Oleh : Ummu Nazriel (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
wacana-edukasi.com, OPINI--Bulan Robi’ul awal mengenang kelahiran Nabi Muhammad Saw bagi umat Islam sebagai suri tauladan terbaik di kehidupan ini. Negeri kita diberbagai daerah menyambut maulid Nabi Saw diadakan dengan gegap gempita untuk mengenang dan meneladani akhlak dan prilaku beliau.
Dari tahun ke tahun perayaan maulid Nabi Saw dirayakan dengan bacaan sholawat penuh semangat, tapi apakah renungan untuk mengikuti Rosulullah Saw secara menyeluruh benar-benar didapat?
Jelas di negeri demokrasi yang asas kehidupan nya kapitalisme, sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, Islam hanya dianggap agama ritual dan dipilih- pilih seperti prasmanan. Padahal seharusnya Islam menjadi pedoman kehidupan yang segala aturan nya langsung dari sang pencipta Allah SWT.
Islam sebagai Mabda ideologi. Yang akan mengatur kehidupan dari bangun tidur sampai bangun negara. Kita bisa melihat sejarah perjuangan Rosulullah Saw ketika hijrah ke Madinah yang menyatukan kaum Muhajirin dan anshor. Lalu mendirikan kehidupan Islam disana.
Ittiba’ yaitu mengikuti Rasulullah saw. secara menyeluruh. Bukan cuma seremonial tahunan belaka yang membahas perubahan akhlak dan keimanan, bahkan seharusnya lebih dari itu.
Seharusnya peringatan maulid Nabi Saw dijadikan untuk kebangkitan umat bahwa umat Islam itu dulu pernah bersatu dalam satu komando yaitu kehidupan daulah khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah, umat Islam hidup penuh dengan kejayaan, bermartabat serta penuh keberkahan dari Allah SWT.
Bukan seperti sekarang umat islam terpecah belaka disekat menjadi beberapa wilayah. Bahkan makin miris lagi yang kita liat sekarang suadara muslim kita dibeberapa negara banyak yang tertindas dan terzalimi oleh kaum kafir yahudi.
Di dalam Al Qur’an banyak dijelaskan bahwa bukti cinta kita pada Nabi bukan cuma meneladani akhlak dan kehidupan nya. Tapi juga dengan mencintai Allah SWT dan segala syariat Nya. Dalam Al Qur’an surat Ali Imran: 31 yang artinya :
“Katakanlah (Muhammad) jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosa mu. Allah maha pengampun, maha penyayang.”
Meneladani kehidupan Raulullah saw. harus dibarengi juga dengan perjuangannya, untuk menyatukan umat dalam satu pemikiran, perasaan dan aturan. Yaitu dengan dilandasi keimanan kepada Allah SWT sebagai Al khalik Al mudabir. Merubah masyarakat dengan aqidah Islam yang kuat dan negara yang berhukum dengan melaksanakan hukum dari Allah SWT.
Seorang ulama terkemuka pendiri Hizbut tahrir syek Taqiyuddin an nabhani dalam kitabnya Attakatul Al Hizbi menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam ada beberapa cara saat Rosulullah Saw mendirikan daulah Islam dimadinah, diantara yaitu:
Pertama, tastqif atau pembinaan. Umat akan dibina dengan shaqofah Islam kaffah seperti seruan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah:208. Umat dipahami dengan aqidah Islam yang kuat, memahami kehidupan dunia ini untuk apa dan akan ke mana.
Kedua, tafa’ ul ma’al ummah yaitu interaksi dengan umat. Bahwa Islam adalah jalan hidup yang lurus dan diridhoi oleh Allah SWT. Tersadarkan seperti negara saat mengelola Sumber Daya Alam tidak dikuasai asing. Seharusnya segala hasil alam dikelola dengan benar untuk mensejahterakan rakyatnya.
Ketiga, istilamul hukmi sebagai penerimaan kekuasaan. Jika umat sudah terfahamkan dengan Islam kaffah, meneladani perjuangan nabi Saw, serta meyakini dengan negara menjalankan syariat Allah dimuka bumi ini maka kehidupan sejahtera penuh berkah akan didapatkan. Dan umat bersatu untuk mendirikan daulah khilafah.
Ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa umat Islam akan berkuasa dimuka bumi ini sebagai pemimpin. Jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan tidak mempersekutuhkan Nya.
Yang artinya:”Allah akan menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukan Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” Al-Qur’an surat an Nuur:55
Janji Allah itu pasti, cinta Nabi Saw harus dengan bukti. Bukan cuma perayaan dengan sholawatan. Memahami perjuangan dakwahnya, menegakkan kehidupan Islam. Karena yakin Daulah khilafah akan tegak kembali di muka bumi ini.
Perjalanan hidup memang pilihan kita, apakah menjadi bagian pendakwah yang perjuangan Islam? Atau hanya jadi penonton, yang cukup berdoa menunggu pertolongan Allah itu tiba. Ittiba’ pada Nabi Muhammad saw. melanjutkan perjuangan Islam, menegakkan syariat Allah SWT akan memberi keselamatan dan keberkahan bagi seluruh alam.
Views: 16


Comment here