Oleh: Rita Pajarwati
Wacana-edukasi.com, OPINI–Peristiwa berdarah di kampus kembali mengguncang publik. Seorang mahasiswi berinisial FA menjadi korban pembacokan oleh sesama mahasiswa berinisial RM ketika sedang menunggu sidang proposal skripsi di kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Akibat peristiwa tersebut korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala. Motif pelaku diduga karena tidak terima cintanya ditolak korban (Metrotvnews.com, 26/02/26). Tragedi ini bukan sekadar kisah asmara yang berujung kekerasan. Ini adalah potret retaknya fondasi pembinaan generasi muda hari ini.
Kekerasan Remaja dan Normalisasi Gaul Bebas
Fenomena kekerasan yang dipicu relasi asmara semakin sering muncul dalam kehidupan remaja dan mahasiswa. Cinta yang seharusnya menjadi urusan pribadi berubah menjadi sumber konflik, bahkan kekerasan. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah normalisasi pergaulan bebas dalam budaya sekuler. Pacaran, hubungan tanpa komitmen jelas, hingga relasi emosional yang ambigu kini dianggap wajar. Hubungan yang tidak memiliki batas moral yang jelas membuat emosi menjadi liar, cemburu berlebihan, posesivitas, hingga dendam ketika ekspektasi tidak terpenuhi. Dalam ruang sosial seperti ini, konflik asmara mudah berubah menjadi tragedi.
Kasus ini sekaligus mengungkap sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk kepribadian generasi. Perguruan tinggi hari ini sibuk mengejar capaian akademik, indeks prestasi, keterampilan teknis, dan kesiapan kerja. Tetapi pembentukan kepribadian mulia sering hanya menjadi slogan seremonial. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual tetapi miskin kendali diri. Mereka mampu menyusun skripsi, tetapi gagal mengelola emosi. Mereka memahami teori hukum, tetapi tidak mampu menahan amarah. Ironisnya, tragedi itu justru terjadi di lingkungan kampus yang secara simbolik membawa nama lembaga pendidikan Islam.
Sekularisme-Liberalisme dan Kebebasan Tanpa Batas
Sekularisme menanamkan gagasan bahwa manusia bebas menentukan nilai hidupnya sendiri. Agama diposisikan sebagai urusan privat, bukan panduan hidup. Akibatnya, standar moral tidak lagi bersandar pada halal dan haram, melainkan pada selera dan keinginan pribadi. Kebebasan menjadi nilai tertinggi. Dalam paradigma seperti ini, relasi laki-laki dan perempuan dipandang sebagai ekspresi kebebasan individual. Tetapi kebebasan tanpa batas tidak pernah benar-benar netral. Ia sering melahirkan konflik, manipulasi emosional, bahkan kekerasan. Ketika keinginan pribadi dianggap hak mutlak, penolakan bisa berubah menjadi penghinaan. Dari sanalah kemarahan lahir dan mengalahkan rasionalitas.
Nilai-nilai liberalisme yang terus dipromosikan dalam budaya sekuler membuat batas moral semakin kabur. Pacaran dianggap tahap normal kehidupan. Perselingkuhan bahkan sering dijadikan bahan hiburan dalam film, musik, dan media sosial. Ketika nilai-nilai ini dinormalisasi dalam keluarga dan masyarakat, generasi muda tumbuh tanpa batas yang jelas. Hubungan antar lawan jenis tidak lagi dipagari oleh tanggung jawab moral dalam pernikahan yang sah. Dampaknya bukan hanya konflik emosional, tetapi juga perubahan perilaku yang bertentangan dengan norma agama. Dalam beberapa kasus, konflik itu bahkan berujung pada kekerasan fatal seperti yang terjadi di kampus tersebut.
Masalahnya tidak berhenti pada budaya pergaulan. Sistem negara yang kapitalistik juga turut memperparah keadaan. Dalam logika kapitalisme, generasi dipandang terutama sebagai sumber daya ekonomi. Pendidikan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja produktif, bukan manusia yang berkepribadian luhur. Akibatnya, pendidikan moral sering menjadi pelengkap administratif, bukan fondasi utama. Negara sibuk mempersiapkan generasi untuk pasar kerja, tetapi lalai membina karakter mereka. Ketika pembinaan moral dilemahkan, masyarakat hanya bisa bereaksi setelah tragedi terjadi.
Solusi Pendidikan Islam dan Peran Negara dalam Menjaga Generasi
Berbeda dengan sistem sekuler, pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah. Tujuannya bukan sekadar mencetak manusia terampil, tetapi membentuk kepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikap yang tunduk pada syariat. Generasi dididik sejak awal untuk memiliki kesadaran terhadap halal dan haram. Mereka dibentuk untuk memahami tanggung jawab, mengendalikan hawa nafsu, dan menumbuhkan ketakwaan. Prestasi akademik tetap penting, tetapi tidak pernah menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Di sisi lain, masyarakat dalam sistem Islam memiliki peran aktif dalam menjaga moral publik. Budaya amar makruf nahi munkar membuat penyimpangan sosial tidak dianggap sebagai kebebasan pribadi, tetapi sebagai masalah bersama yang harus dicegah. Lingkungan sosial seperti ini menciptakan suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan generasi dari perilaku menyimpang.
Dalam sistem pemerintahan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam membina generasi. Negara bukan sekadar regulator ekonomi, tetapi penjaga moral masyarakat. Aturan dan sanksi diterapkan sesuai hukum Islam untuk melindungi kehormatan manusia dan menjaga keamanan publik. Sanksi bukan hanya hukuman, tetapi juga pencegah agar kejahatan tidak terulang. Ketika hukum ditegakkan secara tegas dan sistem pendidikan membentuk karakter sejak awal, potensi kekerasan sosial dapat ditekan secara signifikan.
Tragedi di kampus itu seharusnya dibaca sebagai alarm sosial. Kekerasan yang dipicu konflik asmara bukan sekadar masalah individu, tetapi cermin dari sistem yang gagal membina manusia. Selama pendidikan hanya mengejar kecerdasan tanpa membangun kepribadian, tragedi serupa akan terus berulang. Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin terus menambal kerusakan generasi, atau mulai berani meninjau ulang sistem yang membentuknya?
Wallahu’alam bishshowwab.
Views: 17


Comment here