Bahasa dan SastraCerpen

Harapanku hanya PadaMu

Pict From: Laboratoriorojan
Bagikan di media sosialmu
Penulis: Siti Ningrum, M.Pd.(Praktisi Pendidikan)

“Kamu tahu? Kamu telah merugikan orang lain,” jerit Tantri dengan nada tinggi pada Hani.

“Apa maksud kamu?” tanya Hani bingung.

“Kelakuanmu itu selalu membuat jengkel orang,” bentak Tantri. Tanpa menghiraukan Hani yang tampak kebingungan.

“Kelakuan yang mana Tantri? Tolong jelaskan dan jangan membuat aku semakin bingung begini,” jawab Hani tenang, berusaha mengendalikan emosi.

“Kebiasaan kamu yang beberapa kali pinjam uang ke aku. Aku sangat tertekan! Dan itu membuatku jengkel!” kata Tantri dengan tatapan sinis.

Deg …

Hani menatap sedih sahabat yang berada di depannya. Dia terdiam, hanya bulir air mata mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar, menahan gejolak dalam dada. Hatinya perih bagai diiris sembilu mendengar kata-kata gadis yang berkerudung hijau didepannya itu.

“Maafkan aku, jika selama ini aku selalu merepotkanmu. Aku tidak menyangka sama sekali, bahwa kau merasa keberatan. Karena kamu adalah sahabatku, sehingga aku berani meminjam uang padamu kalau aku terdesak,” kata Hani lirih. ‘Mengapa dia setega itu padaku? Ya Tuhan, berarti selama ini dia tidak ikhlas membantuku,’ batin gadis itu menundukkan kepala.

Dalam hati meluncur  bermacam pertanyaan. ‘Bukankah dia paham tentang agama. Islam menganjurkan untuk saling membantu. Aku juga telah menganggapnya sebagai sahabat rasa saudara, mengingat kami di sini merantau dan saling berbagi tentang hal apapun?’ pikir Hani menjelajah ke dalam relung hatinya. ‘Ah, … sudahlah mungkin aku hanya bertepuk sebelah tangan.” Makin perih hatinya.

“Jadi kamu mengajak aku bertemu malam-malam untuk menyampaikan ini semua?” tanya Hani.

“Masih banyak yang ingin aku sampaikan padamu.” jawab Tantri ketus.

“Cukup!  Aku tidak ingin mendengar hal lainnya. Aku sudah bisa menyimpulkan tentang kita. Dan semuanya telah aku ingat, terimakasih atas semuanya dan aku meminta maaf yang sebesar-besarnya …,” kata Hani pergi dari cafe tempat mereka biasa berkumpul untuk berbagi cerita.

Sampai di rumah Hani mengambil ponselnya sambil memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Ingin sekali dia menceritakan pada sahabatnya yang lain. Namun malam sudah semakin larut, tidak baik jika dia harus curhat. Dia memutuskan untuk menelpon besok saja.

****

Dengan tubuh yang lunglai dan  matanya sembab. Hani duduk dipojok cafe tempat dia biasa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.

Ruangannya yang tidak terlalu luas dengan dinding berwarna krim muda bercorak hitam serta ornamen-ornamen unik menambah manis cafe tersebut. Hari ini hari Minggu pagi, cafe belum terlalu ramai.

Dia menggenakan jilbab kesukaannya, warna hitam serta sepatu tumit pendek yang senada. Kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak.

Pelayan berwajah oval dan berkulit putih tampak lesung pipit di wajahnya setiap kali tersenyum langsung menyapa ramah.

“Teteh, bade pesen naon?” 1 tanya pelayan membuyarkan lamunan Hani.

“Ehm … satu es green tea,” jawab gadis itu.

“Mangga diantos, Teh,” 2 jawab pelayan.

Hani mengangguk pelan dan  kembali pikirannya menerawang mengingat kejadian semalam.

Sepuluh menit kemudian Wiwi datang,
tak berselang lama Titi juga menyusul ke mejanya.

Dari kejauhan Yati berjalan mendekat.

“Aya naon ieu teh, Hani? Asa meni rareuwas kitu …,” 3 sapa Yati dengan wajah lucunya.

Sambil menepuk bahu Hani, dia pun duduk disebelah gadis itu dengan keheranan. Bibir merah merupakan ciri khas Yati selain dari logat Sunda yang begitu khas.

“Ada apa, Hani?” tanya Titi.

“Aya naon, Han?” tanya Wiwi yang baru saja datang dan langsung menyapa Hani yang hanya terdengar suara isak tangisnya.

Sesekali gadis itu menyeka air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

Wiwi paling dewasa diantara sahabat yang lainnya serta berwatak keibuan langsung memeluk Hani. Tangisan Hani semakin kencang.

“Sudahlah jangan menangis, mending makan baso yuk ah,” ajak Titi santai.

Titi jarang menanggapi serius,  meskipun dalam keadaan genting, Dia juga tidak pernah terbawa keadaan. Itulah ciri khasnya, selain juga tomboy. Kalau dia marah baru bisa serius.

Mata Wiwi mendelik ke arah Titi, dan mencoba menenangkan Hani dengan mengelus-elus kepalanya.

“Cepatlah berbicara Hani, siapa yang membuatmu menangis bombay begini. Saya mau beri bogem nih orangnya!” ucap Titi, sambil makan baso dengan lahapnya.

“Saha atuh buru ngomong ka urang, kita serang bareng-bareng biar nyaho geng kita,” 6 sahut Yati galak.

Menurut Yati yang kuliah di jurusan sastra Sunda Universitas Padjajaran, bahasa sunda tidak boleh punah di bumi pertiwi ini.

Tidak lama kemudian tangisan Hani mulai mereda, dan mulai menceritakan kejadian semalam.

Tiba-tiba Titi berdiri sambil memukul meja dan berteriak.

“Ooh jadi dia lagi yang bikin ulah.”

Sambil mengepalkan jari jemarinya, giginya terdengat gemeretak saking menahan amarah.

“Sudah Titi, kita selesaikan dengan kepala dingin meskipun hati panas,” kata Wiwi berusaha menenangkan sahabatnya. “Biar aku saja yang menelpon dia sekarang”.

“Apa?” teriak Hani terkejut lalu melepaskan pelukan Wiwi.

“Teteh mau nelpon dia dan memintanya datang ke sini,” tanya Hani ragu.

Seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Namun Wiwi tidak menghiraukan keraguan Hani. Dia hanya ingin menyelesaikan permasalahan diantara sahabatnya.

Tiba-tiba … Tantri sudah berada dihadapan mereka bertiga. Tubuhnya paling tinggi diantara mereka. Namun kini penampilannya telah berubah drastis. Tantri memakai rok dan kerudung yang lebar. Wajahnya tidak begitu ceria, seolah menyimpan sebuah rahasia. Dia mau ke pasar, kebetulan melihat Wiwi masuk ke dalam cafe. Tantri tidak mengetahui bahwa di cafe itu sudah berkumpul sahabatnya.

Hani langsung menyambar tasnya, dan segera berdiri ingin pergi dari cafe tersebut.

“Sabar, Hani. Duduklah!” kata Wiwi dengan penuh wibawa sambil memegang tangan dan menahan langkah gadis itu.

“Duduk, Tan! Apa kabarmu?” tanya Wiwi, sambil memperhatikan gerak gerik tubuh Tantri. Wiwi adalah lulusan sarjana psikolog, jadi dia tahu seseorang sedang menyembunyikan masalah besar.

“Baik,” jawab Tantri datar.

Kemudian dia juga menyapa Titi yang sedari tadi bergeming dengan jus alpukat ditangannya. Titi yang sarjana listrik memang tidak bisa berpura-pura, dia diam mengabaikan uluran tangan Tantri.

Yati hanya tersenyum sinis pada Tantri.

Wiwi yang paling dewasa diantara mereka segera mencairkan suasana. Namun Hani sudah tidak dapat menahan diri, dia berlari menghambur keluar cafe. Suasana makin tegang, Disusul oleh Titi yang mengejar Hani. Wiwi segera menyusul mereka, tidak lupa mengajak Tantri untuk turut bersamanya. Hani menuju parkiran motor dan segera mengendarai motornya. Titi ikut tegang, dia takut terjadi apa-apa pada Hani. Dia paling muda diantara yang lainnya.

“Han … Hani tunggu aku, biar aku yang bawa motor kamu,” panggil Titi. Namun sebelum Titi menyalakan motor, Wiwi dan Tantri telah sampai diparkiran juga.

“Stop semua!” teriak Wiwi lantang.

Suara Wiwi membuat orang-orang yang berada diparkiran melirik rombongan mereka.

“Hey! Kalian seperti anak TK saja, tidak bisa ya menyeleseikan masalah dengan kepala dingin?” tanya Wiwi kesal.

“Enya tong kitu lah garila, jiga budak mengo wae. Sakitu ges baruntutan oge.” 7

“Mending duduk dan santai kita bicarakan baik-baik,” ajak Yati ikut bersuara.

Tantri dan Hani hanya menunduk, Mereka tidak berani menatap Wiwi. Sebagai sahabat tertua sekaligus kakak tertua Wiwi cukup disegani.

“Sudah jangan diperpanjang, kita ini sudah seperti saudara. Puluhan tahun kita bersama-sama. Tidak boleh lagi ada sengketa. Ingat persahabatan itu melebihi apapun. Jangan sampai hanya karena harta atau kita berbeda pandangan akhirnya kita berseteru. Tak elok ya,” kata Wiwi mengeluarkan kata-kata logat Melayu. Mungkin terlalu sering nonton saudara kembar Upin dan Ipin di tv.

“Sekarang saling memaafkan semuanya,” kata Wiwi dengan nada bicara sudah mulai terkontrol.

“Ingat! Tidak ada manusia yang tidak luput dari khilaf dan salah.”

“Kalian masih ingat kan  kajian minggu kemarin? Ada ayat dalam Q.S. Al Baqarah: 245, yang artinya:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan,” kata Wiwi.

“Dan hadits Rasulullah SAW. barang siapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya,  maka dia akan mendapat naungan Allah dari H.R Muslim no.3006,” kata Wiwi penuh kelembutan.

“Ingat juga pepatah Imah Syafi’i. Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau melepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali.” kata Wiwi mengakhiri tausiah pendeknya.

“Ayo, kita berpelukan!” ajak Wiwi dengan senyum lebar.

Wiwi membujuk sahabatnya, karena melihat mereka tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya.

Hani masih menunduk, begitu pun dengan Tantri. Hanya Titi dan Yati yang dari tadi menganguk-anggukan kepalanya, mendengar nasihat sahabat tertua mereka.

Yati dan Titi mendekati Hani, memegang pergelangan tangan Hani sisi kiri dan kanannya.

“Hani, lembutkan hatimu ya …,” bujuk mereka bersamaan.

“Maafkan, Tantri … mungkin dia sedang dalam masalah yang lain, jadi dia seperti itu,” kata Yati.

Hani tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia menuruti apa yang diperintahkan oleh Yati.  Tidak seperti biasanya Yati begitu dewasa dalam menghadapi keadaan. Titi mengusap kepala Hani.

Wiwi menghampiri Tantri.

“Tantri, kontrol emosimu.”

“Meskipun kau jengkel dengan Hani, tidak sepantasnya kau mengucapkan kata-kata yang tidak patut.” Kembali kata-kata Melayu keluar dengan spontan dari mulutnya.

Akhirnya mereka berpelukan. Seperti film Teletubis, yang sempat ngetren di tv beberapa tahun yang lalu.

**
Semenjak pertemuan itu mereka tidak pernah berkumpul lagi. Karena memang keadaan mereka yang sibuk. Sesekali hanya bertanya kabar lewat grup WA atau video call bersama.

Hani merenungi semua yang telah terjadi. Kejadian itu telah membuka mata hatinya.

Bahwa dia tidak ingin membebani siapa saja. Walau dia ingin menceritakan yang sebenarnya, mengapa dia suka meminjam uang pada teman-temannya. Namun Hani memilih menceritakannya pada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih.

Dari sana dia mengambil sebuah pelajaran. Jangan pernah berhutang, apapun alasannya. Mintalah kepada Allah yang Maha Kaya. Dia yang Maha Pemberi Rejeki (Ar-Rojaq).

Tanpa sengaja dia membaca hadits dari buku yang dia pinjam dari temannya.

Rasulullah bersabda dalam sebuah riwayat, “Hammun billaili wa madzallatun binnahaari” (utang itu membuat sedih di malam hari dan hina di siang hari).

Dimalam yang hening itu, dia bermunajat pada sang Pencipta dan memohon ampunanNya.

Dalam isak tangisnya, Hani berbisik dalam doanya.

“Sahabat meski tangan tidak mampu memeluk dengan erat, namun nama kalian akan aku peluk dalam dekapan doa-doaku,” bisik Hani.

**
Sekian…
Note:
1. Teteh bade pesen naon? (Sunda) =    Mba mau pesan apa (B.Indonesia)

2. Mangga diantos (sunda) = silahkan ditunggu (B. Indonesia)

3. Aya naon ieu teh? (Sunda)= Ada apa ini? ( B. Indonesia)

4. Meni asa rareuwas (Sunda) = Kaget
( B. Indonesia)

5. Aya naon? (Sunda) = Ada apa?
( B. Indonesia)

6.Saha atuh buru ngomong ka urang (Sunda) = Siapa dong, ayo bicara ke kita ( B. Indonesia

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 2

Comment here