Opini

Gen Z dan Kewajiban Menolak Two State Solution

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Rizka Andriani, S.S. (Penggiat Sejarah Islam)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Palestina tak pernah berhenti untuk menjadi pusat perhatian dunia. Rangkaian agresi yang dilancarkan oleh pemerintahan Israel telah meluluhlantakkan negeri yang terberkati itu. Arus pengungsian terus mengalir ,mencari tempat-tempat yang aman. Warga gaza berteriak agar penderitaan mereka segera teratasi. Namun, dunia tetap bungkam. Dunia bergeming dengan ketakutannya melawan hegemoni negara adikuasa Amerika Serikat. Politik internasional boleh saja bungkam dengan kejahatan tersebut. Namun ada sekelompok manusia yang masih memiliki hati nurani. Sekelompok remaja yang “digawangi” oleh seorang remaja bernama Greta Thunberg, berhasil menyentak hati nurani dunia untuk melakukan pelayaran ke Palestina untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat Gaza bisa tersalurkan. Namun, niat baik mereka dihadang oleh tentara Israel di perbatasan. Kapal-kapal yang tergabung pada Global Sumud Flotilla yang membawa misi bantuan kemanusian untuk Gaza diculik oleh Israel.

Organisasi Gerakan Sumud Flotilla mulai beraksi secara resmi pada bulan juli 2025. CSF mengecam segala kekejaman yang dilakukan oleh tentara Israel yang melakukan genosida terhadap penduduk Palestina. Peserta yang ikut melakukan pelayaran ini terdiri dari labi 15.000 dari 44 negara yang menyatakan dukungannya . Flotilla GSF merupakan konvoi maritim masyarakat sipil dalam sejarah. Tujuan akhir konvoi ini adalah membuka blokade Gaza dan mengirimkan bantuan logistik.

Pelayaran kemanusian ini hanya membawa bantuan kemanusian berupa obat-obatan, makanan dan harapan untuk kembali hidup bahagia. Namun, misi kemanusiaan ini kembali diblokade oleh Israel. Seluruh bantuan dihentikan. Ini adalah hal yang paling kejam terhadap nurani kemanusiaan. Tak hanya warga palestina yang mendapatkan serangan, bahkan hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan pun diserang dan diblokade. Di tengah harapan warga Palestina yang membuncah, mereka harus kembali menelan pahit akibat kekejaman perang yang dilancarkan oleh Israel.

Pencegatan GSF dan pemenjaraan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap para aktivis mengundang reaksi dari negara-negara maju di Eropa. Demonstrasi massif dilakukan untuk menuntut tentara Israel membuka blokade dan membebaskan para aktivis yang telah dipenjara oleh pemerintah Israel. Demonstrasi, kecaman yang dilakukan secara masif ini merupakan bentuk ekspresi muak masyarakat dunia atas kesewenang-wenangan dan kezaliman yang dilakukan Israel atas Palestina.

Di Maroko, Gen Z dengan mengatasnamakan kelompok manua GEN Z 212 melakukan demonstrasi besar-besaran akibat dari peristiwa pencegatan kapal Flotilla yang dilakukan oleh pemerintah Israel. Mereka menuntut agar pemerintahan yang berkuasa saat ini dibubarkan, karena dianggap telah gagal memenuhi hak-hak sosial rakyat. Bahkan demonstrasi terus berlanjut dan berkembang di berbagai kota dengan menyoroti reformasi sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Tak hanya di Maroko, demonstrasi terus menjalar ke berbagai negara dunia sebagai reaksi ]pencegatan kapal kemanusian Flotila yang berlayar ke Palestina. Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyatakan kemarahan. Sebagian aksi berakhir dengan ricuh dengan perusakan fasilitasa public dan pertokoan. Dan yang paling menakjubkan adalah aksi protes dilakukan oleh gen Z. Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menuntut pemberhentian kezaliman yang dilakukan oleh Israel. Israel menuai kecaman internasional usai pasukan bersenjata Israel menaiki kapal yang berusaha untuk menembus Blokade yang berujung pada penangkapan para aktivis asing, termasuk aktivis perubahan Iklim yang berasal dari Swedia Greta Thurnberg.

Kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh Gen z merupakan sebuah bentuk empati yang dilakukan oleh mereka yang melihat bahwa kekejaman yang dilakukan Israel telah melampaui batas kemanusiaan. Pelaparan secara sistematis sehingga menyebabkan masyarakat Palestina meregang nyawa. Bantuan kemanusiaan yang diharapkan mampu mengurangi penderitaan warga harus mengalami blockade dan para aktivisnya mengalami penangkapan dan penyiksaan yang luar biasa dzalim. Bahkan pemutusan jalur komunikasi agar informasi terkini dari wilayah Gaza dan Palestina tak terdengar di dunia Internasional.

Hal yang terjadi di Palestina hari ini membuktikan bahwa Israel tak pernah memahami dan patuh pada bahasa kemanusiaan. Berbagai perundingan dan perjanjian yang dilakukan oleh dunia internasional untuk mencegah kekejaman dan penjajahan Israel atas palestina hanya berjalan di atas kertas tanpa pernah ada aksi nyata. Tentu saja ini membuktikan bahwa zionis tersebut hanya memahami bahasa perang, bukan bahasa diplomasi. Berbagai resolusi dan kecaman telah dialamatkan kepada Israel, akan tetapi tak memberikan dampak apapun. Perang terus terjadi, pembantaian terus berjalan, genosida terus berlangsung.

Peristiwa genoside ini mengundang kecaman dunia Internasional. Para penguasa dan politikus dunia memberikan saran bahwa penjajahan di Palestina hanya akan berakhir dengan menerapkan sistem dua negara yang saling berdaulat. Di sisi lain mereka memahami, kedaulatan bagi warga dan negara Palestina tidak akan pernah tercapai jika “kanker” Israel masih bercokol di wilayah itu. Bagi Israel Palestina merupakan wilayah mereka dan itu merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

Dalam pandangan Islam fikih Islam solusi dua negara dalam kasus Palestina adalah sebuah keharaman mutlak. Islam memandang bahwa Israel adalah entitas penjajah yang harus dihilangkan dari muka bumi. Yang harus dipahami oleh kaum muslimin saat ini adalah Palestina merupakan bagian dari negeri muslim sejak era kekhalifahan Umar bin Khattab. Jadi secara de facto Palestina adalah milik kaum Muslimin, bukan milik Israel seperti yang dikampanyekan oleh mereka selama ini.

Solusi yang sejati dan hakiki dalam persoalan Palestina adalah dengan jihad fisabilillah. Para ulama telah menegaskan bahwa jika kaum kafir menduduki sebuah negeri kaum muslimin maka wajib atas kaum muslimin untuk mengusir kaum kafir tersebut dari wilayah mereka. Jika kaum muslimin di wilayah tersebut tidak mampu melakukannya maka kewajiban tersebut meluas kepada kaum muslimin yang ada di wilayah sekitarnya (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 9/228). Krisis palestina hari ini hanya akan dapat teratasi dengan adanya kepemimpinan global (khilafah) yang akan melindungi seluruh negeri-negeri kaum muslimin dari penjajahan dalam bentuk apapun. Dengan keberadaan pemimpin kaum muslim, ia tak akan membiarkan darah kaum muslim tercecer walaupun hanya setetes. Ia adalah benteng umat yang akan membela dan menjaga kehormatan kaum muslim dan menggerakkan tentara Islam untuk berjihad untuk melawan musuh-musuh Islam.
Wallahu’alam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here