Oleh: Ahsani An Najma (Penulis, Aktivis Muslimah, dan Pemerhati Generasi)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Generasi Z atau generasi yang sering disebut Gen Z, merupakan generasi yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010. Generasi ini hidup di zaman yang menawarkan begitu banyak pilihan. Teknologi berkembang pesat, informasi berada dalam genggaman, berbagai profesi baru bermunculan, dan media sosial memungkinkan siapa pun menampilkan versi terbaik dirinya kepada dunia.
Namun, di balik berbagai kemudahan teknologi dan kebebasan memilih yang mereka nikmati, ada paradoks yang tidak bisa diabaikan. Mereka terhimpit ketidakamanan finansial dan tekanan hidup. Mereka dituntut mandiri, produktif, sukses, memiliki karier yang baik, mengikuti perkembangan zaman, menjaga kesehatan mental, sekaligus tampil bahagia di media sosial.
Di satu sisi, generasi yang disebut paling terkoneksi, justru menghadapi ketidakamanan finansial. Deloitte Global melalui 2025 Gen Z and Millennial Survey menemukan bahwa 48% Gen Z secara global menyatakan mereka tidak merasa aman secara finansial. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan survei tahun sebelumnya yang berada di angka 30%. Survei tersebut melibatkan 23.482 responden Gen Z dan milenial di 44 negara.
Temuan ini menunjukkan, keresahan finansial Gen Z bukan sekadar persoalan individu yang tidak mampu mengatur uang. Dalam survei Deloitte 2025, sekitar separuh Gen Z juga dilaporkan masih hidup dari gaji ke gaji, menunjukkan kuatnya tekanan finansial yang mereka hadapi.
Menariknya, ketika kondisi keuangan sedang terasa berat, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru tetap jalan, bahkan semakin meningkat. Di tengah biaya hidup yang makin mahal dan masa depan yang belum pasti, mengapa justru uang lebih banyak dikeluarkan untuk mencari kesenangan? Bagi sebagian Gen Z, self-reward dan healing telah berubah menjadi kebutuhan emosional setelah menghadapi tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, serta kecemasan masa depan.
Secangkir kopi mahal, makan di restoran, membeli skincare, atau sekedar ‘healing’ dianggap sebagai bentuk self reward. Masalahnya, ketika kebahagiaan dicari melalui konsumsi, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran konsumtif yang tidak berkesudahan. Persoalan Gen Z ini bukan hanya tentang cara mengelola uang, melainkan tentang sistem yang membentuk cara pandang kehidupan mereka.
Terjerat Gaya Hidup
Pertama, tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z bukan semata-mata persoalan individu, melainkan berkaitan dengan sistem ekonomi yang berlaku. Sistem yang berlaku hari ini ialah Kapitalisme. Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi, tetapi juga sebagai sistem yang mempengaruhi cara kita bekerja, belajar, membeli, mencari kebahagiaan, bahkan memandang kesuksesan. Dalam sistem kapitalisme, kebutuhan hidup terus meningkat, sementara pendapatan tidak selalu mampu mengimbanginya.
Negara pun cenderung melepaskan tanggung jawab dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat. Akibatnya, generasi muda dituntut untuk menyelesaikan sendiri berbagai persoalan kehidupannya yakni mencari pekerjaan, memenuhi kebutuhan, membangun masa depan, hingga menghadapi ketidakpastian ekonomi. Gen Z akhirnya tumbuh dalam kondisi yang menuntut mereka untuk survive bahkan ketika pondasi ekonominya tidak memberikan rasa aman.
Kedua, tekanan ekonomi tersebut semakin diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan konsumsi dan kesenangan sebagai jalan keluar dari tekanan hidup. Muncullah budaya self-reward, healing, dan berbagai bentuk konsumsi hedonis yang dianggap sebagai kebutuhan emosional. Ketika lelah, seseorang diajak untuk memberi hadiah kepada dirinya. Ketika stres, ia diarahkan untuk healing. Ketika merasa tertinggal, ia terdorong mengikuti tren.
Media sosial kemudian memperkuat siklus tersebut dengan terus menghadirkan tren dan standar kehidupan yang membuat seseorang takut tertinggal atau dikenal sebagai FOMO (fear of missing out). Akibatnya, konsumsi tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dorongan emosional dan keinginan untuk mengikuti gaya hidup yang sedang populer.
Ketiga, di balik tekanan ekonomi dan budaya konsumtif tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis tujuan hidup. Ketika manusia tidak memahami hakikat penciptaannya, kebahagiaan akhirnya dicari dari apa yang tampak dan terasa secara materi. Ukuran bahagia menjadi memiliki barang tertentu, menikmati pengalaman tertentu, mengikuti tren, atau memperoleh kesenangan sesaat. Padahal, kebahagiaan hakiki tidak terletak pada banyaknya kenikmatan yang dikonsumsi, tetapi pada tercapainya ridha Allah dan kemuliaan Islam. Karena itu, persoalan Gen Z pada akhirnya bukan sekadar persoalan ekonomi atau gaya hidup, tetapi juga persoalan paradigma tentang kehidupan.
Jika persoalannya hanya dianggap sebagai persoalan mental individu, solusinya akan berhenti pada healing. Jika dianggap hanya persoalan keuangan, solusinya berhenti pada financial planning. Jika dianggap hanya persoalan lapangan pekerjaan, solusinya berhenti pada program ekonomi. Padahal persoalannya lebih besar. Kita membutuhkan perubahan paradigma berpikir dan sistem kehidupan yang dapat menyolusi seluruh problematika kehidupan generasi.
Islam Memberi Jalan
Islam bukan hanya agama spiritual, karena Islam memiliki aturan hidup yang komprehensif. Termasuk memiliki aturan yang mengatur kehidupan masyarakat dan negara. Pertama, Islam memiliki mekanisme untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat melalui negara. Dalam sistem pemerintahan Islam yang dinamakan daulah khilafah, negara berkewajiban mengelola sumber daya alam yang merupakan milik umum untuk kemaslahatan rakyat. Negara juga memastikan tersedianya lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap laki-laki yang mampu bekerja. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan hidup tidak sepenuhnya dibebankan kepada individu. Generasi muda, termasuk Gen Z, tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi persoalan ekonomi, tetapi mendapatkan jaminan melalui pengaturan ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam.
Kedua, Islam tidak membiarkan gaya hidup hedonis berkembang tanpa batas. Islam memiliki aturan yang menjaga masyarakat dari berbagai pemikiran dan gaya hidup yang merusak. Generasi tidak dibiarkan terus-menerus terpapar konten yang menanamkan sekularisme, kapitalisme, konsumerisme, dan turunannya. Media dalam Khilafah diarahkan untuk menjalankan fungsi edukasi, memberikan informasi yang benar, serta meningkatkan ketakwaan masyarakat. Dengan demikian, media tidak sekadar menjadi sarana untuk mendorong konsumsi dan mengejar tren, tetapi menjadi instrumen untuk membangun pola pikir dan perilaku masyarakat yang sesuai dengan Islam.
Ketiga, Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan jawaban mendasar tentang tujuan hidup manusia. Manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar materi, menikmati kesenangan, atau mengikuti tren. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Dengan akidah yang kokoh dan pemahaman yang benar tentang tujuan hidup, generasi tidak akan menjadikan kenikmatan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan. Mereka akan memiliki visi yang agung nan mulia, yakni menjalani kehidupan dalam ketaatan kepada Allah dan menjadi generasi pembangun peradaban Islam. Wallahualambisshowab
Views: 2


Comment here