Opini

Polemik Hilangnya Frasa Agama dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Hessy Elviyah, S. S. 

Belum reda kontroversi investasi miras, muncul kabar dihapuskannya frasa agama dalam rancangan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 menyeruak di tengah masyarakat. Seolah tak belajar memperbaiki diri, kembali negara mengeluarkan kebijakan yang rentan kontroversi.

Sebelumnya, dunia pendidikan dibuat gaduh dengan diterbitkannya SKB 3 menteri yang mengatur seragam sekolah dengan atribut keagamaan. Kini kontroversi kembali muncul setelah rancangan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menghilangkan frasa agama di dalamnya. Sontak saja rancangan ini menuai kontroversi karena dianggap melanggar konstitusi dan keyakinan yang dianut masyarakat.

Komentar publik pun bermunculan. Engkar Inti Alamsyah, seorang guru agama SMA Tulus Bhakti kota Bekasi  mengungkapkan pernyataannya pada Radar Bekasi, “Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 31. Dihilangkannya frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan tentu sangat bertentangan,” ujarnya (radarbekasi.id, 12/3/2021).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi  pun mengungkap keberatannya ketika frasa agama dihapus dan digantikan dengan akhlak dan budaya, menurutnya frasa ‘agama’ tidak cukup diwakilkan dengan frasa ‘akhlak’ dan ‘budaya’. “Unsur agama itu adalah sesuatu yang sangat penting dan mendasar. Kenapa ini tidak disebutkan?” Imbuhnya (Republika.co.id, 7/3/2021).

Akhirnya, karena muncul gelombang protes dan terkait dengan masalah sensitif umat, kebijakan pun ditarik kembali. Dalam raker dengan Komisi X DPR RI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Marakim menegaskan, “Kalau ada aspirasi dari masyarakat kata ‘agama’ itu penting dalam frasa itu, silakan masuk dalam peta jalan pendidikan. Nggak masalah, kita terbuka. Nggak perlu panik dan nggak perlu menciptakan polemik” (fin.co.id,12/3 2021).

Sungguh disayangkan. Kembali kita dihadapkan pada kebijakan maju mundur dan tarik ulur. Seolah setiap apa yang diputuskan tidak melalui pemikiran yang matang. Atau mungkin kah ada unsur testing the water untuk melihat respon masyarakat? Atau justru semakin kokoh memposisikan diri sebagai negara sekuler yang memisahkan ajaran agama dengan kehidupan.

Sekularisme semakin mencengkeram kuat di negara ini. Wajah busuknya ditampakkan dengan begitu nyata tanpa topeng lagi. Generasi yang sudah terombang ambing arus sekuler kapitalis kini dihadapkan dengan ancaman miskinnya ilmu agama. Pembentukan kepribadian religius semakin terkikis habis pada generasi jika frasa agama benar dihilangkan.

Dalam dikotomi pendidikan yang sedang berjalan, kenakalan remaja hampir setiap hari memenuhi ruang pemberitaan. Tawuran, pergaulan bebas, terlibat miras dan narkoba dan banyak lagi potret buram pelajar Indonesia seperti mata rantai yang tak berujung. Maka tak heran, tingginya pendidikan tak berkorelasi dengan tingginya akal sehat. Pelajaran hanya dijadikan sebagai ilmu pengetahuan pemuasan akal semata dan penambah wawasan tanpa nilai-nilai ketaatan kepada Allah Swt.

Terlihat cacat logika ketika frasa agama akan diganti dengan akhlak dan kebudayaan, sebab implementasi akhlak adalah buah dari penerapan agama secara kaffah. Ketika akhlak menjadi persoalan terhadap hasil pendidikan yang tidak maksimal sebenarnya ia adalah buah dari penerapan Islam yang tidak menyeluruh dalam dunia pendidikan dan kehidupan.

Dalam misi sistem pendidikan Islam sudah jelas dan terbukti untuk menyadarkan umat sebagai Khalifah di muka bumi sehingga upaya yang dilakukan adalah dalam misi untuk taat kepada Allah Swt secara totalitas sebagai seorang hamba. Sedangkan visi dalam sistem pendidikan Islam adalah membangun dan memajukan peradaban Islam. Sehingga output yang dihasilkan adalah insan yang takwa, memahami tsaqofah Islam dan ilmu kehidupan dengan baik dan benar.

Asas dari pendidikan Islam adalah akidah Islam. Oleh karena itu tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk membentuk kepribadian dan pemikiran Islam secara kaffah sehingga akan membentuk umat yang mempunyai pemikiran yang cemerlang dan mendalam tentang kehidupan, manusia dan alam sekitarnya.

Tak dapat dipungkiri, peradaban Islam telah membentuk orang- orang yang menjadi mercusuar dalam bidang pendidikan, pendobrak ilmu pengetahuan. Contohnya Ibnu Sina (980-1037) yang diabadikan dalam sejarah ilmu kedokteran, Al-Khawarizmi (780-850) yang dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang berkontribusi besar di bidang matematika, geografi dan astronomi. Ibnu al-Nafis (1213-1288) pada abad ke -13 Masehi Beliau telah mampu merumuskan dasar-dasar sirkulasi jantung, paru-paru dan kapiler pertama kali di dunia.

Tidakkah dunia, khususnya umat Islam merindukan abad gemilang seperti pada generasi Islam jaman dahulu? Tentu sejarah emas akan terulang apabila sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sendi- sendi kehidupan. Karena hanya di sistem Islam lah manusia akan menjadi insan yang sesuai dengan fitrahnya.

Wallahua’lam bishowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 81

Comment here