Opini

Merawat Cinta Kepada Nabi Muhammad saw.

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Pri Afifah (co.founder literasiyun.id)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Ada yang menarik dari berita sindonews.com pada 23 Agustus 2026. Dalam rangka menyambut Rabiulawal 1448 H, Kementerian Agama mengajak satu juta lebih umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, yang dirancang sebagai ruang bersama untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. sekaligus meneladani akhlaknya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Tentu, ini kabar yang menggembirakan. Bayangkan hampir 1,8 juta orang berselawat bersama. Di tengah kehidupan yang serba cepat, ketika orang lebih mudah menghafal tren TikTok daripada sirah Nabi, masih ada jutaan umat yang berkumpul untuk mengingat manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini.

Tetapi, sebagai umat yang mencintai Rasulullah SAW, rasanya kita perlu bertanya lebih jauh. Setelah jutaan lisan berselawat, lalu apa? Apakah kecintaan itu selesai ketika acara berakhir, apakah Maulid cukup menjadi momentum untuk menghadirkan rasa haru, mengagungkan akhlak Nabi, lalu pulang membawa kenangan indah? Atau justru Maulid harus menjadi titik balik untuk mengenal lebih dalam siapa Rasulullah SAW. dan bagaimana beliau memperjuangkan risalah Islam.

Cinta membutuhkan bukti. Allah SWT. bahkan memberikan ukuran yang sangat jelas:

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)

Perhatikan kata ittiba’ (mengikuti), artinya, kecintaan kepada Rasulullah SAW. bukan hanya soal hati yang bergetar ketika namanya disebut, bukan hanya memperbanyak selawat, bukan pula sekadar mengetahui bahwa beliau adalah manusia yang paling lembut, paling penyayang, dan paling mulia akhlaknya.

Kita juga perlu belajar bagaimana Rasulullah SAW membawa perubahan. Karena Rasulullah SAW. tidak datang ke dunia hanya untuk mengajarkan manusia bagaimana menjadi pribadi yang baik secara individual. Beliau membawa risalah Islam untuk mengubah kehidupan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan hanya kepada Allah. Perubahan sebesar itu tentu tidak terjadi dalam satu malam. Rasulullah SAW. menempuh sebuah metode perjuangan. Dalam perspektif dakwah yang menekankan metode perjuangan Rasulullah SAW, terdapat tiga tahapan penting: tatsqif, tafa’ul ma’al ummah, dan istilamul hukmi.

Pertama, tatsqif. Rasulullah SAW membina individu dengan pemikiran dan akidah Islam. Membentuk manusia-manusia yang memahami siapa Rabb-nya, tujuan hidupnya, serta konsekuensi keimanannya. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, terutama para ibu. Kita sering sibuk memikirkan pendidikan anak, sekolah mana yang bagus, les apa yang perlu diikuti, bagaimana agar nilainya tinggi, bagaimana supaya kelak mendapatkan pekerjaan yang baik. Semua itu penting. Tapi ada pertanyaan yang lebih mendasar, sudahkah anak-anak kita memahami untuk apa mereka hidup? Jangan sampai anak kita tumbuh pintar, tetapi tidak memahami tujuan hidupnya. Pandai mengejar dunia, tetapi lupa kepada siapa dunia itu seharusnya dipersembahkan. Karena perubahan umat selalu dimulai dari manusia yang memiliki kesadaran.

Kedua, tafa’ul ma’al ummah, berinteraksi dengan umat. Dakwah Rasulullah SAW. tidak berhenti di ruang pembinaan individu. Beliau berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan Islam, mengajak mereka berpikir, membongkar kesalahan pemikiran jahiliyah, dan membangun kesadaran di tengah masyarakat. Di sinilah dakwah menjadi pekerjaan bersama.

Tidak harus menunggu menjadi baik. Tidak harus menunggu punya ribuan followers. Kita bisa memulainya dari lingkaran terdekat. Dari obrolan dengan teman, grup WhatsApp, majelis ilmu, mengajak sahabat datang kajian. Juga dari mendidik anak dengan pemahaman Islam. Sederhana, tetapi jangan diremehkan. Rasulullah SAW juga memulainya dengan orang-orang terdekatnya. Khodijah ra. Abu Bakar ra. Ali ra mereka adalah istri, sahabat dan sepupu Beliau.

Ketiga, istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan. Dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, Islam kemudian hadir sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat di Madinah. Islam tidak hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi menjadi dasar dalam mengatur berbagai urusan kehidupan. Kita bisa memahami bahwa keteladanan Rasulullah SAW. memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar akhlak personal. Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana kita salat. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia menjalani kehidupan. Bukan hanya bagaimana kita menjadi ibu yang sabar. Tetapi juga bagaimana masyarakat dibangun dengan aturan yang bersumber dari Allah. Bukan hanya bagaimana kita bersedekah ketika melihat orang miskin. Tetapi juga bagaimana persoalan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat dipandang sebagai tanggung jawab yang harus diselesaikan secara serius.

Maka, kalau hari ini umat Islam masih menghadapi berbagai persoalan, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk memperluas kesadaran. Bukan menyalahkan siapa-siapa. Bukan pula meremehkan selawat. Justru sebaliknya, selawat harus menjadi energi untuk mengenal Rasulullah SAW lebih dalam. Sebab apa artinya jutaan lisan berselawat jika umat tidak semakin mengenal risalah yang beliau bawa. Apa artinya kita menangis ketika mendengar kisah Nabi, tetapi tidak tertarik mempelajari bagaimana beliau membangun umat. Apa artinya kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi tidak berusaha mengikuti perjuangannya. Umat Islam hari ini jumlahnya sangat besar. Tetapi terkadang kita seperti buih di lautan. Banyak, tetapi mudah diombang-ambingka. Banyak, tetapi mudah dipisahkan. Banyak, tetapi sering kehilangan arah bersama. Maka, mungkin inilah pekerjaan besar kita setelah Maulid, mengubah kecintaan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi amal, dan amal menjadi perjuangan yang terarah.

Mari kita mulai dari diri sendiri. Dari rumah, keluarga, sahabat, dan tetangga sekitar yang mampu kita jangkau. Dari keberanian untuk terus belajar dan mengajak orang lain belajar. Karena perubahan umat bukan pekerjaan satu orang. Namun, membutuhkan banyak hati yang sadar, banyak kepala yang berpikir, dan banyak kaki yang mau melangkah. Maka, Gema Selawat Kebangsaan dengan jutaan umat yang berselawat jangan berhenti sebagai angka yang indah dalam berita. Jadikan ia awal dari sesuatu yang lebih besar. Selawat yang melahirkan cinta. Cinta yang melahirkan ittiba’. Ittiba’ yang melahirkan kesadaran. Kesadaran yang mendorong kita untuk sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW. bukan hanya dalam akhlaknya, tetapi juga dalam dakwah dan perjuangannya membawa risalah Islam.

Sebab Rasulullah SAW. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Semoga Maulid tahun ini tidak hanya membuat langit dipenuhi selawat. Negeri ini juga dipenuhi manusia-manusia yang semakin mengenal Islam, semakin mencintai Rasulullah SAW, semakin peduli kepada umat, dan semakin sungguh-sungguh menapaki jalan dakwah. Karena pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar tentang seberapa merdu kita berselawat, tetapi seberapa sungguh kita mengikuti risalah yang beliau bawa.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 12

Comment here