Oleh: Fatma Komala (Aktivis Muslimah)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Rasulullah SAW telah mengingatkan umat ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya seorang Imam itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya” (HR. Bukhari).
Namun hari ini, ketika perisai itu tiada, umat terjebak dalam ruang gelap diplomasi palsu. Di tengah merosotnya dukungan publik akibat meluasnya konflik di Timur Tengah, Washington melakukan trik politik dengan memindahkan kemitraan militernya dengan Israel ke dalam birokrasi rahasia Pentagon demi menghindari pengawasan warga dan Kongres. Alih-alih mendengarkan tuntutan publik, rencana “penghentian” bantuan konvensional ini diganti dengan agenda yang lebih berbahaya, yaitu penyatuan teknologi pertahanan permanen dan kewajiban berbagi intelijen, yang secara efektif menyembunyikan kolaborasi AS-Israel ke dalam “kotak hitam” birokrasi agar tidak lagi membutuhkan pemungutan suara tahunan (responsiblestatecraft.org, 17-06-2026).
Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza kini telah melampaui 1.000 jiwa sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2025. Angka fatalitas ini terus meningkat setelah rentetan serangan udara dan artileri yang terjadi hampir setiap hari, termasuk serangan terbaru terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza yang menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina.
Meskipun kesepakatan damai telah berjalan selama beberapa bulan, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa situasi kemanusiaan di wilayah kantong yang terkepung tersebut tetap berada dalam kondisi katastrofis akibat pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang (Aljazeera.com, 18-06-2026).
Tragedi memilukan yang merenggut lebih dari 1.000 nyawa syuhada sejak Oktober 2025 membuktikan bahwa “gencatan senjata” hanyalah muslihat Barat untuk menidurkan opini dunia, sementara zionis terus leluasa menumpahkan darah kaum muslimin. Sangat tidak mungkin mengharapkan keadilan dari Amerika Serikat yang bertindak sebagai penjamin sekaligus penyokong utama persenjataan musuh.
Berharap pada belas kasihan negara penjajah seperti ini adalah kekeliruan besar yang justru melanggengkan penindasan terhadap umat. Sungguh, akar masalah dari penderitaan yang tiada henti ini bukanlah perkara runtuhnya perjanjian damai, melainkan hilangnya junnah (perisai) pelindung kaum muslimin, yaitu Khilafah Islamiyyah yang seharusnya berdiri tegak menjaga kehormatan, jiwa, dan tanah suci umat Islam.
Ironisnya, penderitaan tiada akhir di bumi para nabi ini terus berlangsung di bawah tatapan nanar para penguasa negeri-negeri Muslim di sekitarnya. Terbelenggu oleh sekat nasionalisme semu dan ketakutan pada hukum internasional bentukan Barat, para penguasa negeri Muslim seolah mati rasa. Mereka tega menahan jutaan pasukan dan tank-tank tempur di barak mereka, membiarkan saudara seakidah dibantai tanpa pembelaan militer yang nyata.
Mereka melupakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (dalam kesengsaraan/tanpa pertolongan).”
Membiarkan warga Gaza berjuang sendirian melawan kecanggihan militer zionis, sementara militer kaum Muslimin hanya dijadikan pajangan parade, adalah bentuk nyata dari takhdzul yaitu sikap menelantarkan saudara seakidah yang diharamkan secara mutlak dalam Islam.
Oleh karena itu di tengah absennya pembelaan militer dari para penguasa tersebut, keterpurukan yang menimpa Palestina hari ini menuntut umat Islam untuk segera sadar dan berhenti menggantungkan harapan pada institusi internasional bentukan musuh-musuh Islam. Sungguh sebuah kekeliruan besar jika kita terus berharap pada keadilan peradaban kufur yang nyata-nyata berpihak pada kezaliman entitas zionis. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 118 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ١١٨
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir.”
Pada ayat ini Allah memperingatkan umat Islam agar tidak menjadikan orang kafir sebagai orang kepercayaan dan tidak mengambil teman setia dari kalangan luar yang tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan, karena mereka akan berkhianat. Sudah saatnya umat ini kembali pada solusi Islam yang murni dalam setiap lini kehidupan, memutus segala bentuk ketergantungan politik pada Barat, dan bersandar sepenuhnya pada syariat Allah untuk membebaskan bumi para nabi dari cengkeraman penjajah.
Satu-satunya jalan keluar hakiki untuk mengusir penjajah zionis adalah melalui jalan jihad fii sabilillah, sebuah kewajiban syar’i yang agung dan tidak boleh ditawar lagi. Sebagaimana dijelaskan secara mendalam oleh Syekh Taqiuddin an-Nabhani dalam kitabnya, Nizam al-Islam (Sistem Islam), hukum-hukum Allah harus diterapkan secara totalitas, termasuk dalam urusan pertahanan dan kedaulatan wilayah kaum muslim.
Kekuatan jihad ini akan bangkit berlipat ganda dan tak tertandingi apabila seluruh potensi dunia Islam melebur dalam satu komando kepemimpinan umum. Oleh karena itu, umat harus berjuang bersama mengembalikan institusi Khilafah Islamiyyah, sebab kepemimpinan inilah yang akan menjadi junnah (perisai) yang bertugas menjaga agama serta melindungi setiap jengkal tanah dan kehormatan kaum muslim.
Pada akhirnya, keselamatan Palestina tidak akan pernah lahir dari meja perundingan Washington yang penuh kepalsuan, melainkan dari ketegasan garis jihad di bawah naungan Khilafah. Sebab darah para syuhada tidak butuh ratapan diplomasi Barat, ia menuntut hadirnya kembali junnah (perisai) hakiki umat yang telah lama hilang.
Views: 1


Comment here