Bahasa dan SastraCerpen

Tubuhku adalah Milikku (Bagian 4-b)

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anita S

Wacana-edukasi.com  –Sudah tiga bulan lamanya, semenjak hijrah aku tidak pulang ke kampung halaman. Aku masih tak tega meninggalkan kajian mingguan bersama Ustaz Azam dan Ustaz Sholihin. Di samping itu aku masih malas jika selalu ditanya, “Kapan nikah?”

Karena aku tak kunjung pulang kampung, akhir minggu ini Ibu dan adikku, Citra, berencana datang menjengukku. Mereka mengatakan akan membicarakan sesuatu yang serius. Sepertinya masalah hubungan cinta dengan pacarnya yang ingin dilanjutkan ke perlamiman.

Mendengar kabar dari mereka, hatiku mulai gusar. Aku takut Ibu mendesakku untuk segera menikah. Lebih takut lagi kalau Citra mendahuluiku menikah. Aku khawatir menjadi perawan tua yang “Gak laku-laku”.

Malam harinya, aku pergi ke rumah Rahmah meminta tolong kepadanya untuk menanyakan kepada Ustaz Sholihin apakah ia memiliki perasaan khusus kepadaku. Kubuang rasa malu dan memberanikan untuk mewarkan diri kepadanya melalui Rahmah dan suaminya.

“Baiklah, Kak Rindu kami akan mencoba menanyakan kepadanya,” ujar Rahmah menenangkanku.

Rahmah membicarakannya dengan sang suami apa yang kusampaikan. Kulihat setelah itu Hasan mengambil HP. Sepertinya ia menghubungi kakaknya, Ustaz Sholihin.

“Assalamualaikum, Bang, mohon maaf malam-malam menganggu. Begini Bang, di rumah ada temannya istri. Dia belum nikah, dan hari ini datang ke rumah menanyakan Abang. Kira-kira saat ini apakah Abang punya calon istri?”

Jantungku berdetak kencang mendengar apa yang sedang dibicarakan kedua kakak beradik itu. Aku sangat gugup menanti jawaban dari Ustaz Sholihin. Begitu gugupnya sampai tak sadar tangan Rahmah memerah karena kuremas-remas.

“Oh, begitu?” Air muka Hasan terlihat berubah. Perasaanku tidak enak. Apakah Ustaz Sholihin menolakku?

“Ya, Bang, akan kusampaikan.” Hasan menutup teleponnya kemudian bergabung dengan kami di ruang tamu. Ia terlihat gelisah, sepertinya hendak menyampaikan sebuah kabar tak sedap.

“Kak Rindu, saya sampaikan mohon maaf sebesar-besarnya dari Bang Sholihin. Beliau tidak bisa menerima tawaran Kak Rindu. Bukannya beliau tidak suka dengan Kakak, tapi ….” Hasan menghentikan kalimatnya kemudian menoleh kepada istrinya.

“Ada apa?” tanya Rahmah penasaran.

“Ada orang lain yang menginginkan Kak Rindu menjadi istrinya, oleh karena itu Abang tidak berani menerima tawarannya.”

“Ha?” Aku dan Rahmah melongo secara bersamaan.

“Orang lain?” ucapku.

“Siapa?” tanya Rahmah makin penasaran.

“Besok Abang akan datang bersamanya ke rumah kita Ra, untuk bertemu dengan Kak Rindu.”

Mataku membulat sempurna mendengar ucapan Hasan. Betulkah ada orang lain yang menginginkanku menjadi istrinya? Siapa dia sehingga Ustaz Sholihin tak berani bersaing dengannya?

Masalah ini membuatku tak bisa tidur. Untung besok hari Sabtu, aku libur kerja sehingga gak perlu takut kesiangan seandainya aku tak bisa memejamkan mata hingga larut malam.

Sabtu siang jam 09.00 aku berangkat ke rumah Rahmah memenuhi undangan Ustaz Sholihin sekaligus memenuhi rasa penasaranku. Di tengah perjalanan sepedaku berhenti. Kulihat indikator bahan bakar di spidometer menunjuk huruf “E” artinya aku kebangetan tidak mengisi bensin gara-gara terlalu pusing memikirkan pertemuan hari ini. Akhirnya aku harus menuntun sepeda motorku hingga setengah kilo meter sampai bertemu dengan SPBU.

Aku terlambat, kulihat dari halaman dua punggung lelaki duduk tegap di ruang tamu Rahmah. Melihatku memarkir kendaraan di halaman, Rahmah segera berdiri kemudian menghampiriku. Wajahnya semringah, aku tidak tahu apa atau siapa yang membuatnya nampak sangat bahagia. Aku heran sebenarnya siapa yang hendak bertemu dengan calon jodohnya, aku atau Rahmah?

“Ayo, Kak, cepat masuk!” ajaknya dengan gembira.

“Maaf aku terlambat, tadi sempat kehabisan bensin. Akhirnya aku mendorong sepeda setengah kilo,” ucapku berbasa-basi.

“Pantesan baunya asem,” balas Rahmah.

“Serius kamu? Malu, dong, aku kalau bau asem.”

“Sudah Kak, nanti saja dibahas. Orangnya sudah nunggu hampir satu jam.”

“Ha?” Mulutku menganga. Aku tak menyangka mereka berdua telah lama menungguku.

“Assalamualaikum.” Kuucap salam saat masuki ruang tamu.

“Waalaikumussalam,” jawab mereka yang ada di ruang tamu.

Aku melewati mereka berdua tanpa meliriknya sama sekali. Segera kuambil tempat duduk di sisi Rahmah. Perlahan kuberanikan diri untuk melihat siapa yang datang.

Astaghfirullahhaladzim, Allahuakbar. Jantungku seakan berhenti berdenyut saat melihat lelaki yang duduk di sebelah Ustaz Sholihin. Apa aku tak salah lihat? Atau ada orang lain lagi yang mungkin belum hadir di sini?

“Mohon maaf Rindu, atas penolakan saya kepada permintaanmu. Bukannya saya tidak tertarik kepada wanita salihah sepertimu.” Aku seperti mau melayang andai tak ada gravitasi bumi mendengar Ustaz Sholihin menyebutku wanita salihah. “Akan tetapi sudah sejak lama Ustaz Azam membicarakanmu, sehingga mau tidak mau aku harus mundur alon-alon.”

Mendengar apa yang disampaikan Ustaz Sholihin aku semakin menundukkan kepala karena malu dan sedikit pusing. Aku masih tak percaya juga dengan kenyataan di depanku. Ini benar Ustaz Azam atau jadi-jadian?

“Rindu, apakah kamu bersedia menerima Ustaz Azam sebagai calon suamimu?”

Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Ustaz Sholihin. Tanpa sadar, sebuah pertanyaan meluncur dari lisanku.

“Emang langsung begini, ya, nggak pake kenalan dulu?”

Rahmah dan suaminya tertawa mendengar pertanyaanku. Demikian juga Ustaz Sholihin. Hanya Ustaz Azam yang diam. Namun, sepertinya ia juga menahan diri untuk tidak tersenyum.

“Memangnya Kak Rindu mau kenalan dulu sama Ustaz Azam? Bukannya sudah kenal? Bukannya sudah sering ngikutin kajiannya dan mendengar tentang kehidupannya yang kadang beliau ceritakan di pengajian?”

“Iya, sih,” jawabku polos. Entah mengapa aku merasakan IQ-ku tiba-tiba terjun bebas.

“Kalau begitu apakah saya boleh menemui ibumu besok? Kata Rahmah besok ibumu akan datang. Saya ingin memperkenalkan diri kepada beliau.” Lagi-lagi aku melongo mendengar ucapan Ustaz Azam.

“Tapi saya, kan, belum menjawab setuju atau tidak, pada pertanyaan yang awal tadi? Kok, sudah langsung mau ketemu Ibu?” Kurasa sirkuit otakku mulai eror.

“Memangnya apa jawaban dari Rindu?” tanya Ustaz Azam. Bibirku bergetar, rasanya sulit sekali untuk menjawab pertanyaan beliau. Terlalu indah untuk diungkapkan.

“Kak?” Rahmah menyenggol bahuku.

Jujur aku tak sanggup berbicara. Aku terlalu tertegun pada kebaikan Allah. Aku minta kepada-Nya rambutan, ternyata Allah memberiku durian masak pohon lagi. Fabiayi aala irabbikuma tikadziban. Aku hanya bisa menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan Ustaz Azam.

“Alhamdulillah,” ucap beliau secara spontan kemudian diikuti oleh yang lain. Kulirik Ustaz berwajah manis itu secara sembunyi-sembunyi. Benarkah aku akan menjadi istri Ustaz Azam yang di dalam mimpi sekalipun aku tak berani berharap?

Sekali lagi Fabiayi aala irabbikuma tikadziban.

(Selesai)

*

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 16

Comment here