Opini

Tren Freestyle Merenggut Nyawa

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Watini Aatifah, S.S.

Wacana-edukasi.com, OPINI–Seorang bocah bernama Hamid Izan Wadi berusia 8 tahun di desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia diduga setelah melakukan aksi freestyle yang terinspirasi dari game online. Siswa tersebut mengalami cedera parah di bagian leher, diduga tulang lehernya patah. Menurut keterangan orang tuanya, korban dibawa ke rumah sakit Selong kemudian dirujuk ke RSUP untuk menjalani operasi patah tulang leher. Setelah sempat sembuh dan pulang, kondisinya kambuh lagi, lalu dibawa ke Rumah Sakit Selong hingga akhirnya meninggal dunia (Kumparan, 07/05/2026).

Miris, nyawa seorang anak melayang hanya karena dia meniru apa yang dia tonton. Anak adalah peniru yang baik, namun fatalnya yang dia tiru adalah sesuatu yang berbahaya yang pada akhirnya merenggut nyawanya sendiri. Nalar anak yang belum sempurna memungkinkan mereka mengikuti begitu saja apa yang mereka anggap menarik untuk dilakukan. Apalagi mereka mendapatkan free style ini dari game online dan sosial media tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Kurangnya pendampingan oleh orang tua membuat mereka dengan mudah mendapatkan akses informasi merusak dan berbahaya.

Lemahnya kontrol lingkungan juga berpengaruh. Anak-anak dibiarkan bermain sendiri tanpa adanya pengawasan. Saat ini banyak anak-anak dibiarkan main sendiri, dikasih handphone agar mereka diam, dan tidak merengek. Menurut sebagian orang tua cara tersebut adalah cara yang aman, tapi dampaknya luar biasa jika anak bermain handphone tanpa adanya pengawasan dari orang tua.

Negara juga lalai terhadap kontrol akses terhadap konten online yang bisa diakses oleh anak-anak yang belum bisa membedakan mana salah dan benar. Semua ini terjadi karena sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga negara abai terhadap tanggung jawabnya atas keselamatan generasi saat ini. Konten tidak di saring mana yang baik dan mana yang memberikan dampak buruk, semua dibiarkan tayang di media sosial selama memberikan keuntungan. Tanpa memikirkan masa depan generasi.

Islam memiliki sistem pendidikan yang sangat jelas tujuannya. Sistem pendidikan Islam berlandaskan aqidah Islam. Dalam Islam, anak-anak yang belum baligh tidak dikenakan taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Anak seperti kertas putih yang masih kosong dan orang tua sebagai penanya. Mau menjadi seperti apa anak kita tergantung pada orang tuanya. Ketika anak akalnya belum sempurna maka wajib bagi orang tua untuk mengarahkannya pada kebaikan. Mengajarkan mana yang salah dan mana yang benar mana boleh mana tidak boleh dengan syariat Islam sebagai pedomannya.

Orang tua atau wali memiliki tanggungjawab untuk mendidik dan mengasuh mereka serta memberikan perlindungan dari segala bentuk bahaya. Sebagai orang tua sebelum ia mendidik pasti dia juga harus belajar dan menuntut ilmu. Bagaimana orang tua bisa mendidik jika dia tidak belajar dan menuntut ilmu? Maka dari itu menjadi orang tua adalah proses yang panjang, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Setiap individu sebelum atau setelah menjadi orang tua dia tetap harus terus belajar memperbaiki diri juga mendalami ilmu agama agar bisa mendidik anak. Dengan cara mendatangi majelis ilmu dan berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Pendidikan yang utama bukan di sekolah-sekolah tapi ada di dalam rumahnya. Bagaimana seoarng ayah menjalani hari-harinya sebagai kepala keluarga dan seoarng ibu yang melakukan kewajibannya sebagai ummu wa rabbatul bait akan dilihat oleh anaknya dan akan ditiru oleh anaknya. Sehingga ketakwaan individu menjadi sangatlah penting dalam mendidik anak.

Pendidikan dalam Islam bertumpu pada tiga pilar, yaitu orang tua, lingkungan dan negara. Selain ketakwaan orang tua, lingkungan juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dan pembentukan karakter. Anak yang tumbuh di dalam lingkungan yang baik dia akan tumbuh menjadi anak yang baik, begitu juga sebaliknya jika anak tumbuh di dalam lingkungan yang kurang baik maka dia akan menjadi anak yang kurang baik akhlaknya. Sebegitu berpengaruhnya lingkungan dalam mendidik dan pembentukan karakter anak. Dengan begitu penguasa Islam akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal.

Negara juga akan membatasi secara ketat informasi yang tidak bermanfaat dan bahkan berpotensi membahayakan generasi. Termasuk situs yang menayangkan freestyle, dengan memberikan sanksi menutup secara permanen situs yang berpotensi merusak generasi. Negara akan menutup semua situs-situs yang serupa yang tidak memberikan manfaat terhadap masa depan generasi, dan akan memperbanyak situs-situs yang bisa memberikan hal positif seperti situs edukasi. Negara juga akan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai dan tenaga pendidik yang berkualitas serta mengawasi jalannya pendidikan di setiap lini mulai dari keluarga dan lingkungan sekolah, dengan demikian generasi akan terjaga tumbuh kembangnya mulai dari akademisnya ketakwaannya dan karakternya sesuai dengan kepribadian Islam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comment here