Oleh: A Tenri Sarwan, S.M.
Wacana-edukasi.com, OPINI–Kita sering mendengar from zero to hero, yang menginspirasi generasi muda. Namun, hari ini kian dekat kita pada usia 100 tahun, generasi muda negeri justru kian mengkhawatirkan. Bagaimana gambaran 2045 bisa terealisasi, jika sekarang kita melihat calon generasi emas itu kian cemas?
Seorang santri di Aceh Besar ditetapkan sebagai tersangka kasus terbakarnya asrama pondok pesantren tempat dia belajar. Sang santri disebut sengaja membakar asrama lantaran sakit hati karena kerap menjadi korban bullying oleh rekan-rekannya (beritasatu.com, 8/11/2025).
Seorang siswa SMA 72, Kelapa Gading, Ilham (bukan nama sebenarnya) mengatakan seorang siswa yang diduga pelaku ledakan diduga korban perundungan atau bullying (Cnnindonesia.com, 8/11/2025).
Apakah generasi from zero to hero telah lenyap, berganti menjadi generasi from bullying to killing? Mengapa kasus bullying kian menggurita, atau memang generasi bermental bullying ini adalah tabiat sistem kapitalis-sekuler?
Bullying to Killing
Mereka yang menjadi korban bullying kian membahayakan. Apakah ini salah mereka? Kerap dikatakan cupu, lemah, cemen, kuper (kurang pergaulan) dan lain sebagainya hingga mudah bagi mereka mendapatkan ejekan, pelecehan hingga pengucilan. Bullying (perundungan) kian menggejala di berbagai daerah, bukti problem ini adalah problem sistemik dalam pendidikan.
Kehidupan generasi yang hidup dalam sistem rusak dan merusak membuat generasi menuhankan kebebasan tanpa batas. Sekulerisme adalah aqidah yang memisahkan agama dari kehidupan. Adanya aqidah ini membuat individu hanya menjadikan agama sebagai ritual saja. Hingga lahirlah generasi yang semakin nir empati, nir moral.
Meskipun rakyat negeri ini mayoritasnya adalah muslim. Tetapi, syariat IsIam tidak dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan termasuk pendidikan.
Sistem pendidikan negeri adalah sistem pendidikan sekuler dimana peran agama dijauhkan. Hadirlah generasi yang menjadikan bullying jadi candaan sehingga wajarlah jika fungsi pendidikan telah jauh dari cita-cita untuk membentuk karakter dan kepribadian dengan nilai-nilai moral. Sebab, generasi terjauhkan dari fitrahnya tak tertanam keimanan dan ketakwaan.
Diperparah hadirnya sosial media yang menyemesta tanpa batas, lalu menjadi rujukan korban bullying hingga hadirlah mereka yang melakukan tindakan membahayakan, from bullying to killing.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik tentu telah gagal menghadirkan profil generasi emas yang layak menjadi generasi pelanjut masa depan. Sistem pendidikan ini mengabaikan nilai keimanan dan ketakwaan. Ini jelas malapetaka bagi generasi, maka wajarlah bukan generasi emas yang terbentuk tapi yang terjadi justru generasi semakin bertindak amoral hingga kriminal. Jika terus dibiarkan, bagaimana visi Indonesia Emas bisa dengan mudah terealisasi? Sistem pendidikan sekuler telah nyata gagal, lalu bagaimana seharusnya?
Islam Role Model Pendidikan
Islam adalah agama yang syamilan wa kamilan (sempurna dan menyeluruh) yang hadirnya sebagai solusi bagi setiap problematika ummat hari ini sebab bersumber dari Sang Pencipta, Allah Swt.
Allah swt. Tidak hanya sebagai Pencipta tetapi juga sebagai Al-Mudabbir, Yang Maha Pengatur. Islam bukan hanya sekedar aqidah tapi juga syariah. Yang hadirnya syariah ini telah paripurna mengatur bukan hanya akhlak generasi tetapi hingga sistem pendidikan terbaik bagi generasi.
Tak akan didapati generasi bullying to killing sebab Allah sudah sampaikan dalam firmannya yang mulia. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain. Boleh jadi yang diejek itu lebih baik daripada yang mengejek (TQS al-Hujurat [49]: 11).
Bullying jelas perilaku merendahkan orang lain dan dalam Islam jelas keharamannya. Oleh karena itu, pendidikan jelaslah bukan hanya tentang transfer ilmu. Lebih dari itu tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam. Generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islam yang dibina dengan dasar aqidah Islam.
Generasi yang paham betul hakikat kehidupan hanya sementara bahwa kelak akan ada pertanggungjawaban. Pemahaman ini tentu akan melahirkan generasi yang selalu bersikap wara’ (hati-hati) dalam bertindak. Tak akan ada muncul keinginan merendahkan apalagi sampai membahayakan orang lain.
Rasulullah SAW. Telah mencontohkan bagaimana beliau mendidik para sahabat, anak-anak, remaja, dan lapisan masyarakat. Mengajarkan Al-qur’an dan As-sunnah hingga lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga sholih dan sholihah. Tentu hal ini ditopang dengan kerjasama segala pihak.
Generasi didik sejak di dalam keluarga, membentuk mereka menjadi individu bertakwa. Lalu masyarakat yang senantiasa berdakwah, mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Hadir pula negara yang menerapkan sistem Islam hingga menjadi junnah, pelindung bagi generasi. Yang akan memastikan dan menjamin sampainya pendidikan dengan kualitas terbaik bagi generasi. Pendidikan yang membina moral generasi dan melindungi generasi dari berbagai kezaliman.
Alhasil, sistem sekuler kapitalis tentu sudah tak layak mewujudkan generasi emas. Hanya dengan sistem Islam akan hadir generasi khairu ummah, akan lahir generasi pemimpin peradaban. Akan lahir para mujahid dan mujahidah intelektual yang mampu mengarahkan ummat menuju ridho Allah swt. Siapkah ummat mewujudkannya?
Rasulullah saw. Bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلا إِلَى أَحْسَابِكُمْ وَلا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak memandang fisik, keturunan dan harta kalian. Akan tetapi, Allah memandang kalbu (ketakwaan) kalian (HR ath-Thabarani).
Wallahu’alam bish-showab.
Views: 16


Comment here