rakyat tanggal 20 Juli 2025, di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, pada hari Senin 19 Mei 2025 saat kegiatan pengenalan sekolah, terdapat seorang guru pendamping siswa disabilitas SLB Negeri A Pajajaran. Dari 111 siswa tingkat SMA SLB Negeri A Pajajaran, sebanyak 18 siswa berpindah menuju SLB Negeri Cicendo. Beberapa ruang kelas di sekolahnya yang berada di Sentra Wyata Guna direnovasi untuk dibangun Sekolah Rakyat, sehingga mereka direlokasi. Akibat digunakan oleh Sekolah Rakyat yang merupakan program dari Kementerian Sosial (Kemensos), ruang belajar di SLB Negeri A Pajajaran berkurang dari empat menjadi tiga ruangan.

Sedangkan dilansir dari website Kilas Kementerian Kompas tanggal 21 Juli 2025, program Sekolah Rakyat diluncurkan oleh Presiden RI sebagai salah satu upaya memutus rantai kemiskinan yang telah berlangsung dalam beberapa generasi. Agar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mendapatkan pendidikan yang berkualitas, maka program SR menjadi langkah yang strategis untuk menangani hal tersebut. Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Kemensos) telah mengatakan bahwa Sekolah Rakyat bukanlah program Kemensos, melainkan program Presiden yang diamanahkan kepada Kemensos melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025.

Sejatinya SR bukan solusi yang nyata untuk mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi saat ini sebenarnya adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural bukan soal kurang usaha, tapi karena sistem sosial-ekonomi yang tidak memberikan peluang dengan adil. Sistem yang berlaku membatasi akses mereka terhadap sumber daya, pendidikan, pekerjaan dan layanan publik.

Semua adalah akibat dari penerapan sistem kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika tidak diterapkannya agama dalam urusan negara, negara tidak menjadi pengurus rakyat, seperti menyediakan layanan pendidikan dan menjamin kesejahteraan rakyat. Negara mengurus rakyat, namun tidak optimal. Rakyat sendiri yang berjuang lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk keluarga miskin dan miskin ekstrem.

SR memang dilaksanakan secara gratis, namun hal ini menunjukkan negara hanya mengurusi rakyat miskin yang tak mampu sekolah. Padahal hari ini masih banyak permasalahan pada sekolah negeri, baik terkait kualitas pendidikan maupun sarana dan prasarana yang belum memadai, kecukupan dan kualitas tenaga pendidik dan lain-lain. SR hanya terlihat sekedar solusi sementara yang tidak menyelesaikan persoalan masyarakat. Bahkan program tersebut belum tentu berjalan lebih baik selama menggunakan sistem kapitalisme.

Islam menjadikan pendidikan dengan kualitas terbaik berada dalam tanggung jawab negara untuk seluruh rakyat, baik kaya maupun miskin. Dalam kitab terjemahan Nidzomul Islam hal. 210 karya Syekh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan “Pengajaran hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Dan kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin.”

Islam menanggung penuh dalam pembiayaan untuk semua jenjang pendidikan. Negara yang menerapkan Islam memiliki sumber dana yang mumpuni. Sumber dana tersebut berupa zakat, infaq, shadaqah, wakaf, ghanimah, fai’, kharaj, jizyah, dan sumber usaha halal negara. Islam juga memiliki sistem ekonomi terstruktur yang mengalir dari individu, komunitas dan negara yang bertanggung jawab untuk menciptakan keadilan ekonomi dan keseimbangan sosial.

Negara Islam juga mampu menyejahterakan rakyat dan menyiapkan lapangan pekerjaan. Islam adalah rain dan junnah, yaitu Islam sebagai pemimpin dan pelindung untuk umatnya. Islam lebih memahami kondisi para umatnya, karena Islam sebagai rahmatan lil’alamin, rahmat untuk seluruh alam. Sehingga, dalam naungan Islam seluruh rakyat terjamin dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, tak peduli kaya, miskin atau miskin ekstrem.

Semua itu akan terwujud apabila syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam suatu negara. Tidak hanya untuk individu atau masyarakat saja yang menerapkan Islam, tetapi juga dalam urusan negara. Negara mampu menciptakan kondisi lingkungan yang terbaik untuk rakyatnya. Karena Islam memiliki aturan yang berasal dari Sang Pencipta, Allah Swt.

Islam memberikan solusi yang nyata untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya dalam berbagai kalangan, mulai dari usia muda sampai tua. Selama tidak menggunakan syariat Islam secara menyeluruh, kemiskinan akan terus terjadi. Program SR tidak mampu untuk mengentaskan kemiskinan.

Dengan demikian, solusi untuk mengentaskan kemiskinan harus dengan perubahan sistemik yang menyeluruh. Islam telah membuktikan memiliki sistem yang adil dan menyeluruh dalam mengatur pendidikan, ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Penerapan syariat Islam secara kaffah menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera tanpa kesenjangan.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 10

Comment here