Opini

Akses Listrik Terputus, Gaza Kian Menderita

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Gendista Qur’ani

Wacana-edukasi.com, OPINI–Akses listrik, internet, dan telekomunikasi terputus total di Gaza. Di dalam keadaan seperti itu, ada ribuan tank yang dikerahkan untuk mengepung warga sipil. Perusahaan Telekomunikasi Palestina (Paltel) menyatakan bahwa layanan telekomunikasi lumpuh karena pengeboman pada rute jaringan inti. Hal ini membuat keluarga terpisah tanpa kabar, lembaga sosial kesulitan mencari korban, dan rumah sakit terhambat dalam mengevaluasi pasien.

Warga bernama  Ismail yang mengandalkan e-SIM agar terhubung internet mengatakan, bahwa pemutusan layanan internet adalah pertanda buruk, yaitu sesuatu yang brutal akan terjadi. Tentara dari entitas Yahudi menolak berkomentar tentang hal ini, tetapi menegaskan bahwa pihaknya sedang memperluas operasi di Kota Gaza. Mereka bertujuan untuk membongkar infrastruktur, melenyapkan para militan, serta ingin aktif di Khan Younis dan Rafah selatan. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan bahwa sejak entitas Yahudi mengumumkan rencana menguasai Gaza (10/8), hampir 48.000 warga Palestina mengungsi.

Terputusnya akses Listrik mengakibatkan banyak di antara mereka yang mengungsi dengan berjalan kaki sampai 9 jam di bawah cuaca ekstrem, karena tidak mampu membayar transportasi. Entitas Yahudi pun akhirnya membuka jalur transportasi sementara, melalui Jalan Salah al-Din selama 48 jam. Tujuannya adalah untuk mempercepat migrasi dan mengosongkan Gaza sebagai wilayah yang strategis. Akhirnya, Salah al-Din menjadi jalur menuju ketidakpastian, bukan jalan keselamatan, dan kini, Gaza kembali gelap gulita. (tribunnews.com, 19-9-2025)

Tujuan Memutus Akses Listrik

Segala cara sudah dilakukan oleh dunia internasional dalam upayanya menghentikan konflik di Palestina, tetapi belum juga tampak ada hasilnya. Terhitung sudah lebih dari tujuh dekade bumi Palestina meneteskan darah dan air mata. Bukan sekadar konflik tanah semata, tetapi ini adalah tragedi kemanusiaan yang menjadi bukti nyata, bahwa betapa rapuhnya umat Islam ketika tercerai-berai tanpa satu kepemimpinan.

Palestina dikepung dari segala sisi, bahkan setiap detik yang mereka jalani penuh ancaman, mulai dari bom, peluru, dan pengusiran. Namun, dunia sekadar menyaksikan, sementara umat Islam di berbagai penjuru negeri hanya mengirim doa dan bantuan kemanusiaan yang sifatnya tambal sulam. Betapa banyaknya anak-anak sampai orang dewasa Palestina yang berteriak, namun suaranya hanya menjadi sebuah headline berita semata, tanpa tindakan yang nyata.

Akses koordinasi, kedaruratan, bantuan, dan berita telah diputus untuk melumpuhkan Gaza. Zionis Yahudi pun telah mendesak agar warga sipil segera pindah dan mengosongkan wilayah Gaza. Strategi politik dan militer juga terus berusaha untuk segera menguasai Gaza. Berkenaan dengan itu, Internasional mengecam. Boikot internasional terhadap zionis Yahudi pun telah dilakukan. Akan tetapi, sampai dengan saat ini sama sekali belum mampu mengubah keadaan di Gaza. Israel tetap tak bergeming.

Zionis Yahudi telah menetapkan tujuan akhirnya dalam “Protokol Zionis” yaitu membangun Negara Israel Raya dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaannya. Untuk mewujudkan tujuan akhirnya, Zionis Yahudi didukung penuh oleh negara no.1 dunia, yaitu Amerika Serikat. Itulah tempat para kapitalis dunia yang bersekutu dengan Gerakan Zionis. Sejatinya, dalam kapitalisme, boikot hanya polesan, tipu daya, dan siasat politik. Kenyataannya, kerja sama dengan Yahudi tetap berjalan secara rahasia selama masih menguntungkan satu sama lainya.

Butuh Kepemimpinan Islam

Kacau balau dan hancurnya umat saat ini karena di antaranya umat muslim tidak memiliki pemimpin yang menerapkan sistem kehidupan Islam yang bernama syariat. Umat muslim juga tidak memiliki tentara yang mampu melindungi dari ancaman dari luar Islam. Karena itu, hadirnya tentara Islam di bawah kepemimpinan Khalifah sangat dinantikan. Itulah salah satu benteng yang akan menjadi kekuatan besar dalam melindungi umat, dan melawan serangan dari negeri mana pun.

Selain itu, umat muslim harus bangkit dan bersatu tanpa ada batas-batas nasionalisme. Perlu umat sadari bahwa betapa pentingnya mengembalikan khilafah sebagai perisai umat, agar bisa segera membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel Yahudi. Dalam sepanjang sejarah Islam, Yahudi adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin. Bahkan Allah berfirman dalam QS Al-Maidah: 82

لَـتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّا سِ عَدَاوَةً لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَا لَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا ۚ وَلَـتَجِدَنَّ اَ قْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّا نَصٰرٰى ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَا نًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

Yang artinya : “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.

Oleh karena itu, jika saat ini masyarakat hanya melakukan pemboikotan saja, itu tidak akan menghasilkan kebebasan bagi Gaza. Hal itu karena hanya Khilafah ‘ala minhajinubuwah yang akan mampu melumpuhkan zionis Yahudi, dan membebaskan Gaza, Palestina, dan seluruh manusia dari makar jahat kaum zionis Yahudi. Umat harus paham bahwa, saat ini yang dibutuhkan oleh saudara kita di Palestina ialah pemimpin yang akan mengirimkan tentara guna mengusir entitas Yahudi yang telah dengan lancang menerobos, mengobrak-abrik, dan merampok negeri Palestina.

Allah Ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 72, “Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Di dalam ayat ini Allah menegaskan, bahwa pertolongan bagi kaum muslim yang dizalimi bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban. Namun, realitas yang kita dapati hari ini menunjukkan sebaliknya. Palestina seolah begitu tak berdaya, bahkan seolah tak memiliki gigi untuk melawan penjajahan Zionis yang  begitu keji. Semua negara menyibukkan diri dengan kepentingan mereka sendiri-sendiri, sebab adanya keterikatan dengan perjanjian internasional.

Oleh karena itu, umat muslim melupakan wajibnya ada ikatan ukhuwah Islamiyah. Semua itu adalah bukti, bahwa umat Islam tanpa perisai khilafah bagaikan domba tanpa gembala, mudah diterkam dari segala arah, dan kehilangan arah tanpa tujuan. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi umat saat ini, selain bersatu dan berusaha menegakkan kehidupan Islam kembali. Semua itu agar umat muslim tidak mudah dicerai-berai, diputus akses dan hubungannya dengan sesama muslim di seluruh dunia. Dengan langkah seperti itu, niscaya derita kehidupan akan bisa dihindarkan.

Wallahua’lam bishawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here