Opini

Anggaran Infrastruktur Disunat, Islam Punya Solusi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Gina Kusmiati (Penulis Pengamat Sosial)

Wacana-edukasi.com –Tragis. Bangunan Gedung Serbaguna Geo Theater yang terdapat di Sumedang ambruk (8/12). Menurut Kepala Dinas Perkimtan Gungun A Nugraha, robohnya gedung setelah dihantam angin kencang. Di saat yang bersamaan, Gungun juga telah menunggu hasil uji penyebab bangunan itu roboh dari Tim Konsultan Perencanaan (kabarpriangan.com, 9/12/20).

Hal ini menjadi perbincangan dan kecurigaan masyarakat. Pasalnya, tidak sedikit dana yang telah digelontorkan pemerintah untuk mendirikan bangunan itu dalam rangka menyemarakkan Sumedang Kota Wisata. Namun faktanya, anggaran yang besar tak mampu menjadikan bangunan itu kokoh.

Usut punya usut, ternyata material yang digunakan tidak sepadan dengan dana yang dikeluarkan. Sebab, material yang digunakan hanya berupa multiplek atau triplek berlapis yang bisa terbilang murah. Sehingga kualitas kurang memadai untuk sebuah bangunan besar. Akibatnya, gedung tak kuat menahan tatkala ada angin kencang (sumedangexpres.com,10/12/20).

Perkimtan mengakui tak ada perhitungan secara terperinci sejak awal terkait pembangunan gedung itu. Hal ini menguatkan dugaan bahwa bangunan teater dibangun ala kadarnya. Selain itu, diduga kuat terjadi korupsi dalam pembangunan. Bila saja anggaran besar yang dikucurkan benar-benar disalurkan secara amanah dan tepat, tentu bangunan yang dihasilkan akan berkualitas. Artinya, bangunan tersebut akan mampu bertahan dari serangan cuaca, kuat, dan tahan lama.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika proyek-proyek pembangunan semacam ini rawan korupsi. Proyek-proyek pembangunan dijadikan kesempatan untuk mendulang kekayaan. Jauhnya seorang pejabat dari agama dan peluang yang diberikan oleh sistem sendiri, menjadikan korupsi semakin marak terjadi.

Anggaran yang minim karena sudah seringnya di sunat, mengakibatkan pembelian material dalam pembangunan dengan kualitas yang rendah. Sehingga, banyak bangunan yang usianya tidak lama karena bahan-bahan yang digunakan mudah rusak dan rapuh.

Lebih dari itu, bangunan-bangunan yang tak layak bangun ini akhirnya nyaris tak bisa dimanfaatkan masyarakat. Layaknya pajangan, gedung-gedung itu hanya bisa dipandang tanpa bisa digunakan masyarakat. Padahal, anggaran yang telah dikeluarkan dalam pembangunan tidak lain hasil memungut pajak dari masyarakat sendiri. Hasil pajak yang harusnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, bukan disalahgunakan tanpa tanggung jawab.

Islam dalam hal ini memiliki cara bagaimana mengatur anggaran pembangunan agar bisa dirasakan semua kalangan. Negara akan memprioritaskan pembangunan untuk kemaslahatan umat. Dengan syariat Islam proses pembangunan akan ditata secara apik dan amanah. Sehingga, proses pembangunan tidak terwarnai oleh korupsi serta dampak negatif lainnya yang akan merugikan semua lapisan masyarakat.

Negara memiliki anggaran yang masuk dalam kas negara atau baitul mal. Baitul mal berperan sebagai pos pemasukan dan pengeluaran negara. Pemasukan negara berasal dari macam-macam pos. Mulai dari pos jizyah, kharaj, fai’, usryah, dan ghanimah. Pos-pos itu digunakan untuk mendirikan fasilitas umum tuk masyarakat, semisal rumah sakit, sekolah-sekolah, gedung serbaguna dsb.

Islam juga memiliki cara untuk memberantas korupsi dalam birokrasi dengan menerapkan aturan Islam secara kafah. Islam mampu menegakkan hukum yang bisa memberi efek jera bagi pelaku korupsi. Hukum diberikan adil dan tegas untuk semua kalangan tanpa memandang kaya, miskin, ras, keturunan, atau pun agama. Hukum yang secara sistematis dan otomatis memberi peringatan pada seluruh lapisan golongan. Sehingga orang yang berniat untuk melakukan kejahatan atau korupsi dapat mengurungkan niatnya.

Wallahua’alam bishshawwab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here