Opini

Gejolak Dunia dan Lemahnya Negeri Muslim

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd. (Pendidik Generasi)

Wacana-edukasi.com, OPINI--Dinamika dunia hari ini semakin tidak menentu. Konflik kawasan Timur Tengah, perang dagang, krisis energi, hingga ancaman keamanan global berdampak langsung kepada banyak negara, termasuk Indonesia. Belum lama ini, publik dikejutkan dengan beredarnya telegram Panglima TNI yang meminta kesiapsiagaan personel dalam status “siaga 1” sebagai respons terhadap situasi internasional yang berkembang (nasional.kompas.com, 9/4/2026).

Peristiwa ini menunjukkan bahwa gejolak dunia bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Ketika dunia bergejolak, harga energi bisa naik, ekonomi terguncang, nilai tukar melemah, bahkan stabilitas sosial dan politik dalam negeri ikut terpengaruh.

Namun di tengah situasi ini, ada pertanyaan penting mengapa negeri-negeri Muslim yang jumlahnya banyak, kaya sumber daya, dan strategis secara geografis justru lemah dalam percaturan global?

Sebagai pendidik generasi, saya memandang persoalan ini penting dipahami oleh anak-anak muda. Jangan sampai generasi kita tumbuh tanpa kesadaran politik, tanpa memahami mengapa umat besar justru sering menjadi korban permainan global.

Analisis Penyebab Masalah: Umat Besar yang Dipecah Sekat Nasionalisme

Kelemahan negeri-negeri Muslim hari ini bukan karena kekurangan potensi, tetapi karena kehilangan arah dan persatuan. Dunia Islam memiliki minyak, gas, jalur perdagangan penting, populasi besar, serta sejarah peradaban gemilang. Namun semua itu tercerai-berai dalam sekat negara bangsa (nation state).

 

Setiap negeri Muslim sibuk dengan urusan nasionalnya sendiri. Kebijakan luar negeri pun sering mengikuti tekanan negara adidaya. Akibatnya, banyak negeri Muslim tidak memiliki independensi politik.

 

Konsep nasionalisme yang diwariskan Barat telah menjadikan umat terpisah dalam batas geografis sempit. Padahal Allah Swt. telah mempersaudarakan kaum Muslim dalam satu ikatan akidah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10)

Sayangnya, persaudaraan itu digeser menjadi fanatisme kebangsaan. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri lain diam. Ketika Palestina dijajah, banyak penguasa hanya mengutuk tanpa tindakan nyata. Ketika ekonomi umat dirampok, negeri-negeri Muslim justru berebut kedekatan dengan kekuatan asing.

Sistem kapitalisme juga memperparah keadaan. Kebijakan ekonomi dibuat bergantung pada pasar global. Sistem pertahanan bergantung pada senjata impor. Bahkan arah pendidikan sering meniru Barat tanpa membangun jati diri Islam.

Dampak bagi Generasi Masa Depan

Jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi mendatang akan mewarisi kelemahan yang sama. Mereka hidup di negeri kaya, tetapi miskin kedaulatan. Mereka bersekolah tinggi, tetapi diarahkan hanya menjadi tenaga kerja global, bukan pemimpin peradaban.

Anak-anak muda akan tumbuh dengan mental inferior: merasa Barat selalu unggul, sementara umat Islam hanya penonton sejarah. Ini sangat berbahaya.

Sebagai pendidik, saya melihat generasi hari ini harus dibangunkan kesadarannya bahwa politik bukan sesuatu yang kotor. Politik adalah pengaturan urusan umat. Jika politik dikuasai pihak asing, maka masa depan generasi ikut ditentukan oleh mereka.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak lulusan pintar secara akademik, tetapi juga generasi yang paham arah perjuangan umat.

Solusi Tuntas: Membangun Kekuatan Politik Islam Kaffah

Umat Islam membutuhkan visi politik besar yang lahir dari akidah Islam, bukan dari nasionalisme sempit. Islam tidak memandang umat berdasarkan batas negara, tetapi berdasarkan persatuan iman.

Solusi mendasar adalah kembali kepada sistem Islam kaffah dalam institusi Khilafah yang menyatukan negeri-negeri Muslim dalam satu kepemimpinan. Dengan persatuan ini, potensi umat akan terkonsolidasi menjadi kekuatan nyata.

Bayangkan jika sumber daya energi negeri-negeri Muslim dikelola bersama. Jika kekuatan militer mereka dipersatukan. Jika pasar umat yang luas dijalankan dengan sistem ekonomi Islam. Jika kebijakan luar negeri diarahkan untuk melindungi umat, bukan menyenangkan negara besar.

Dalam sistem Khilafah, negara memiliki visi politik global: dakwah dan jihad. Dakwah berarti membawa rahmat Islam ke seluruh dunia melalui pemikiran dan keadilan. Jihad berarti menjaga kedaulatan umat serta membebaskan wilayah yang dijajah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS Al-Anfal: 60)

Ayat ini menunjukkan pentingnya kekuatan strategis, termasuk militer, agar umat tidak dipermainkan musuh.

Khilafah juga akan membangun pendidikan berbasis akidah Islam. Generasi tidak dididik menjadi pengekor Barat, tetapi menjadi ilmuwan, pemimpin, mujahid pemikiran, dan penjaga kehormatan umat.

Sejarah membuktikan, ketika Islam memimpin dunia, umat disegani bukan hanya karena senjata, tetapi karena keadilan dan ilmu pengetahuan. Bahkan banyak wilayah merasakan keamanan di bawah kepemimpinan Islam.

Saatnya Generasi Memiliki Mimpi Besar

Gejolak geopolitik global hari ini seharusnya menyadarkan kita bahwa dunia hanya menghormati kekuatan. Umat Islam tidak akan diperhitungkan jika tetap terpecah, lemah visi, dan bergantung pada pihak lain.

Sebagai pendidik generasi, saya ingin anak-anak muda memiliki cita-cita lebih tinggi daripada sekadar sukses pribadi. Mereka harus punya mimpi membangkitkan umat, menyatukan potensi kaum Muslim, dan menghadirkan kembali kepemimpinan Islam yang adil.

Karena sesungguhnya, umat ini tidak miskin sumber daya. Umat ini hanya miskin persatuan dan kepemimpinan. Sudah saatnya umat meninggalkan sekat yang memecah, lalu kembali kepada sistem Islam kaffah yang menyatukan. Dari sanalah kekuatan lahir, martabat kembali tegak, dan generasi masa depan memiliki harapan besar.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here