Opini

Menyoal Potensi Bonus Demografi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Rahmiwati (Aktivis Muslimah Idiologis)

wacana-edukasi.com, OPINI– Masa depan suatu bangsa ada ditangan para pemuda. Pemuda dengan segala potensi yang dimilikinya memberikan ruang bagi kejayaan dan terwujudnya bangsa yang besar. Potensi ini haruslah dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin jika tidak ingin suatu negara kehilangan generasi pemuda yang mampu meraih cita-cita tertinggi suatu negara.

Setiap tahun, negeri ini menjadikan moment Hari Sumpah Pemuda sebagai hari yang membangkitkan gelora perjuangan dan semangat para pemuda untuk kemaslahatan negeri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 berkat bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2030. Untuk itu Jokowi mengajak masyarakat bersama memajukan Indonesia.

Senada dengan pidato presiden, Sekretaris Kabinet (Seskab), Pramono Anung mengharapkan Peringatan ke-95 Hari Sumpah Pemuda (HSP) Tahun 2023 dapat menjadi momentum untuk meningkatkan persatuan para pemuda untuk memajukan Indonesia. Ini sejalan dengan tema HSP ke-95 yaitu Bersatu Memajukan Indonesia. “Tema peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-95 kali ini sebuah seruan kepada para pemuda agar bersatu padu membangun bangsa dan negara ini, agar Indonesia menjadi negara maju,” ujar Pramono. (BeritaSatu.com/28/10/2023)

Bonus Demografi

Berdasarkan data penduduk saat ini, jika dibandingkan jumlah penduduk berdasarkan usia, maka Jumlah pemuda di Indonesia sangatlah besar yaitu sebanyak 64,92 juta jiwa pada 2021. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah itu setara dengan 23,90 persen dari total populasi Indonesia. Dengan penduduk muslim Indonesia yang berjumlah 237,53 juta jiwa atau 86,9 persen dari populasi penduduk Indonesia, maka jumlah pemuda muslim juga sangatlah besar. Maka sangat wajar memanfaatkan bonus demografi pemuda negeri ini menjadi potensi besar untuk merelealisasikan proyek bersatu memajukan Indonesia.

Sayangnya, saat ini kita melihat banyak fenomena yang memprihatinkan tentang generasi muda kita. Pemuda menjadi pelaku kekerasan hingga pembunuhan, pecandu narkoba, pelaku seks bebas, penyuka sesama jenis, serta banyak yang mengalami masalah kesehatan mental. Parahnya, keadaan tersebut terjadi bukan karena rendahnya kecerdasan intelektual pemuda, tapi justru mereka yang berprestasi secara akademik justru menjadi perusak. Disisi lain, ada pemuda muslim yang merasa in-secure dengan identitas agamanya, mental illness,ada yang bangga dengan gaya liberalnya serta masa bodoh dengan kerusakan di sekitarnya.

Fenomena generasi muda saat ini, nampaknya tak akan bisa sejalan dengan cita-cita dan harapan negeri. Betapa tidak, kerapuhan generasi muda saat ini disebabkan karena telah terbajaknya potensi mereka yang harusnya membangkitkan bangsa dan negara.

FFakta yang terjadi, terdapat kurikulum pendidikan yang harusnya mencerdaskan pemuda untuk mengetahui tujuan hidup, tapi justru abai terhadap agama Islam, phobia dan malah menjadi “ penghujat” agamanya sendiri. Salah satu survei nasional menunjukkan bahwa generasi milenial dan Z rendah dalam pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat dan mengaji Quran.

Memprihatinkan, ada sebagian pemuda yang ingin hijrah kaffah mendalami dan mengamalkan perintah agama, malah dituding radikal, ekstrem bahkan dilabel teroris. Inilah yang terjadi pada Sistem Kapitalis saat ini.

Penerapan Sistem Kapitalis–Sekuler benar-benar berhasil menanamkan nilai materialis sebagai tujuan hidup, minus nilai ruhiah. Paham materialisme mengajarkan kepada para pemuda bahwa sukses itu ketika mereka juara di ajang seni-budaya dengan suara dan goyangannya, juara olahraga dengan otot dan tenaganya, juara olimpiade sains dengan otaknya dan lain sebagainya.

Potensi berpikir kritis, inovatif dan semangat juang pemuda muslim dibajak sedemikian rupa oleh kaum kolonialis, orientalis dan pembuat keputusan global. Mereka semua tidak ragu-ragu menggunakan senjata budaya, media, uang dan militernya untuk memperdayai pemuda. Tujuannya agar mereka tidak punya peran atau kepentingan dalam mendukung Islam.

Mereka itulah yang telah memproduksi generasi umat yang tersia-siakan potensinya, menjadikan kerusakan generasi muda yang berlangsung masif telah memunculkan ancaman besar terhadap eksistensi umat. Padahal, generasi muda saat ini kelak akan menjadi para pemimpin umat, pembaru dan agent of change yang akan mengantarkan umat sebagai umat terbaik bagi dunia. Oleh karenanya, kerusakan generasi muda saat ini berarti kerusakan umat pada masa mendatang.

Solusinya Islam

Peletakan dasar-dasar keimanan adalah kunci utama bagi generasi. Ada ungkapan bijak, “Jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, pasti sibuk dalam kebatilan.” Karena itu, dengan kesadaran pilihan hidup yaitu terikat hukum syara, maka tak akan membiarkan hidup pemuda dalam kesia-siaan. Selain itu kehidupan masyarakat yang saling beramar ma’ruf nahy mungkar serta bersih dari berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukkan masyarakat dalam kebatilan, harus diwujudkan.

Nabi SAW menitahkan, “Min husni Islami al-mar’i tarkuhu ma la ya’nihi.” (Diantara ciri baiknya keislaman seseorang, ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya). Boleh jadi sesuatu yang tidak manfaat itu mubah, tetapi sia-sia. waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang digunakannya pun hilang percuma.

Agar masyarakat, khususnya generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik membaca, mendengar atau menghafal Al Quran, hadits, kitab-kitab tsaqafah para ulama’, atau berdakwah di tengah-tengah umat dengan mengajar di masjid, kantor, tempat keramaian, dan sebagainya. Mereka juga bisa menyibukkan diri dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, berjihad, atau aktivitas yang lain.

Kerusakan generasi bersifat sistemik dan terstruktur. Merusak generasi muslim merupakan agenda besar bagi negara-negara penjajah. Maka jika kita hanya berharap menyerahkan solusinya hanya kepada keluarga dan masyarakat, pastilah tidak akan mampu menyelesaikan problem generasi muda. Karenanya, upaya menyelamatkan generasi tidak bisa dilakukan oleh individu atau institusi tertentu, melainkan harus menjadi gerakan bersama seluruh umat dengan diwadahi negara.

Yang mana negara berperan dalam membentengi generasi muda dengan menghapuskan segala fasilitas-fasilitas yang melenakan bahkan menghancurkan mental para pemuda dan mengatur semua aspek kehidupan, baik aspek pendidikan, sosial, ekonomi serta politik, agar sejalan dengan cita-cita terbentuknya generasi tangguh membawa peradaban gemilang. Semua hal tersebut dapat terwujud dalam sistem pemeritahan Islam. Semoga saja sistem Islam kembali tegak. Wallahu’alam bisshowwab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 8

Comment here