Opini

Money Politic di Pilkada Konsel, Akankah Tuntas?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Siti Aminah, S.Pd. (Pemerhati Masalah Sosial Lainea, Sulawesi Tenggara)

Wacana-edukasi.comMoney politic  (politik uang) di pilkada, bukanlah rahasia umum lagi bahkan sesuatu yang lumrah terjadi di negeri ini. Tidak bisa dipungkiri money politik itu ada di setiap pesta demokrasi. Bagaimana tidak, setiap kali pesta demokrasi, selalu bertebaran “amplop” untuk menarik simpati dari masyarakat. Jika pemilih cerdas dan paham pasti tidak akan menerima amplop. Akan tetapi, bagaimana jika mendapatkan pemilih yang beranggapan bahwa kita kan diberikan bukan meminta. Jadi asal ada uang terima saja. Apalagi kondisi seperti sekarang sangat mendukung, yaitu kondisi krisis ekonomi yang diakibatkan oleh wabah yang melanda dunia saat ini.

Memang ada sebagian masyarakat menyuarakan aspirasi ini. Yakni, menyuarakan penuntasan money politik di pilkada. Sebagaimana yang dilansir oleh TELISIK.ID (8/12/2020), Jaringan Pemuda Pemerhati Pemilu dan Pilkada (JP3) Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar demonstrasi di Bawaslu dan Gakkumdu Konawe Selatan (Konsel).

Namun, akankah Bawaslu mampu menuntaskan money politic ini?

Jika kita menelisik lebih jauh, maka kita akan berjumpa dengan fakta yang memperlihatkan betapa menyedihkannya negeri ini. Bagaimana tidak, di setiap momen pemilihan pasti kita dipertontonkan dengan bagi-bagi amplop. Fakta di atas terkuak, karena ada sebagian rakyat yang sadar dengan hal tersebut. Tetapi, jika masyarakatnya sudah tidak perduli lagi dengan bagi-bagi amplop atau menganggap semua itu hal yang wajar. Maka, disinilah kita akan menemukan hancurnya tatanan kehidupan di masyarakat.

Karena, pada dasarnya ketika suatu jabatan kekuasaan didapatkan dengan sogok menyogok, maka kita akan menemukan penguasa-penguasa yang anti kritik dan abai terhadap kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena suara rakyat sudah dibayar. Akhirnya, ketika masyarakat menuntut keadilan atau kesejahteraan diabaikan.

Money politic ini sebenarnya sudah mendarah daging dalam sistem kapitalis demokrasi. Karena untuk mendapatkan kekuasan pasti harus ada modal terlebih dahulu. Setelah itu ketika sudah menjadi pejabat, muculah koruptor-koruptor baru. Bagaimana tidak, mereka disibukkan dengan mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan di awal, setelah menjabat maka rakyat dikesampingkan.

Maka muncullah istilah “Keluarga lima tahun”. Karena, setelah pemilihan selesai para paslon pun menghilang bagaikan ditelan bumi. Setelah terpilih pun, lima tahun kemudian akan muncul dengan membawa janji yang manis bagaikan madu yang dibalut racun.

Inilah wajah asli dari sistem saat ini. Yakni, sistem kapitalisme sekular demokrasi. Jika seseorang ingin menduduki kekuasaan di dalam sistem ini maka harus memiliki modal yang besar. Sehingga para pemangku kekuasaan pun bermentalkan materialisme. Kekuasaan hanya menjadi jalan untuk memuluskan mereka meraup keuntungan semata, bukan untuk menunaikan kewajiban dan menjalakan amanah demi kemaslahatan rakyat. Maka, money politic di dalam sistem kapitalisme demokrasi tidak akan tuntas sampai ke akarnya.

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Dalam Islam para penguasa benar-benar berorientasi kepada kemaslahatan umat. Mereka menjadikan kepemimpinan sebuah amanah yang wajib diemban demi kemaslahatan rakyat. Dan tidak disibukan dengan mendapatkan kekuasaan. Malah ketika mereka ditawarkan kekuasaan, mereka menolaknya karena beratnya tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan. Bukan hanya tanggungjawab di hadapan manusia akan tetapi di hadapan Allah Swt. kelak.

Ciri khas dari sistem Islam yang sempurna. Kesempurnaannya karena berasal dari maha sempurna yaitu Allah Swt. Jadi, apa pun selalu bersandar pada hukum-hukum Allah Swt. dan selalu memperhatikan halal dan haram.

Maka, kita tidak akan pernah menemukan money politic di dalam sistem Islam. Karena money politik adalah bagian dari sogok menyogok. Sehingga jelas, di dalam Islam sogok menyogok adalah sesuatu yang haram.

Jadi, akan tuntas money politik hanya dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam aspek kehidupan. Yakni, dengan tegaknya khilafah berdasarkan manhaj kenabian.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here