Opini

Taubat Nasional Menghadapi Pandemi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Diana Safari, S. Pd (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan)

Wacana-edukasi.com — Penularan Covid-19 sudah berjalan sekitar tujuh bulan. Sampai saat ini belum menunjukan angka penurunan terhadap korban, sebaliknya malah semakin bertambah. Data pemerintah pada Minggu (4/10/2020) pukul 12.00 WIB menunjukkan bahwa terdapat 3.992 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di tanah air kini berjumlah 303.498 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020 (kompas.com/4/10/2020).

Upaya pemerintah dalam pemutusan rantai Covid-19 dianggap gagal. Dengan berbagai kebijakan yang berubah-ubah sampai saat ini tidak membuahkan hasil. Dari imbauan menjaga jarak fisik (physical distancing), kerja dari rumah, belajar dan beribadah di rumah, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta larangan berkumpul dalam jumlah banyak, sudah diikuti masyarakat. Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh sebagian wilayah juga dinilai tidak efektif. Di satu sisi pemerintah membiarkan tenaga kerja asing yaitu China masuk ke Indonesia. Disaat itu pula masyarakat harus disiplin mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap diam di rumah. Belum tuntas penerapan PSBB, pemerintah malah menerapkan New Normal Life. Artinya kehidupan masyarakat sudah berjalan seperti biasa. Yang semula tempat rekreasi dan mall ditutup, penerbangan keluar negeri ditutup, sekarang semuanya berjalan normal. Lihatlah betapa angka penambahan terdampak ovid-19 terus meningkat.

Dalam pembukaan Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2020) Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah Swt. di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berzikir dan taubat. “Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta’ala,” kata Jokowi (merdeka.com/26/9/2020).

Islam memang mengajarkan taubat kepada manusia atas segala kemaksiatan yang pernah dilakukan. Adanya bencana serta wabah penyakit tentunya berkorelasi dengan perilaku manusia di dunia hingga membuat Allah murka. Maka manusia perlu introspeksi diri atas dosa yang telah dilakukan. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).

Bukan hanya taubat saja yang harus dijalankan, namun manusia harus kembali ke syariat Islam yang telah Allah tetapkan. Memegang teguh dengan mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak mengambil hukum Allah (Islam) sebagian dan membiarkan sebagian lainnya. Tetapi berhukum secara kaffah (menyeluruh). Ini bagian dari ketaatan total seorang hamba.

Yang tidak kalah penting sudah optimalkan pemerintah mengerahkan segenap daya dan upaya dalam menangani covid-19? Faktanya, banyak korban yang terkena baik itu dinyatakan positif Covid-19 ataupun meninggal dunia. Banyak pula dari tenaga kesehatan gugur yang berjuang bersama para korban. Belum lagi dampak pandemi yang dirasakan rakyat, dimana mereka kehilangan pekerjaan karena di PHK, jualan sepi dari pembeli sedangkan dapur harus terus mengepul. Walaupun ada bantuan dari pemerintah, tetap tidak bisa mengatasi perekonomian rakyat yang semakin melarat. Rakyat harus dihadapkan dengan bantuan yang berbelit-belit dan tidak tepat sasaran.

Pemerintah hanya berpihak kepada asing aseng dan para kapital yang menguasai sumber daya alam. Dan lebih mementingkan ekonomi daripada nyawa rakyat. Padahal sebelumnya seruan untuk me-lockdown daerah yang terkena wabah sudah sering dilontarkan oleh para pakar tapi tidak didengar oleh pemerintah, karena tidak mau menanggung beban kebutuhan rakyat.

Nabi Muhammad saw sendiri mengatakan “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian-kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim). Wilayah yang tidak terkena wabah tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa dan roda perekonomian pun tidak berhenti.

Berbeda dengan Islam yang pernah diterapkan, bagaimana seorang penguasa yaitu khalifah sangat memperhatikan urusan rakyatnya sekalipun terkena wabah menular. Yaitu pada masa Khalifah Umar bin Khattab, dimana wilayah Syam diserang wabah tha’un amwas. Wabah ini telah menghantarkan kematian pada rakyat biasa bahkan menimpa sahabat Khalifah Umar sendiri. Dikabarkan tidak kurang dari 30.000 rakyat telah meninggal dunia. Oleh Khalifah Umar ra. dipilihlah Amr bin Ash untuk memimpin Syam dan menyelamatkan Syam dari wabah tersebut. Amr bin Ash berkata: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!” Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah tha’un amwas mereda dan hilang sama sekali.

Inilah kondisi dimana ketika Syariat Islam itu diterapkan, ketakwaan manusia kepada Allah yang senantiasa dijaga oleh Daulah mampu membuat mereka taat kepada pemimpin. Khalifah bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Segala kebutuhan rakyat terpenuhi, baik di kondisi ada wabah, krisis, maupun dalam kondisi normal. Dan Syariat Islam terbukti dapat mengatasi seluruh problematika manusia dalam segala aspek kehidupan. Ini hanya terjadi jika Islam diterapkan secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

Wallohualam Bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here