Opini

Dilema Sekolah Tatap Muka

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Wacana-edukasi.com — Kabar dari Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang mengizinkan sekolah tatap muka per Januari 2021 sepertinya menjadi angin segar di tengah karut-marut kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Ada yang menyambut positif, tetapi ada juga orang tua yang ragu dalam mengizinkan anak-anaknya kembali belajar tatap muka, di tengah situasi tingginya kasus covid-19.

Terlebih Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan masih banyak sekolah yang belum siap secara protokol kesehatan dalam penerapan kembali pembelajaran tatap muka (cnnindonesia.com, 20/11/2020).

Nadiem Makarim menegaskan orang tua masing-masing siswa dibebaskan untuk menentukan apakah anaknya diperbolehkan ikut masuk sekolah atau tidak terkait rencana pembukaan sekolah tatap muka ini. Sekalipun sekolah dan daerah tertentu telah memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar tatap muka.

Namun, hal ini sungguh dilematis bagi para orang tua. Pasalnya Data yang dirilis Satuan Tugas Penanganan covid-19 menunjukkan jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia hingga Senin (23/11/2020) pukul 12.00 WIB telah mencapai angka 502.110. Pemerintah mencatat ada penambahan sebanyak 4.442 kasus konfirmasi positif covid-19 dalam 24 jam terakhir (kompas.com, 23/11/2020).

Jika melihat masih tingginya kasus positif, bukankah lebih baik jika pemerintah fokus saja untuk menyelesaikan dan bagaimana cara memutus rantai penyebaran dengan mengoptimalkan dulu upaya 3T (Tracing, Testing, dan Treatment). Untuk memutus rantai penularan covid-19 selain melakukan 3M (Menggunakan masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak).

3T yang dimaksud yaitu pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). Pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, kita bisa menghindari potensi penularan ke orang lain. Lalu, pelacakan dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif Covid-19. Setelah diidentifikasi petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Yang di takutkan, belum tuntas masalah yang lama, muncul lagi masalah baru. Walaupun sebenarnya inilah fakta yang terjadi di sistem kapitalisme. Sistem ini melahirkan masyarakat yang penuh masalah. Bukan hanya di Indonesia, semua negara kapitalisme saat ini telah gagal menghadirkan solusi yang tepat agar umat manusia segera terlepas dari wabah ini. Sebab apa? kapitalisme dengan asas sekularismenya telah melahirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya sektoral jauh dari meriayah rakyat dalam seluruh aspek.

Berbeda dengan sistem Islam (khilafah) yang sering di framing buruk, justru sistem ini telah berhasil menyejahterakan dan memberi perlindungan selama 14 abad lamanya, juga telah memberi contoh untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi semua masalah, termasuk dalam menangani wabah. Sebab, solusi yang diberikan bersumber dari Sang Pencipta alam semesta. Sebagai contoh. Pada Masa Khalifah Umar bin Khatab, beliau menerapkan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih Muslim. Rasulullah Shallahu”alahi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah disuatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meniggalkan tempat itu.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan ini, sistem Islam mengharuskan negara membuat kebijakan isolasi (karantina) bila ada wabah penyakit. Karena itu, tes masif mutlak harus dilakukan agar bisa dipisahkan antara orang yang sakit dari yang sehat sebagaimana ditegaskan dalam hadis di atas. Sehingga, proses belajar di sekolah bagi wilayah yang tidak terkena wabah tetap berjalan sebagaimana biasa, sementara bagi wilayah yang terpapar wabah maka akan dilakukan proses Belajar Dari Rumah (BDR).

Pengurusan proses belajar berdasar sistem pemerintahan Islam. Yakni, pemerintah akan menfasilitasi para guru dan siswa. Misalnya, penyediaan alat penunjang proses belajar agar proses Belajar Dari Rumah BDR tersebut terlaksana dengan baik. Mulai dari penyiapan materi pembelajaran yang tepat di saat pandemi, mengadakan segala fasilitas yang dibutuhkan secara optimal dan memberikan penghargaan yang maksimal bagi para guru atas kerja kerasnya. Sebab dalam sistem Islam, penguasa tidak boleh abai, semua kebutuhan dasar masyarakat harus dijamin oleh negara, termasuk dalam aspek pendidikan.

Maka, dengan kebijakan tersebut, masalah pendidikan tidak akan serumit hari ini. Para orang tua siswa tidak akan ada yang resah anaknya ke sekolah karena status kondisi wilayah dijamin aman dari wabah. Bukan seperti kondisi hari ini, sekadar penetapan zona tidak jelas standarnya sehingga masih banyak menimbulkan kehawatiran di masyarakat, baik para guru apalagi orang tua siswa.

Wabah yang Allah turukan ini, sejatinya mendatangkan kebaikan bagi manusia, yang mau berfikir. Sebab, mengingatkan betapa lemahnya manusia di hadapan Allah dan aturan manusia tak sama dengan aturan Allah. Sehingga haruslah ada kesadaran bagi manusia untuk tidak mengambil aturan buatan manusia lainnya yang sama-sama lemah dan terbatas, tetapi bersegera menerapkan aturan dari Sang Pencipta, yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan Syariat itu akan menuntaskan segala problematika yang ada, tak terkecuali dalam masalah pandemi yang menimpa dunia ini.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here