Opini

Gemerlap Dunia, Merana Jiwa

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Umi Alfi (Muslimah Pemerhati Generasi)

Pergi ke kota membeli kenari,

Ramai manusia di sepanjang jalan.

Mengapa hidup serasa sendiri,

Saat dunia penuh kemudahan?

Wacana-edukasi.com, OPINI–Pertanyaan dalam pantun tersebut memiliki sebuah makna. Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, ternyata ada generasi muda yang menyimpan kesepian, tekanan, dan keputusasaan. Mereka dapat terlihat aktif, berprestasi, memiliki banyak teman, bahkan terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial. Namun, di balik semua itu, tidak sedikit yang justru merasa hampa dan kehilangan tempat untuk berbagi.

Fakta menunjukkan kondisi tersebut bukan perkara sepele. Kompas.id, 10 September 2026, memberitakan kasus seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang diduga berniat bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. Kasus tersebut menjadi gambaran betapa tekanan psikologis dapat membawa seorang anak muda pada kondisi yang sangat memprihatinkan.

Persoalan ini semakin mengkhawatirkan ketika hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat bahwa kliennya didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tekanan psikologis serius banyak dialami generasi muda. Mereka mungkin tampak baik-baik saja dari luar, tetapi menyimpan persoalan yang tidak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Lantas, mengapa generasi yang hidup di tengah kemajuan teknologi, kemudahan komunikasi, dan berbagai fasilitas justru dapat merasa begitu sendiri dan kehilangan harapan? Mengapa keramaian tidak selalu menghadirkan ketenteraman?

Ketika Ramai Tak Lagi Berarti

Kondisi tersebut tidak cukup dilihat semata sebagai persoalan kesehatan mental individu. Ada lingkungan kehidupan yang turut membentuk cara generasi muda memandang kehidupan dan menghadapi persoalan.

Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan akidah tidak lagi ditempatkan sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai persoalan. Ketika seseorang kehilangan pemahaman bahwa kehidupan merupakan ujian dari Allah dan bahwa setiap kesulitan memiliki hikmah, masalah dapat terasa sebagai beban yang tidak memiliki jalan keluar. Ketika harapan kepada Allah melemah, keputusasaan semakin mudah tumbuh.

Di sisi lain, kapitalisme melahirkan budaya yang kuat dengan orientasi kesuksesan individual. Manusia didorong mengejar prestasi, materi, karier, popularitas, dan pengakuan. Budaya positivisme juga dapat memperkuat pandangan bahwa segala sesuatu harus diukur dari pencapaian dan keberhasilan yang terlihat.

Akibatnya, seseorang dapat terjebak dalam perlombaan untuk membuktikan dirinya. Kegagalan dianggap sebagai ketidakmampuan, sementara meminta bantuan atau menunjukkan kelemahan terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memalukan. Kehidupan pun menjadi semakin asosial. Setiap orang sibuk dengan targetnya masing-masing, sementara ikatan sosial dan kepedulian terhadap sesama semakin melemah.

Inilah paradoks kehidupan modern: semakin banyak koneksi, tetapi belum tentu semakin banyak keterikatan; semakin ramai lingkungan, tetapi belum tentu semakin hilang kesepian.

Persoalan ini pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari sistem yang diterapkan negara. Ketika pendidikan dibangun dalam paradigma sekuler dan kehidupan ekonomi bertumpu pada kapitalisme, terbentuklah individu yang diarahkan mengejar kesuksesan duniawi sekaligus masyarakat yang semakin individualistik. Maka, penyelesaian persoalan tidak cukup hanya dengan menangani dampaknya, tetapi juga perlu menyentuh akar persoalannya.

Islam Membangun Jiwa yang Kokoh

Islam memiliki konsep yang berbeda dalam membangun manusia. Akidah ditanamkan sejak dini sebagai fondasi kehidupan. Seorang Muslim memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah dan kehidupan dunia merupakan tempat ujian.

Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Keyakinan tersebut memberikan kekuatan ketika seseorang menghadapi kesulitan. Masalah tidak dipandang sebagai akhir kehidupan, melainkan bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan sabar, doa, tawakal, dan ikhtiar mencari solusi.

Islam juga mengharamkan bunuh diri. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan tersebut merupakan bentuk penjagaan terhadap jiwa manusia. Kehidupan adalah amanah dari Allah sehingga tidak boleh diakhiri dengan cara yang diharamkan-Nya.

Namun, Islam tidak berhenti pada pembentukan individu. Islam juga membangun keluarga dan masyarakat yang saling menguatkan. Ikatan di antara manusia dibangun berdasarkan akidah, bukan semata kepentingan materi. Seseorang yang menghadapi kesulitan tidak seharusnya dibiarkan memikul bebannya seorang diri.

Keluarga menjadi tempat pertama memperoleh kasih sayang dan perlindungan. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling menolong dan memperhatikan kondisi sesama. Dengan demikian, tidak hanya individu yang dibangun agar kuat, tetapi juga lingkungan sosial yang menjadi tempat mereka bertumbuh.

Negara Menjaga Generasi

Pembentukan generasi yang kokoh membutuhkan peran negara. Dalam perspektif Islam, Khilafah menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Pendidikan dibangun berdasarkan akidah Islam sehingga menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki kepribadian Islam dan tujuan hidup yang jelas.

Sistem ekonomi Islam juga diarahkan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat serta menciptakan kehidupan yang sejahtera. Negara tidak membiarkan masyarakat terjebak dalam kesenjangan dan tekanan ekonomi yang menghilangkan rasa aman dalam kehidupan.

Dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh, terbentuk individu yang memiliki ketahanan iman, keluarga yang saling menguatkan, dan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial. Negara pun hadir bukan sekadar ketika masalah telah terjadi, tetapi membangun sistem yang mencegah lahirnya berbagai persoalan dari akarnya.

Generasi muda seharusnya tidak hanya diajarkan bagaimana sukses, tetapi juga bagaimana memaknai kehidupan. Mereka tidak hanya membutuhkan fasilitas dan prestasi, tetapi juga iman, kasih sayang, lingkungan yang peduli, serta sistem kehidupan yang menjaga mereka.

Sebab, keramaian tidak akan mampu mengusir kesepian jika manusia kehilangan pegangan hidup. Islam hadir untuk membangun generasi yang bukan hanya kuat menghadapi dunia, tetapi juga memiliki tujuan hidup dan harapan kepada Allah SWT.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here