Opini

Krisis Moral Generasi, Islam Solusi Hakiki

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Mukhlisatun Husniyah (Muslimah Peduli Generasi)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Peran orangtua sangat berpengaruh terhadap karakter anak, karena lingkungan keluarga adalah tempat pertama anak belajar nilai-nilai kehidupan, komunikasi, dan interaksi sosial. Namun, karena kesibukan lainnya seperti bekerja membuat orangtua memilih untuk mempercayakan guru yang ada di sekolah dalam mendidiknya, agar menjadi pribadi yang lebih baik, baik moral maupun akademisnya.

Karakter seseorang pada zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Ketika zaman dahulu memberi hukuman untuk siswa yang melanggar aturan, orangtua siswa tak mempermasalahkannya, bahkan mendukung tindakan seorang guru yang tegas. Saat ini banyak orangtua yang tak terima, dan memperpanjang masalah hingga melaporkan ke kantor polisi meskipun alasan guru melakukan hal tersebut benar dan jelas.

Seperti halnya Polemik yang terjadi di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. Terjadi saat Kepala Sekolah Dini Fitri diduga menampar siswa yang merokok di sekolah. Tindakannya dianggap sebagai kekerasan hingga orang tua melapor ke polisi dan seluruh siswa mogok sekolah menuntut melengserkan kepala sekolah tersebut. Namun, kasus akhirnya diselesaikan secara damai setelah orang tua mencabut laporan akibat banyaknya kecaman dari warganet. (News.detik.com, 16/10/2025)

Selain itu terdapat foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo, yang menyebar dengan cepat di jagat maya. Insiden ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan sebuah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern. (suara.com, 18/10/2025)

Posisi pendidik kini semakin sulit karena menurunnya wibawa guru dan kaburnya batas dalam menegakkan disiplin. Siswa cenderung bertindak bebas, sementara guru merasa tak berdaya. Sistem sekuler dan lemahnya perhatian negara menyebabkan krisis moral di kalangan remaja, seperti anggapan bahwa merokok adalah simbol kedewasaan. Karena itu, diperlukan pendidikan yang mampu menuntun remaja mengenali jati diri dan menjalani hidup dengan arah yang benar.

Apalagi saat ini banyak orang tua justru membela anaknya yang melakukan pelanggaran, padahal seharusnya bekerja sama dengan guru dalam mendidik. Seperti kisah yang dapat diambil dari pendidikan karakter Muhammad al-fatih saat kecil, meskipun ia anak seorang sultan, namun ayahnya tak memanjakannya, terutama dalam hal pendidikan. Sang ayah, Sultan Murad II berpesan kepada guru Muhammad al-fatih akan menyerahkan pendidikan sang anak sepenuhnya, bahkan ia menitipkan sebuah alat pukul. Beliau mengizinkan sang guru untuk memukul anaknya jika tidak mau mengikuti aturan. Dan terbukti akhirnya Muhammad al-fatih menjadi seorang pemimpin besar, menjadi sosok yang dikenang sepanjang masa.

Dalam sistem pendidikan saat ini, guru tidak memiliki perlindungan yang memadai dan berada di bawah tekanan besar. Sistem pendidikan sekuler yang memberi kebebasan tanpa batas terbukti gagal membentuk peserta didik yang beriman dan berakhlak mulia. Sudah saatnya nilai-nilai dasar seperti sopan santun dan rasa hormat terhadap guru ditanamkan kembali. Dalam pandangan Islam, guru merupakan pilar penting peradaban, sosok yang dihormati dan dimuliakan karena perannya membentuk karakter murid. Guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga teladan yang menuntun akhlak siswanya.

Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi mencetak insan yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah islâmiyyah), yakni membentuk pola pikir (‘aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah Islam. Tujuan pendidikan ini terangkum, antara lain, dalam firman Allah SWT saat menjelaskan tujuan pengutusan Rasulullah saw :

“Dialah (Allah) yang mengutus di tengah-tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia (bertugas) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri) mereka, serta mengajari mereka al-Quran dan hikmah; sementara mereka sebelumnya benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata” (TQS. Al-Jum’ah: 2).

Dalam dunia pendidikan, Islam menempatkan penanaman akidah sebagai pondasi utama seluruh ilmu pengetahuan. Akidah inilah yang membentuk perilaku peserta didik agar sesuai dengan syariah serta mengarahkan potensi mereka untuk beramal demi meraih ridha Allah SWT. Negara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan pendidikan berjalan sesuai tujuan syar‘i, yaitu mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Namun, dalam sistem kapitalisme-demokrasi-sekuler saat ini, sulit mewujudkan pendidikan yang gratis, berkualitas, sekaligus mampu melahirkan generasi beriman dan bertakwa. Pendidikan yang ideal hanya bisa terwujud dalam sistem pemerintahan Islam yang menjadikan akidah dan syariah sebagai landasannya. Tanpa itu, pendidikan akan tetap bersifat materialistik dan kehilangan nilai spiritualnya.

Oleh karena itu, hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaffah oleh negara, pendidikan dapat kembali bersinar. Negara akan menjadi penjaga ilmu, pelindung adab, dan penegak peradaban yang memuliakan manusia. Dari sistem ini akan lahir generasi ulama, mujahid, dan pemimpin dunia yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 18

Comment here