Opini

Melindungi Generasi dari Ancaman Ekstrimisme Ruang Digital

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Emil Apriani 

wacana-edukasi.com, OPINI–Dunia pendidikan kembali digemparkan dengan kasus ledakan di lingkungan sekolah. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kalimantan Barat. Seorang siswa melempar bom molotov ke sekolahnya (3/2/2026) karena terpapar konten kekerasan dan diduga tergabung dalam komunitas daring bernama True Crime Community. Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta terjadi pada November 2025.

Kasus di Kalimantan Barat dan Jakarta bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa. Hal ini menyingkap tabir gelap TCC dalam ruang digital yang nyata mengancam masa depan generasi.

Ancaman Ekstremisme Ruang Digital 

True Crime Community adalah komunitas daring yang memaparkan narasi tentang kisah kejahatan nyata yang mengandung unsur ekstremisme dan kekerasan. Narasi tersebut lekat dengan pengaruh gagasan neo-Nazi, rasisme, dan supremasi ras kulit putih. Densus 88 menemukan bahwa TCC tidak didirikan oleh tokoh maupun institusi formal tetapi tumbuh secara sporadis, seiring dengan perkembangan media digital.

Maraknya ekstremisme yang melibatkan pelajar sekolah menjadi alarm keras, bukti kegagalan sistem pendidikan saat ini. Pendidikan seharusnya menjadi tempat pembentukan generasi unggul dan beradab.

Ironisnya, pendidikan hari ini justru menitik beratkan pada capaian akademik dan kompetensi teknis. Masalah ketakwaan tidak menjadi tujuan kurikulum pendidikan, sebab agama dipandang sebagai urusan pribadi. Walhasil, agama hanya disampaikan sebagai mata pelajaran bukan pembentuk kepribadian.

Seperti inilah paradigma sistem pendidikan kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik. Tanpa benteng agama, pendidikan gagal membantu peserta didik mengolah tsunami informasi di media sosial. Mereka kehilangan standar untuk membedakan yang haq (benar) dan yang bathil (salah). Akhirnya, komunitas ekstremisme dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri demi mencari identitas.

Di sisi lain, ketahanan keluarga sebagai benteng pertama pendidikan anak juga semakin rentan. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, serta perubahan pola interaksi sosial, membuat pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap anak kian melemah. Minimnya komunikasi yang berkualitas di rumah, membuka ruang bagi anak untuk mencari pengakuan dan identitas di luar rumah, termasuk melalui komunitas daring ekstremisme.

Situasi kian runyam, lantaran pihak yang seharusnya berperan sebagai pengurus rakyat, justru abai dengan kewajibannya. Negara dalam sistem sekuler kapitalisme setengah hati mengurus rakyat. Negara lamban memberantas faktor-faktor pemicu tindak kriminalitas seperti komunitas TCC. Jadilah kekerasan yang dilakukan generasi muda yang dipicu oleh komunitas ekstremisme semakin marak.

Islam Melindungi Fitrah Generasi 

Generasi membutuhkan sistem pendidikan yang mampu menjadikan diri mereka sebagai hamba Allah yang tangguh. Pendidikan seperti ini, akan membuat mereka menjadi orang-orang yang mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Pendidikan Islam akan mencetak generasi yang selesai dengan dirinya sendiri. Sehingga mampu merespon apapun yang ada di sekelilingnya dengan benar dan tepat sesuai syariat Islam.

Islam sebagai sistem kehidupan bagi manusia, telah meletakkan pilar-pilar pendidikan bagi generasi, berada dalam keluarga, masyarakat dan negara. Pendidikan yang dibentuk, harus bertumpu pada pembentukan syaksiah Islamiyah, yakni kepribadian yang dibangun di atas pola pikir dan pola sikap yang berstandar pada akidah Islam.

Pada level keluarga, Allah Ta’ala memerintahkan untuk mendidik anak menjadi hamba yang solih, solihah agar memiliki orientasi hidup yang jelas, menggunakan standar halal haram dalam bertindak dan sadar setiap amal perbuatan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim ayat 6)

Di mana orang tua harus hadir secara utuh dalam pengasuhan untuk menjaga keluarga dari api neraka.

Pada level masyarakat, Allah memberintahkan kaum muslimin untuk saling memberi nasihat, kebenaran dan kesabaran. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Qur’an surah Al-Ashr ayat 3. Masyarakat yang peduli akan menjadi lingkungan belajar yang sehat bagi generasi, tentang penerapan secara nyata hukum syariat yang telah didapatkan di dalam rumah.

Pada level negara, Islam mewajibkan negara sebagai rain atau pengurus rakyat untuk mencetak generasi unggul dan melindungi mereka dari hal-hal yang rusak dan merusak, akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan membentuk generasi untuk memiliki kepribadian Islam. Juga akan memastikan media sosial dan platform digital lainnya tidak menyebarkan gagasan, ide, maupun informasi yang memicu kejahatan, menyebarkan kerusakan moral atau menormalisasi tindakan kriminal.

Aturan Islam akan menjadi filter alami menutup celah lahirnya komunitas yang memicu kejahatan. Dengan penerapan secara syariat kaffah kasus anak-anak terduga dalam kelompok kekerasan seperti TCC dapat dikendalikan. Generasi Muslim membutuhkan lebih dari sekadar ijazah, mereka butuh identitas yang kokoh sebagai hamba Allah.

Dengan kembalinya peran keluarga yang penuh ketakwaan, masyarakat yang saling peduli melalui amar makruf nahi mungkar serta negara yang hadir sebagai ra’in (pelindung), akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga teguh dalam kepribadian Islam.

Wallahua’lam bishshowwab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 19

Comment here