Opini

Ironi Kemerdekaan, di Balik Penjajahan

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Aura Amanda

Wacana-edukasi.com, OPINI–17 Agustus 2025, genap sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Bukan sebuah usia singkat bagi negara yang merdeka. Hari kemerdekaan diisi dengan serangkaian seremonial, dari kenegaraan hingga rakyat yang memeriahkannya di jalan-jalan. Namun, apakah benar Indonesia telah merdeka?

Di tengah kemelut Indonesia yang sudah merdeka selama 80 tahun ternyata permasalahan di negeri ini masih banyak. Contohnya seperti banyaknya pengangguran dan pengurangan tenaga kerja secara signifikan.

Mengutip dari laman Metrotvnews.com (08/08/2025), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengungkapkan dalam periode Agustus 2024 hingga Februari 2025 terjadi pengurangan tenaga kerja secara signifikan. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 939.038 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di 14 sektor usaha berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).

Selain banyaknya pengangguran dan pengurangan tenaga kerja secara signifikan, ternyata permasalahan di negeri ini terkait dengan harga bahan pangan semakin melambung seperti harga cabai rawit Rp90 ribu/kg. Kenaikan juga terjadi pada cabai keriting, bawang merah, dan tomat. Mengutip dari laman Metrotvnews.com (03/01/2025), beberapa harga bahan pokok justru ada yang melebihi harga pasaran. Harga ayam potong yang sebelumnya dibanderol Rp28 ribu selepas tahun 2025 bisa mendekati Rp35 ribu-38 ribu/kg. Harga telur ayam juga merangkak naik hingga mencapai Rp56 ribu/kg.

Selain itu, masalah di negeri ini tidak berhenti disana. Lapangan pekerjaan semakin sedikit. Mengutip dari bbc.com (30/04/2025), bahwa tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi seperti diploma dan sarjana terpaksa banting setir menjadi pembantu rumah tangga, pengasuh anak, sopir, bahkan office boy (pramukantor). Ini dilakukan demi bertahan hidup di tengah minimnya lapangan pekerjaan di sektor formal dan badai pemutusan hubungan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut diperburuk dengan penghasilan masyarakat stagnan bahkan menurun, sedangkan pengeluaran semakin besar.

Di negeri yang sudah merdeka selama 80 tahun, rakyatnya masih berusaha bertahan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup di tengah kehidupan semua serba mahal. Kondisi ini pun membuat jurang kemiskinan semakin dalam. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat. Persoalan terus bertambah, menambah citra suram masa depan bangsa yang katanya sudah merdeka.

Dari sini semakin nampak, bahwa sejatinya Indonesia belum benar-benar merdeka. Meski sudah tidak ada penjajahan secara fisik, Indonesia masih belum dapat menyelesaikan urusan dalam negerinya sendiri.

Rakyat tidak sejahtera, kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar tiap rakyat menambah bukti Indonesia belum benar-benar merdeka.

Lantas, kemerdekaan itu untuk siapa?

Permasalahan yang masih terjadi di negeri ini dapat tercipta bukan tanpa sebab. Negara-negara kapitalis akan selalu berupaya untuk menyebarkan paham dan mempertahankan pengaruhnya di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dengan metode penjajahan yang intinya penguasaan serta pengendalian di berbagai bidang. Baik itu sektor politik, ekonomi, sosial, pendidikan, serta pertahanan dan keamanan. Dengan menjajah, menguasai, dan pengendalian di berbagai bidang baik itu sektor politik, ekonomi, sosial, pendidikan, serta pertahanan dan keamanan, cengkraman kapitalis ini akan makin niscaya.

Dengan penguasaan disetiap sektor, sistem ini tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, melainkan kepentingan segelintir orang, kepentingan kapitalis.

Merdeka itu sejatinya tidak hanya bermakna terlepas dari penjajahan. Negara merdeka idealnya menjadi negara yang mandiri dan tidak bergantung pada negara lain.

Lalu, apa solusinya?

Makna kemerdekaan hakiki dalam pandangan Islam ialah ketika individu, masyarakat dan negara bisa tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Namun, apakah di sistem saat ini hal tersebut dapat terjadi?

Perlu pengkondisian untuk dapat tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Penerapan sistem Islam secara menyeluruh merupakan sebuah kebutuhan yang mendesak untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Dalam negara Islam, diterapkannya ideologi Islam sebagai ideologi negara serta penguasa yang berperan sentral sebagai pelaksana syariat Islam secara menyeluruh (kaffah). Penguasa juga berperan sebagai pengurus dan pelindung bagi rakyatnya. Dengan Islam, penguasa Negara Islam akan melaksanakan berbagai kebijakan politik dan mengambil segala kebijakan sesuai syariat-Nya, bukan atas nafsu dan kepentingan pribadi.

Permasalahan yang menimpa bangsa ini diraih karena dijauhkannya hukum-hukum Allah dari kehidupan. Mengambil hukum-hukum buatan manusia yang mudah diotak-atik sesuai kepentingan yang terbukti rusak dan menyengsarakan masyarakat.

Islam sebagai solusi, yang hadirnya dapat menghapuskan kezaliman. Apabila bangsa ini ingin benar-benar merdeka, tanpa ada belenggu penjajahan dalam bentuk apapun maka negara mesti diatur oleh hukum-hukum Allah dalam berbagai aspek kehidupan. Penerapan sistem Islam secara sempurna, secara totalitas. Karena hanya dengan itulah, kita mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan serta mendapat ridha Allah Taala. Dengan demikian, bangsa dan negeri ini bisa dikatakan benar-benar meraih kemerdekaan. [WE/IK].

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 19

Comment here