Oleh: Khodijah Ummu Hannan
Wacana-edukasi.com, OPINI-– Bumi Gaza masih terus menangis, darah para Syuhada terus membasahi bumi. Zionis Yahudi terus melakukan Genosida terhadap penduduk Gaza. Demi mencari solusi para pemimpin dunia berkumpul dalam sidang majelis umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York Amerika Serikat, pada 25 September 2025.156 negara menyerukan dukungannya untuk Palestina merdeka. Mereka menjadikan solusi dua negara (two-state solution), dianggap sebagai jalan keluar untuk permasalahan Palestina–Israel (tribun news.com, 23/9/2025).
Dukungan dan pengakuan solusi dua negara dilontarkan oleh Presiden Prabowo. Pada pidatonya dalam sidang majelis PBB, “Kita harus memiliki Palestina merdeka, mengakui, menghormati dan menjamin keselamatan dan keamanan Israel. Hanya dengan begitu kita bisa memiliki perdamaian sejati, perdamaian yang nyata tanpa kebencian dan kecurigaan. Salah satu alternatifnya adalah solusi dua negara” (presidenri.go.id).
Ironisnya, meskipun Palestina sudah mendapat pengakuan dunia atas kemerdekaannya, namun perdamaian masih fatamorgana. Palestina masih dirundung duka, tank-tank baja terus melaju ke sejumlah kota padat penduduk di kota Gaza. Termasuk Tal al- Hawa, Sabra, Syeikh Radwan dan Al- Nasser.
Ribuan rakyat sipil terjebak tanpa evakuasi akibat serangan udara yang semakin intens. Eskalasi sejak 16 September memicu gelombang pengungsian besar-besaran, sementara puluhan ribu lainnya bertahan di tengah kepungan. Dalam waktu 24 jam 77 orang telah menjadi korban tewas. Sejak agresi 7 Oktober 2023 korban syahid sudah menyentuh angka 66005 jiwa yang didominasi perempuan dan anak (gazamedia.com,1/10/2025).
Lalu, apakah benar solusi dua negara mampu menjadi jalan keluar untuk konflik Palestina–Israel?
Apabila kita amati solusi dua negara adalah bentuk keputusasaan Amerika Serikat atas keteguhan rakyat Gaza dan perlawanan para mujahidin. Demi membantu agresi Israel terhadap Yahudi, Amerika telah menggelontorkan dana besar. Untuk bantuan militer tambahan, sedikitnya menghabiskan US$ 17,9 miliar (APnews, 2024). Di luar komitmen tahunan US $ 3,8 miliar per tahun hingga tahun 2028 (congressional research service, 2024).
Meskipun Zionis Yahudi dipersenjatai besar-besaran, namun semangat rakyat Gaza tetap membara. Bahkan menurut survei Gallup pada 2024 menunjukkan mayoritas rakyat baik di Palestina maupun di Israel, menolak solusi dua negara dan dua pertiga meyakini solusi dua negara tidak akan menjadi solusi permanen.
Semua ini membuktikan bahwa “ dua negara” semata hanya ilusi politik gagal dan melegitimasi perampasan tanah Palestina. Karena menyetujui solusi dua negara berarti menyetujui bahwa 78% tanah Palestina adalah milik sah Israel, dan hanya 22% tanah Palestina yang dimiliki umat Islam Palestina. Padahal, sepanjang sejarah Islam, sejak penaklukan Syam tahun 15 Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khatab, 100% tanah Palestina adalah milik umat Islam.
Menurut Ustad Siddiq Aljawi dalam ngaji subuh, edisi Rabu 1 Oktober 2025 terdapat 3 alasan haram solusi dua negara.
Pertama, menyetujui solusi dua negara sama dengan mengakui keabsahan eksistensi negara kafir Yahudi dan mengakui perampasan tanah kaum muslimin di Palestina. Padahal perampasan tanah walaupun sejengkal termasuk kezaliman yang tidak patut di akui apalagi dilegitimasi.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka Allah pada hari kiamat akan mengalungkan 7 bumi di lehernya” ( HR. Mutafaq alayh).
Kedua, menyetujui solusi dua negara sama dengan setuju dua negara Palestina-Israel hidup berdampingan secara damai. Artinya kaum Muslimin meninggalkan kewajiban untuk berjihad fii sabilillah melawan Zionis Israel yang telah merampas tanah dan memerangi kaum muslimin Palestina
Jihad di sana sudah menjadi fardhu a’in. Hal ini karena, selain genosida, tanah mereka pun telah dirampas. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 190 -191. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu”.
Ketiga, ketika negara menyetujui Solusi Dua, negara berarti memberi jalan kepada kaum kafir, yaitu kafir Yahudi (“Israel”) dan kafir Kristen (AS dan negara-negara Barat lainnya) untuk menguasai atau mendominasi kaum muslimin, khususnya kaum muslimin Palestina. Padahal Islam tidak membolehkan adanya suatu jalan yang dengan itu terwujud dominasi kaum kafir atas kaum muslimin. Allah berfirman, “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman “(QS An-Nisā: 141).
Lalu bagaimana Islam memberi solusi?
Genosida di Gaza harus segera diakhiri. Saat mengingat bebalnya kaum Yahudi, seperti yang tercatat dalam sejarah Yahudi tidak pernah tunduk pada perundingan, maka mereka harus di lawan dengan kekuatan nyata. Yaitu dengan mengerahkan pasukan bersenjata untuk berjihad fii sabilillah. Hal ini sangat mungkin apabila para pemimpin negeri muslim mau memobilisasi para tentaranya dan bersatu dalam satu komando. Bukan hanya meneriakkan seruan atau ungkapan keprihatinan.
Oleh karena itu, hal yang mendesak saat ini bukanlah solusi dua negara, melainkan untuk segera menghadirkan institusi yang mampu melindungi dan menjaga umat, yakni Khilafah Islamiyah. Hanya Khilafah yang mampu menyatukan kekuatan kaum muslim, memobilisasi dan menggerakkan sehingga Palestina bisa segera di bebaskan.
Views: 38


Comment here