Opini

Maulid: Momentum Meneladani Perjuangan Nabi Muhammad saw.

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Irayani (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, OPINI–Setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal, umat Islam selalu merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan sangat meriah. Di berbagai daerah di Indonesia terdapat tradisi yang berbeda dalam melaksanakan perayaan Maulid Nabi. Mulai dari pawai obor, tabligh akbar hingga lantunan shalawat yang bergema di setiap masjid. Suasana religius terpampang menunjukkan kecintaan terhadap Rasululullah yang begitu meluap.

Kementerian agama (kemenag) pada peringatan Maulid Nabi tahun ini mengajak seluruh umat muslim Indonesia untuk bershalawat dalam menyambut hari kelahiran Nabi. Kemenag mencanangkan agenda gema shalawat kebangsaan untuk mengajak masyarakat lebih mencintai Rasulullah SAW. Pihak Kemenag berharap masyarakat bisa menghidupkan tradisi shalawat sekaligus dapat meneladani akhlak Rasulullah dalam bermasyarakat dan bernegara (Sindo News, 23/08/2026).

Namun sangat disayangkan perayaan yang begitu meriah hanya terasa pada aspek ritualnya saja. Perasaan cinta pada Nabi-nya hanya bersifat emosional belaka. Ramai-ramai bershalawat dan berbondong-bondong menghadiri tabligh akbar mengenang hari kekalirannya namun lupa pada apa yang diajarkannya.

Pada setiap perayaan hari kelahiran Nabi, pembahasan tentang ittiba’ kepada Rasul memang selalu didengungkan. Namun pembahasannya masih sangat terbatas pada keteladanan akhlak beliau saja. Belum mencapai pada kesadaran untuk mengubah cara pandang masyarakat yang masih nengagungkan dunia dan hawa nafsunya menuju pada perubahan sistem Islam yang berpegang pada ketakwaan terhadap Allah SWT.

Maulid Nabi seharusnya menjadi tonggak bagi kaum muslim untuk kembali kepada sistem yang telah digunakan oleh Rasulullah SAW. Saat ini kita masih terkungkung dalam sistem jahiliyah modern yang mengagungkan materi, popularitas serta kepuasan nafsu sebagai hal yang diutamakan. Sudah seharusnya dengan adanya momentun Maulid nabi kita berani mengambil tindakan untuk kembali kepada apa yang telah diterapkan oleh Nabi. Bukan hanya sekedar memperbaiki akhlak tetapi juga mengganti sistem yang rusak dan bertentangan dengan syariat Islam menjadi sistem yang dicontohkan oleh baginda Nabi.

Sebenarnya, dalam lingkungan umat Islam itu sendiri telah muncul berbagai pemikiran untuk mengubah keadaan umat. Hal ini bisa dilihat dari keresahan masyarakat akan kemiskinan yang semakin akut, korupsi merajalela hingga rusaknya moral anak bangsa yang semakin massif. Banyak kajian serta gerakan yang ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik. Namun arah perjuangan dan metodenya tidak sama seperti yang dicontohkan Rasulullah.

Rasulullah SAW memulai perubahan dengan membangun fikrah dan thoriqoh di tengah umat dengan aqidah Islam, membentuk jamaah dengan pemahaman Islam yang kaffah. Bukan hanya dengan mengubah akhlak individunya saja. Beliau berjuang secara politis dan mengubah sistem masyarakat jahiliyah menjadi sistem Islam.

Sedangkan saat ini kaum muslim berjuang hanya bermodalkan ceramah dan motivasi belaka. Berharap pada perubahan akhlak individu saja. Dan sebagian ada yang berjuang di bawah naungan sistem yang bertentangan dengan sistem Islam yaitu sistem demokrasi. Padahal demokrasi itu berasal dari sistem kufur.

Saat ini Maulid Nabi sesungguhnya telah banyak kehilangan makna sejatinya. Maulid Nabi hanya dirayakan tanpa konsekuensi mencintai apa yang telah dirisalahkan olehnya. Maulid hanya sekedar kemerduan shalawat dan mendengarkan ceramah tentang pentingnya akhlak yang baik seperti akhlak Rasulullah. Setelah acara berakhir tak ada yang berubah baik pemikiran maupun pola sikapnya.

Hal yang paling menakutkan saat ini adalah umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah terus berlangsung. Penghambaan kepada sistem kufur bernama demokrasi, kapitalisme dan juga liberalisme. Menjadikan demokrasi sebagai pemegang suara tertinggi, kapitalisme sebagai penyembah harta dan liberalisme sebagai penyembah kebebasan hawa nafsu. Dan semua itu menjadikan tujuan akhir hidup manusia hanyalah dunia bukan lagi akhirat.

Sistem kapitalisme hari ini semakin kuat menancapkan kekuatannya. Kapitalisme akan terus berusaha menghalangi kebangkitan umat dengan berbagai cara. Melalui sistem pendidikan, ekonomi bahkan melalui media sosial dengan segala tipu dayanya yang membuat manusia lebih mudah meniru yang buruk ketimbang yang baik.

Saat ini mengembalikan makna ittiba’ yang sesungguhnya adalah tugas yang sangat penting bagi kaum muslim. Hari ini kaum muslimin terjebak dalam penerapan sistem kapitalisme sekularisme, di mana penerapan syari’at Islam hanya bersifat parsial. Padahal wujud dari mencintai Allah dan Rasulnya adalah keterikatan terhadap hukum syara.

Mencintai Rasul berarti melaksanakan segala risalah yang dibawanya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Nabi Muhammad), Jika kamu nencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Surah Ali Imran: 31)

Mengembalikan makna ittiba’ sesungguhnya adalah mengembalikan umat pada kehidupan Islam secara utuh. Menjadikan hukum Allah sebagai pedoman hidup dan menjadikan metode dakwah Rasulullah sebagai metode untuk membangkitkan umat melawan sistem jahiliyah modern. Untuk itu kaum muslim saat ini harus berjuang untuk bisa menegakkan kembali penerapan Islam secara kaffah.

Sejatinya umat wajib meniru metode dakwah yang digunakan oleh Rasulullah dalam membangun Daulah Islam. Metode dakwah Rasulullah melalui tiga tahapan yaitu marhalah atau tahap pembinaan dan pengkaderan (tatsqif), tafa’ul ma’al ummah wal kifah yaitu tahap berinteraksi dengan masyarakat dan perjuangan, dan yang ketiga adalah tahap istilamul hukmi atau tahap penerimaan kekuasaan.

Dengan menggunakan ketiga metode inilah Islam bisa ditegakkan di masa Rasulullah. Dan dengan metode ini pulalah Islam akan kembali berdiri menjadi cahaya dan rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah SWT, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al Anbiya: 107).

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here