Oleh: Pri Afifah (co.Founder literasiyun.id)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Generasi Z sering kali menjadi sasaran berbagai stigma. Mereka dicap sebagai generasi yang rapuh, mudah mengeluh, kurang tahan menghadapi tekanan, bahkan sering bergantung pada pengakuan media sosial. Berbagai istilah seperti strawberry generation kerap disematkan kepada mereka. Padahal, jika dicermati lebih dalam, persoalannya bukan semata terletak pada karakter generasinya. Mereka justru tumbuh di tengah dunia yang dipenuhi dengan ketidakpastian, sehingga rasa cemas menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Data menunjukkan bahwa kegelisahan tersebut bukan sekadar persepsi. GoodStats melaporkan sekitar 60 persen Generasi Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Kekhawatiran mereka didominasi oleh persoalan ekonomi, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, tingginya biaya hidup, hingga ketidakpastian dalam membangun masa depan (GoodStats 8/5/2026).
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai survei internasional juga menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan dan kesehatan mental. Mereka lahir pada era kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi di saat yang sama harus menghadapi pandemi, konflik geopolitik, inflasi, perubahan iklim, hingga ketidakpastian ekonomi global. Media sosial turut memperbesar tekanan tersebut. Di satu sisi, platform digital membuka ruang belajar, berkarya, dan berjejaring tanpa batas. Namun di sisi lain, media sosial menjadi panggung perbandingan yang tak pernah selesai. Setiap hari, anak muda disuguhi pencapaian orang lain, gaya hidup yang tampak sempurna, dan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis.
Sementara itu, di dunia nyata tantangan yang mereka hadapi tidak kalah berat. Dunia kerja berubah begitu cepat seiring perkembangan teknologi. Persaingan semakin ketat, sementara lapangan pekerjaan yang layak tidak selalu bertambah seiring meningkatnya jumlah lulusan. Harga kebutuhan pokok terus naik, kepemilikan rumah terasa semakin sulit dijangkau, dan biaya pendidikan masih menjadi beban bagi banyak keluarga. Semua ini membentuk rasa cemas kolektif yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan nasihat untuk lebih bersyukur.
Inilah mengapa persoalan kesehatan mental Generasi Z tidak cukup dipandang sebagai masalah individu. Ketika jutaan anak muda merasakan kecemasan yang sama, sesungguhnya ada persoalan yang lebih besar sedang berlangsung. Yang perlu dipertanyakan bukan hanya kemampuan mereka mengelola stres, tetapi juga sistem kehidupan yang membentuk realitas tersebut.
Dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini, keberhasilan manusia lebih banyak diukur dari pencapaian materi. Sejak usia muda, seseorang didorong untuk terus bersaing, menjadi lebih produktif, dan mengejar kesuksesan tanpa henti. Nilai manusia sering kali ditentukan oleh jabatan, pendapatan, atau popularitasnya. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang melelahkan. Mereka yang tertinggal merasa gagal, sedangkan mereka yang berada di depan terus dihantui kehilangan apa yang telah diraih.
Peradaban seperti ini perlahan mengikis jati diri generasi muda. Mereka lebih akrab dengan algoritma daripada nilai-nilai kehidupan, lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada ridha Allah Swt., dan lebih mengenal tren dibandingkan tujuan hidup yang hakiki. Akhirnya mereka mengabaikan peran agama untuk membentuk keperibadian mereka. Tidak mengherankan jika krisis identitas, kesepian, hingga kehilangan makna hidup semakin banyak ditemukan.
Di sisi lain, negara juga belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi. Pendidikan yang berkualitas belum dapat diakses secara merata, lapangan pekerjaan masih terbatas, layanan kesehatan mental belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sementara berbagai kebijakan ekonomi seringkali semakin membebani kehidupan rakyat. Ironisnya, ketika generasi muda mulai menyuarakan kegelisahan mereka, tidak sedikit yang justru memberikan stigma negatif. Mereka dianggap manja, terlalu sensitif, atau tidak tahan menghadapi kehidupan. Padahal, yang mereka rasakan adalah dampak dari persoalan yang bersifat sistemik.
Meski demikian, kecemasan bukan berarti akhir dari segalanya. Justru di balik kegelisahan itu tersimpan potensi besar. Generasi Z dikenal kritis, cepat beradaptasi, serta berani mempertanyakan berbagai ketidakadilan. Mereka tidak mudah menerima keadaan begitu saja. Sikap inilah yang dapat menjadi modal penting untuk menghadirkan perubahan apabila diarahkan kepada jalan hidup yang benar.
Islam memandang bahwa ketenangan hidup tidak lahir dari banyaknya harta ataupun hilangnya seluruh persoalan dunia. Ketenangan sejati lahir dari keimanan kepada Allah Swt. Firman-Nya, yang artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Sang Pencipta merupakan pondasi utama ketenangan jiwa.
Lebih dari itu, Islam membangun generasi melalui pembentukan kepribadian Islam. Mengokohkan pemahaman akidahnya, sehingga mereka menjadi pemuda yang berpikir dan bersikap islami. Sejarah mencatat bagaimana para pemuda pada masa kejayaan Islam tumbuh menjadi pribadi yang kokoh akidahnya, luas ilmunya, dan besar kepeduliannya terhadap umat. Mereka bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga menjadi ilmuwan, dokter, ahli matematika, astronom, dan pemimpin yang memberi manfaat bagi peradaban. Semua itu lahir karena mereka memiliki tujuan hidup yang jelas, yakni menjadikan seluruh aktivitasnya untuk tujuan beribadah kepada Allah Swt. dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan manusia.
Islam juga menetapkan negara sebagai pengurus dan pelindung bagi rakyat. Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, menjaga stabilitas ekonomi, serta menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi yang sehat secara fisik, intelektual, dan spiritual. Dengan demikian, pembinaan generasi bukan hanya menjadi tanggung jawab individu atau keluarga, tetapi juga merupakan kewajiban negara.
Karena itu, solusi atas krisis yang dihadapi Generasi Z tidak cukup hanya berupa seminar motivasi, kampanye kesehatan mental, atau pelatihan pengembangan diri. Semua itu dapat membantu, tetapi tidak akan menyentuh akar persoalan selama sistem kehidupan masih melahirkan ketidakadilan, ketimpangan, dan hilangnya arah hidup. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar menuju sistem yang menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan manusia.
Hari ini, Generasi Z memang sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Namun, mereka juga memiliki peluang besar untuk menjadi generasi perubahan. Kecerdasan, keberanian berpikir kritis, dan kepedulian terhadap berbagai persoalan umat merupakan modal yang sangat berharga. Potensi tersebut akan berkembang optimal ketika dibimbing oleh akidah Islam yang benar dan didukung oleh sistem kehidupan yang menerapkan syariat Allah secara menyeluruh.
Pada akhirnya, masa depan tidak akan berubah hanya karena pergantian generasi. Masa depan akan berubah ketika lahir generasi yang memiliki arah perjuangan yang benar. Maka, kegelisahan hari ini hendaknya tidak berhenti menjadi keluhan, tetapi menjadi titik awal kebangkitan. Sebab, generasi terbaik bukanlah mereka yang hidup di zaman tanpa ujian, melainkan mereka yang mampu menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk kembali kepada Islam dan berjuang menghadirkan kehidupan yang diridhai Allah Swt.
Views: 6


Comment here