Oleh: Eni Yulika
Wacana-edukasi.com, OPINI–Belum selesai karhutla di Kalimantan, merambat ke hutan di Riau yang turut terbakar. Dikutip dari bpba.acehprov.go.id (31/09/2026) kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Aceh Tengah. Kali ini, kebakaran melanda kawasan hutan pinus dan perkebunan masyarakat di Desa Kenawat, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, pada Senin, 31 Agustus 2026. Kebakaran mulai diketahui sekitar pukul 19.40 WIB dan hingga malam hari petugas masih melakukan upaya pemadaman di lokasi kejadian.
Analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada akhir Agustus 2026, BMKG mencatat El Nino kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla di sejumlah provinsi. Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api.
Kementerian Lingkungan Hidup juga menyampaikan ternyata sebagian besar kasus kebakaran adalah ulah manusia. Dengan memanfaatkan fenomena El Nino. Salah satunya adalah untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit, atau kelalaian manusia seperti membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok sembarangan, atau aktivitas mencari madu hutan menggunakan asap untuk mengusir lebah. Tetapi paling banyak adalah kasus pembukaan lahan.
Pihak terkait sebenarnya telah jauh hari menghimbau adanya resiko kebakaran tersebut. Banyak pihak terkait, mengarahkan untuk memberikan edukasi lebih. Seperti edukasi bahwa kelalaian terhadap sumber api sekecil apapun bisa berdampak terbakarnya lahan yang sulit dikendalikan. Begitu pula agar tidak membuka lahan dengan cara membakar hutan. Berikut larangan pengrusakan hutan yang berlebihan. Tetapi semua ini tidaklah diindahkan. Bahkan kasus serupa berulangkali terjadi.
Itu masih tahapan pencegahan. Belum terkait pasca bencana terjadi. Harusnya dengan potensi hutan yang cukup besar di negeri kita. Kita sudah mempersiapkan penanggulangan bencana. Seperti peralatan untuk memadamkan api yang efisien dan cepat. Apalagi banyak peralatan canggih yang bisa dipakai. Tetapi lagi-lagi itu butuh fokus dalam penanganan bencana. Ternyata kita belum menganggap bencana karhutla sebagai fokus masalah. Sehingga dengan kejadian kebakaran hutan yang terus berulang, kita masih kekurangan peralatan canggih untuk memadamkannya.
Kita patut belajar dari negara lain untuk menanggulangi bencana kebakaran, misalkan penggunaan drone oleh negara-negara seperti Australia dan Amerika Serikat. Teknologi ini memungkinkan pemantauan area yang luas dengan akurasi tinggi serta dapat menyuplai air atau bahan kimia pemadam secara efisien dari udara. Di negara-negara Eropa, seperti Swedia dan Finlandia, menggunakan mobil pemadam kebakaran yang dilengkapi teknologi automasi dan sistem pemantauan.
Maka, kita terus harus mempercepat pengembangan teknologi. Selain teknologi, juga harus dipelajari dari wilayah hutan yang ada, dengan bekerja sama dengan para pakar lingkungan hidup. Sehingga dapat dipetakan, dan dipelajari metode apa yang tepat untuk penanganan kebakaran hutan di wilayah setiap provinsi. Selain itu juga dibutuhkan dana yang lebih untuk dialokasikan dalam mengatasi masalah kebakaran.
Selain itu cara pandang terhadap masalah ini haruslah dipandang serius. Karena dampaknya sangatlah luas. Hutan rusak, habitat hewan hilang, tempat pencaharian makanan masyarakat hilang, udara menjadi kotor, bahkan bisa berdampak bencana yang lebih besar seperti banjir, longsor, dan penyakit. Sehingga jika ini tidak dipandang masalah serius, wajar sampai sekarang kita gagal dalam pencegahan dan penanggulangannya. Ibarat pepatah mengatakan ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Seakan derita rakyat bukanlah pelajaran yang harus diambil hikmahnya. Tetapi dibiarkan berulang dan terjadi lagi.
Sehingga patutlah kita bercermin kepada pemilik alam ini. Ternyata islam sudah jauh hari memperingatkan kepada kita manusia untuk kembali kepada syariat-Nya. Bahwasanya kerusakan yang terjadi di bumi ini adalah kebanyakan ulah tangan manusia. Hewan juga berharap bisa hidup dengan tenang di dalam hutan. Islam sangat menjaga kelestarian hutan dan yang terkandung di dalamnya. Karena keberkahan akan Allah datang ketika kita menjaga hutan.
Bagaimana gambaran kisah di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Antara serigala dan kambing bisa hidup bersebelahan tanpa saling mengganggu. Bahkan Umar sering menangis di malam hari. Karena takut berbuat aniaya termasuk pada hewan yang terpelosok di jalan yang berlubang.
Hutan juga harus dilindungi di dalam islam. Tidak boleh merusak bahkan jikalau Ada kekayaan tambang di dalamnya. Karena jika kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar, maka kehidupan manusia akan musnah. Pemanfaatan kayunya pun harus diawasi. Tidak dalam jumlah yang terus bertambah seperti hari ini. Sudah punya pabrik minyak, tetapi masih terus menambah kebun kelapa sawit bahkan hutan setiap tahun semakin berkurang. Demi menambah cuan para pengusaha, bukan demi rakyat.
Perlu kita ingat peringatan Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 50, yaitu ‘Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah SWT bagi kaum yang yakin’. Kita adalah manusia, harusnya kita menggunakan akal sehat kita untuk mau diatur dengan hukum Allah SWT. Islam akan menjaga kelestarian hutan di muka bumi dan manusia seluruhan. Apalagi hadist Rasulullah SAW, sangat menghargai manusia yang menanam sebuah kehidupan berupa satu buah pohon dengan banyaknya pahala yang mengalir. Hadist riwayat dari Bukhari dan Muslim yaitu,
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menebar benih tanaman. Lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, melainkan hal itu bernilai sedekah”.
Views: 4


Comment here