Surat Pembaca

Kasus Bunuh Diri Meningkat, Ada Apa dengan Generasi Kita?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Esnaini Sholikhah,S.Pd.
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)

wacana-edukasi. Com, SURAT PEMBACA– enomena bunuh diri pada usia remaja atau usia dewasa dini sering terjadi saat ini. Media massa memberitakan, hampir setiap hari kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja terus meningkat. Alasan yang paling mendasar diantaranya karena tidak tahan menanggung beban kehidupan di alam kapitalisme yang kian berat ini. Bahkan, Polri mencatat sejak awal 2023 ada 451 aksi bunuh diri di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut cenderung meningkat dari Januari hingga April 2023. Sebut saja kasus bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswi karena tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tuanya.

Semakin maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa/mahasiswi ini menuai tanggapan dari Praktisi Psikolog Keluarga Nuzulia Rahma Tristinarum. Ia mengatakan ada beberapa hal yang bisa memicu fenomena tersebut. Pertama, pola asuh yang membentuk anak anak sekarang, seringkali adalah pola asuh fatherless dan motherless. Ayah dan Ibu yang tidak pernah hadir penuh, tidak ada attachment yang kuat dan kurang penanaman prinsip hidup. Menjadikan anak-anak kehilangan figur yang dapat menjadi tauladan mereka. Kedua, banyaknya informasi yang diperoleh dari dunia maya membuat anak anak kesulitan memfilter isinya. Terlalu banyak terpapar media sosial, membuat mereka mengikuti apa yang sering dilihat dan didengar. Apa yang buruk dapat dianggap menjadi wajar, semisal bullying, self harm, dan bunuh diri. Kemudian, tuntutan yang terlalu tinggi dari berbagai sisi, baik internal maupun eksternal, akan berdampak pada karakter anak.

“Tuntutan yang terlalu tinggi pada anak tanpa dibarengi dengan attachment yang kuat dan tidak dipenuhinya jiwa anak dengan kasih sayang, cinta dan komunikasi yang baik, akan membuat anak merasa “kosong”, merasa “hampa”,” ujarnya kepada Republika, Ahad (15/10/2023).

Bunuh diri menjadi salah satu pengantar kematian tertinggi kedua setelah kecelakaan di kalangan remaja. Angka pikiran untuk bunuh diri lebih besar daripada kasus bunuh diri itu sendiri. Menurut Pusat Data Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI mencatat ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Angka itu sudah melampaui kasus bunuh diri sepanjang tahun 2022, yang jumlahnya 900 kasus (katadata, Rabu, 18/10/2023)

Faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter generasi adalah pendidikan sistem sekuler yang menjadi pijakan di negri ini. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan manusia tidak lagi meyakini Sang Pencipta dengan seperangkat aturanNya bisa menyelamatkannya di dunia dan akhirat. Dan buah dari hasil pendidikan sekuler ini, membuat generasi yang tumbuh dari kemudahan instan yang ditawarkan teknologi, menjadi generasi yang mudah menyerah, tertekan, dan gampang sakit hati. Akhirnya, bunuh diri kerap kali menjadi pilihan terakhir mengakhiri masalah yang dihadapi. Sungguh kasus bunuh diri yang menimpa pada sebagian generasi muda saat ini benar-benar merusak kepribadian generasi.

Namun Islam memberi solusi atas permasalahan ini. Islam memberi perhatian besar kepada generasi, bahkan sejak dini. Pada masa Islam berjaya, keluarga kaum muslim menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya. Sejak sebelum lahir dan saat balita, orang tua mereka telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil untuk menghafal Al-Qur’an dengan cara memperdengarkan bacaannya. Alhasil, Islam memberikan perlindungan atas nyawa manusia, menjaga fitrah manusia, serta menjamin kebutuhan hidup masyarakatnya.

Negara yang menerapkan sistem Islam juga menjamin akses pendidikan pada semua warga negara secara cuma-cuma, tetapi tetap berkualitas, hingga akhirnya menghasilkan masyarakat yang kokoh serta sejahtera. Hal ini bukan cerita dongeng, melainkan telah terbukti pada masa kegemilangan Islam. Beberapa hal yang dilakukan dalam pendidikan Islam untuk membentuk kepribadian pada pelajar diantaranya: Pertama, menanamkan keimanan pada para generasi. Mereka dibimbing untuk memahami hakikat penciptaan manusia, hingga mereka paham bahwa sebagai hamba Allah harus beribadah dan tunduk patuh terhadap syariat-Nya. Kedua, generasi juga diberikan pemahaman bahwa siapapun akan mati. Firman Allah SWT, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Al-Imran: 185).

Kesadaran atas hakikat kematian akan melahirkan sikap kehati-hatian dalam beramal, dan memahami bahwa perbuatan bunuh diri justru merupakan dosa besar yang akan mendapat siksa dari Allah SWT. Allah mengingatkan kita, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa: 29)

Oleh karena itu hanya sistem Islam yang dapat menjauhkan generasi dari berbagai pemikiran yang bertentangan dengan syariat semisal bunuh diri. Karena kehidupan dalam sistem Islam memberikan keamanan, ketenangan, dan kesejahteraan bagi warganya. Wallahualam bisshowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 12

Comment here