Opini

Solusi Hakiki Kemerdekaan Palestina

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Kunthi Mandasari (Pegiat Literasi)

Wacana-edukasi.com — Normalisasi hubungan UEA dan Isreal menyayat hati rakyat Palestina. Mimpi merdeka semakin jauh dari kenyataan. Pukulan kembali terasa saat Bahrain turut mengikuti langkah UEA. Sebelumnya sudah ada Mesir dan Yordania yang lebih dulu membuka hubungan dengan Israel.

Pasca pengumuman normalisasi hubungan UEA dan Israel, ketegangan antara Palestina dan beberapa negara Teluk meningkat tajam. Bulan lalu, Liga Arab menolak permintaan PA untuk mengadakan pertemuan darurat untuk membahas kesepakatan tersebut. Pihak Palestina telah mengecamnya sebagai tikaman dari belakang dan “pengkhianafggtan terhadap Masjid Al Aqsa, Yerusalem dan masalah Palestina” (kompas.com, 11/09/2020).

Meski jelas normalisasi tersebut sangat melukai Palestina, beberapa negara Muslim justru beranggapan normalisasi sebagai jalan kemerdekaan Palestina. Benarkah demikian? Pengamat bidang militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan Indonesia harus berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini merupakan upaya untuk memudahkan Indonesia melakukan diplomasi dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina.

“Sudah saatnya Indonesia bertindak konkret agar bisa lebih memahami Israel dengan membuka hubungan diplomatik sehingga ada diskusi lebih lanjut,” ujar Connie, (m.republika.com, 26/09/2020)

Kemerdekaan Palestina tak akan pernah terwujud melalui jalan diplomasi. Berbagai perjanjian telah diupayakan, tetapi berujung dengan pelanggaran. Tanah Palestina direbut sejengkal demi sejengkal secara paksa. Darah tertumpah merupakan hal biasa. Tak terhitung jumlah nyawa yang terenggut paksa, baik lelaki, wanita, bahkan anak-anak.

Sayangnya kekuatan ikatan akidah telah luntur dari benak pemimpin-pemimpin kaum Muslim. Mereka lebih suka merapat dan bergandengan mesra dengan negara penjajah. Alasannya jelas, demi syahwat berkuasa di dunia. Meski harus menyakiti saudaranya. Mengingat Israel tumbuh menjadi negara yang disegani di Timur Tengah. Memiliki kecanggihan teknologi termasuk dalam urusan persenjataan. Bukankah sudah kodratnya, jika semut akan mendatangi gula?

Tahukah kalian, kondisi pemimpin kaum Muslim saat ini sama seperti tahun 1099 saat pertama kali kejatuhan Baitul Maqdis. Para pemimpin muslim sibuk dengan keadaan negerinya masing-masing. Rakyatnya pun demikian, tak ada suara, tak ada respon positif untuk menyuarakan pembebasan Al Aqsha. Seperti itu yang diabadikan oleh Ibnu Tughri dalam Kitab “Nujum Az Zahirah” Jilid 5 halaman 150.

Jalan normalisasi tidak akan pernah mewujudkan kemerdekaan Palestina. Justru ini bisa menjadi kekalahan Palestina baik secara sukarela maupun terpaksa. Baru bulan kemarin UEA secara resmi melakukan normalisasi dengan Israel, sejumlah bantuan untuk Palestina dihentikan. Padahal kita tahu selama ini Palestina diblokade oleh Israel dari dunia luar.

Sungguh, normalisasi merupakan pengkhianatan keji yang dilakukan oleh kaum Muslim terhadap saudaranya. Padahal Rasulullah saw bersabda:

”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Lunturnya ikatan akidah Islam tak lepas dari runtuhnya Turki Utsmani. Negara-negara kaum Muslim terpecah-pecah menjadi negara bangsa. Pemikirannya pun telah disusupi oleh tsaqofah asing. Sekularisme mendarah daging, hingga aturan berlandaskan pada ide kebebasan. Efeknya lahirlah masyarakat individualis. Termasuk negara yang turut serta mementingkan kondisi dalam negerinya masing-masing.

Lebih memprihatinkan, penerapan negara bangsa juga menjadi tembok pembatas untuk membantu negara lain. Meski ada negara yang berkeinginan membantu selalu terbentur urusan diplomatik. Walhasil, negara bangsa hanya menjadi penghalang adanya persatuan umat. Negara bangsa juga menjadikan negara kaum muslim lemah karena terpecah-pecah sehingga mudah ditindas.

Padahal Alquran telah mengisyaratkan bahwa kaum Muslim merupakan umat yang satu. Hal ini hanya bisa diwujudkan melalui sistem khilafah. Sistem yang pernah menyatukan dua pertiga dunia selama lebih dari tiga belas abad lamanya. Menghapus perbedaan bahasa, ras, suku, bangsa, maupun agama. Disatukan oleh perasaan, pemikiran dan peraturan Islam yang melahirkan masyarakat khas.

Dari rahim sistem inilah lahir para pembebas Baitul Maqdis. Seperti yang tercatat dalam sejarah, pada tahun 1099 Al-aqsha jatuh ke tangan pasukan Salib. Menurut mitos, pasukan Salib adalah pasukan yang tak terkalahkan. Namun, mitos itu terpatahkan oleh sosok Imaduddin Zanki. Salah satu benteng pasukan Salib direbut dengan gagah oleh kaum muslim melalui kekuatan militer. Kemudian, perjuangannya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki.

Perjuangan lintas generasi pun terjadi. Estafet perjuangan Nuruddin Zanki dilanjutkan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Di tangan Shalahuddin Al Ayyubi lah perjuangan pembebasan al-Aqsha disempurnakan melalui perang Hittin. Berkat kejeniusan taktik Shalahuddin, pasukan Salib dibuat bertekuk lutut. Setelah 88 tahun penantian panjang, Baitul Maqdis bisa dibebaskan.

Persatuan menjadi kunci utamanya. Selama dunia Islam terpecah belah, Palestina tidak akan pernah kembali ke pangkuan kaum Muslimin. Oleh karenanya, penting untuk mewujudkan persatuan umat muslim melalui khilafah. Kemudian jihad fii sabilillah diemban untuk membebaskan Baitul Maqdis. Sebagaimana pernah dilakukan oleh para khalifah terdahulu.
Wallahu a’lam bishshawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here