Opini

Potret Malin Kundang Zaman Sekarang

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Asma Ridha (Pegiat Literasi Aceh)

“Dengan orang tua jangan pernah melawan, kalau tidak mau hidup berantakan.”

Wacana-edukasi.com — Ungkapan bijak ini, patutnya menjadi perhatian semua kalangan. Bagaimana tidak, kisah Malin Kundang yang sangat kental di telinga rakyat Indonesia, termasuk pada anak generasi yang sarat edukasi bahwa ketidak bolehan dan dosanya sifat durhaka pada orang tua, justru mirisnya nyata di zaman modern saat ini.

Lagi-lagi harta menjadi sumber malapetaka. Kisah menggugat orang tua sendiri kian ramai di negeri ini. Tercatat di awal tahun 2021, dengan tempat dan lokasi yang berbeda, Bandung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Semarang, Banyu Asin, dan Sumatera Selatan, viral kasus anak menggugat orang tua kandung masing-masing hanya persoalan harta. Orang tua yang masih hidup, namun perebutan harta waris berlangsung hingga ke pengadilan. Bahkan dengan tega gugatannya mencapai angka 3M. Ada pula kasus karena kendaraan roda 4, mobil mewah Toyota Fortuner, hingga ketidak percayaan pada orang tua dalam mengelola harta, menjadi pemicu untuk mengangkat masalah ini ke meja hukum.

Sungguh, potret yang sangat miris di era digitalisasi dan globalisasi. Menghilangkan rasa empati, peduli, hormat, takzim dan mencintai orang tua kian pudar. Seolah ada kontrak tertulis antara anak dan orang tua soal harta yang harus diaqadkan. Tidakkah mereka lupa, jerih payah, perjuangan dan pengorbanan orang tua hingga mereka dewasa, sukses mempunyai jabatan dan kekuasaan penuh dengan air mata mereka berupaya. Ketika dewasa, ilmu dan jabatan yang mereka miliki justru digunakan untuk menuntut orang tua yang sudah sepuh.

Kapitalisasi Mengajarkan Ketamakan

Tidak salah rasanya jika sistem sekuler/kapitalisme ini juga bisa dijadikan sumber utama permasalahan bangsa terkait moral yang tergadaikan. Tatanan kehidupan yang melingkupi masyarakatnya akan mempengaruhi pola pikir dan pola sikap. Ideologi kapitalisme telah menjadikan agama hanya sekedar simbol yang tidak layak untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, sehingga memicu ruang kehidupan dalam semua aspek, baik dunia pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dan juga telah menghilangkan nilai spiritual yang ada. Wajar, nilai materi adalah tujuan dari segalanya, tanpa memandang halal dan haram, bermanfaat atau tidak, bahkan merugikan orang lain atau tidak, termasuk bertentangan dengan Syariat-Nya atau tidak.

Jiwa kapitalisme kian mempengaruhi jiwa anak bangsa, demi seonggok harta rela menikam orang tua kandung tanpa belas kasihan. Hilangnya hati nurani pada diri generasi, menunjukkan PR besar di negeri ini untuk membentuk pola didik yang sesuai tuntunan Syariat. Ketika sistem ini terus saja menganggap agama sebagai hal yang menghambat kemajuan negara, sampai kapanpun perilaku durhaka, jiwa korup, tidak amanah dalam memimpin, dan lain sebagainya akan terus terjadi. Sistem kapitalisasi mengajarkan ketamakan dan keserakahan pada umat manusia, sadar atau tidak, namun inilah yang terjadi dan telah terbukti.

Merindukan Sosok Uwais Al-Qarni di Era Modernisasi

Bisa jadi kisah Malin Kundang sekedar dongeng semata, dengan niatan agar tidak mencontoh perilaku buruk yang sama. Namun, jangan lupa sejarah Islam ketika sistem ditegakkan dengan sempurna dan kaffah dalam semua aspek, memiliki sederet kisah yang luar biasa, patut diteladani dan dijadikan model bagi generasi dalam menghormati dan takzim pada kedua orang tua.

Tentu, cita-cita para orang tua menginginkan anaknya saleh dan salihah. Merindukan seperti sosok Uwais Al-Qarni seorang yang yatim namun sangat setia dan menyayangi ibu yang telah lumpuh dan sudah tua. Namun, kasih sayangnya dan ketaatannya membawa pribadi Uwais al-Qarni dikenang oleh penduduk bumi dan langit.

Ada beberapa hal, yang bisa diambil keteladanan pada sifat beliau :

Pertama, rasa ketakwaan pada Allah swt dan Rasulullah Saw sangat terwujud pada dirinya, sehingga tidak pernah mengeluh merawat sang ibu yang lumpuh, justru menunaikan cita-citanya untuk bisa berhaji ke tanah suci dengan cara menggendongnya dengan berjalan kaki, tanpa mengeluh walau jarak sangat jauh.

Dalam hal pola asuh, dapat diambil hikmah bahwa pendidikan aqidah adalah modal utama dalam mendidik anak, orientasinya adalah ridha Allah SWT dengan kehidupan akhirat, bukan skala kecil hanya mengejar dunia. Dan ini menjadi catatan penting, agar tidak terlahir dari rahim seorang ibu Malin Kundang yang lainnya, hingga tega menggugat dan menghukum Ayah atau Ibu kandung sendiri.

Kedua, sosok penyayang dan pekerja keras. Uwais Al-Qarni sekalipun dikucilkan karena penyakit kulit (sepak) yang dialaminya, namun sifat penyayang dan gigih dikenal oleh penduduk langit. Menggembala kambing orang lain menjadi profesinya, latihan menggendong lembu menjadi kesehariannya. Tanpa malu, dan ragu untuk berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, dan melatih diri dengan si lembu untuk bisa kuat menggendong sang ibu pergi ke tanah suci.

Artinya, sifat qanaah ditanamkan dalam jiwa sang anak sejak dini. Qanaah merupakan sikap/perilaku merasa cukup, bersukur atas segala nikmat yang Allah berikan, tidak dibiasakan untuk gila pada ranah dunia dan tamak pada harta. Sejak usia dini, mengajarkan arti hidup yang sifatnya fana dan dunia hanya perantara untuk mengejar nikmat akhirat.

Ketiga, ringan tangan membantu orang lain. Sosok yang dilirik sebelah mata oleh para tetangga, tidak membuat dirinya malu, egois dan enggan menolong orang lain. Justru dia lakukan dengan sikap yang tulus, tanpa mengharapkan pujian dan imbalan.

Pola asuh kepekaan, kepedulian, berhasil ditanamkam oleh sang Ibunda pada Uwais Al-Qarni. Jangankan pada orang tuanya, terhadap orang yang mengucilkannya beliau tetap sigap memberikan pertolongan.

inilah yang mengantarkan dirinya terkenal di penduduk langit. Justru dia tidak terkenal di bumi. Hingga dua sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA bersusah payah ingin mengenal sosok yang dipuji oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya :

“Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Sungguh, Islam mengajarkan pendidikan yang memberikan orientasi pada kehidupan akhirat, dunia sekedar tempat sesaat. Pola pendidikan yang berstandar pada aqidah Islam dan syaksiyah Islamiyah (kepribadian Islam) adalah hal yang mendasar mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Maka tidak akan bisa diharapkan dari sistem sekuler/kapitalis yang notabene memisahkan agama dalam kehidupan.

Tidak cukupkah ayat Allah menegaskan kecaman yang sangat keras bagi anak durhaka, berkata “ah” saja Allah SWT melarangnya, konon hingga tega menyakiti hati kedua orang tua. sebagaimana firman-Nya yang artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS : Al-Isra : 23)

Wallahualam bishhawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 31

Comment here